Tarekat Naqsyabandiyah

April 17, 2007

Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebaran nya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim (meskipun sedikit di antara orang-orang Arab) serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14, Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya mendapat dorongan baru dengan munculnya cabang Mujaddidiyah, dinamai menurut nama Syekh Ahmad Sirhindi Mujaddidi Alf-i Tsani (“Pembaru Milenium kedua”, w. 1624). Pada akhir abad ke-18, nama ini hampir sinonim dengan tarekat tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah Utsmaniyah, dan sebagian besar Asia Tengah. Ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari’at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten).

Sejarah
Kebanyakan orang Naqsyabandiyah Mujaddidiyah dalam dua abad ini menelusuri keturunan awal mereka melalui Ghulam Ali (Syekh Abdullah Dihlavi [m. 1824]), karena pada awal abad ke-19 India adalah pusat organisasi dan intelektual utama dari tarekat ini. Khanaqah (pondok) milik Ghulam Ali di Delhi menarik pengikut tidak hanya dari seluruh India, tetapi juga dari Timur Tengah dan Asia Tengah. Hingga kini Khanaqah masih tetap (pernah mengalami masa tidak aktif akibat perampasan Delhi oleh orang Inggris pada tahun 1857). Namun fungsi Pan-Islami-nya sebagian besar diwarisi oleh para wakil dan pengganti Ghulam Ali yang menetap di tempat-tempat lain di Dunia Muslim. Yang terpenting adalah para syekh yang tinggal di Makkah dan Madinah: kedua kota suci ini menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah di banyak tanah Muslim sampai terjadinya penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah pada 1925, yang mengakibatkan dilarangnya seluruh aktivitas sufi. Demikianlah, Muhammad Jan Al-Makki (w. 1852), wakil Ghulam Ali di Makkah, menerima banyak peziarah Turki dan Basykir, yang kemudian mendirikan cabang-cabang baru Naqsyabandiyah di kampung halamannya. Pengganti Ghulam Ali yang pertama di Khanaqah Delhi, Abi Sa’id, melewatkan beberapa waktu di Hijaz untuk menerima pengikut baru. Anak dan pengganti Abu Sa’id, Syekh Ahmad Sa’id, memilih tinggal di Madinah setelah suatu peristiwa besar pada tahun 1857, memindahkan arah

Naqsyahbandiyah India ke Hijaz untuk sementara. Ketiga putra Ahmad Sa’id sama-sama memperoleh warisannya: dua orang pergi ke Mekkah dan menarik pengikut dari India serta Turki di sana. Sementara yang ketiga, Muhammad Mazhhar, tetap di Madinah dan mengelola pengikut yang terdiri dari ulama dan pengikut dari India, Turki Daghestan, Kazan, dan Asia Tengah. Namun, yang paling penting dari pengikut Muhammad Mazhhar adalah seorang Arab, Muhammad Salih al-Zawawi dan murid-muridnya yang tidak merasakan kebencian, yang umumnya ditujukan kepada Ulama Pribumi terhadap orang-orang non Arab dalam masyarakat mereka.

Sebagai guru fiqih Syafi’i, dia memiliki akses khusus terhadap orang-orang Indonesia dan orang-orang Melayu yang berkumpul di Hijaz, serta berkat al-Zawawi dan murid-muridnyalah Naqsyabandiyah dikenal secara serius di Asia Tenggara. Di Pontianak di pantai barat Kalimantan, masih terdapat berbagai jejak garis Naqsyabandiyah yang terpancar dari Hijaz ini.

Dorongan yang membawa Naqsyabandiyah ke zaman modern berasal dari pengganti Ghulam Ali yang lainnya. Maulana Khalid al-Bagdhadi (w. 1827). Beliau mempunyai peranan yang penting di dalam perkembangan tarekat ini sehinga keturunan dari para pengikutnya dikenal sebagai kaum Khalidiyah, dan dia kadang-kadang dipandang sebagai “Pemburu” (Mujaddid) Islam pada abad ke-13, sebagaimana Srihindi dipandang sebagai pemburu Milenium kedua. Khalidiyah tidak terlalu berbeda dengan para leluhurnya Mujaddidiyah. Yang baru adalah usaha Maulana Khalid untuk menciptakan tarekat yang terpusat dan disiplin, terfokus pada dirinya pribadi, dengan cara ibadah yang disebut Rabithah (“petautan”) atau konsentrasi pada citra Maulana Khalid sebelum berdzikir. Usaha ini selanjutnya terkait dengan sikap politik, aktivitas, yang bertujuan untuk mengamankan supremasi syari’at dalam masyarakat Muslim dan menolak agresi Eropa. Setelah kematian Maulana Khalid, tidak ada kepemimpinan yang terpusat, tetapi sikap politik yang mendasari upaya tersebut tetap hidup.

Lahir di Distrik Syahrazur di Kurdistan Selatan pata 1776, Maulana Khalid melewatkan waktu sekitar satu tahun bersama Ghulam Ali di Delhi sebelum kembali ke kampung halamannya pada 1881 dengan “wewenang lengkap dan mutlak” sebagai wakilnya. Sebelum meninggalkan Delhi, Maulana Khalid memberi tahu gurunya bahwa tujuan utamanya adalah untuk “mencari dunia ini demi agama”, dari tiga tempat tinggalnya setelah itu Sulaimaniyah, Bagdad dan Damaskus, beliau mendirikan jaringan 116 wakil, yang masing-masing dengan tanggung jawab yang jelas batas geografisnya. Murid-muridnya mencakup tidak hanya anggota-anggota hierarki agama pemerintahan “Utsmaniyah”, tetapi juga sejumlah gubernur provinsi dan tokoh militer yang sangat penting dalam memajukan wibawa Khalidiyah adalah wakil kedua Maulana Khalid di Istambul, Abdul al-Wahhab al-Susi, yang merekrut Makkizada Musthafa Asim, syekh al-Islam masa itu ke dalam tarekat ini. Usaha untuk meraih pengaruh atas kebijakan Utsmaniyah yang disiratkan oleh berbagai upaya ini tidak pernah benar-benar berhasil.

Namun, terjadi semacam penyejajaran antara Khalidiyah dengan negara Utsmaniyah pada masa pemeritahan Abdulhamid II, yang berteman dengan Khalidiyah terkemuka di Istambul, Ahmed Ziyauddin Gumushanevi (w. 1893). Kepentingan Gumushanevi jauh mentransendenkan yang politis: tulisannya yang dimiliki banyak mengenai sufisme pada umumnya dan Naqsyabandiyah pada khususnya, mewakili puncak sastra sufi Utsmaniyah besar yang terakhir. Sebaliknya, Adbulhamid sangat ditentang oleh Syekh Naqsyabandiyah yang menonjol lainnya, Muhamad As’ad dari Ibril wilayah Irak Utara.

Pengaruh Maulana Khalid mungkin paling nampak di kampung halamannya, Kurdistan. Cabang Naqsyabandiyah yang beliau perkenalkan di sana sepenuhnya memudarkan pengaruh “Qadiriyah”, yang sebelumnya merupakan tarekat paling menonjol di wilayah Kurdistan, dan memunculkan sejumlah keluarga sebagai pemimpin turunan tarekat itu, serta memegang kepemimpinan dalam urusan negara Kurdistan. Hubungan keturunan Naqsyabandiyah dengan separatisme Kurdistan, dan kemudian nasionalisme, pertama kali terlihat dalam pemberontakan besar Kurdistan 1880 yang dipimpim oleh Ubaidillah dari Syamdinan, yang berhasil membebaskan diri, untuk sementara, sebagian besar orang Kurdistan Iran dari kendali Iran. Keluarga Barzani juga mampu mendominasi ungkapan nasionalisme Irak selama beberapa puluh tahun melalui wibawa Naqsabandiyah yang diwarisinya.

Khalidiyah juga mengakar dengan cepat dan tepat di Daghestan, wilayah pegunungan yang terletak di pertemuan Kaukasus dan Rusia Selatan.

Wilayah ini pertama kali diperkenalkan dengan Naqsyabandiyah pada akhir abad ke-18, tetapi kedatangan Khalidiyah yang membuat wilayah itu menjadi daerah Naqsyabandi semasa hidup Maulana Khalid. Penekanan ganda Khalidiyah di Daghestan adalah penggantian hukum-kebiasaan (cotumary law) non Islam menjadi syari’at dan perlawanan terhadap pemerintah Rusia. Pemimpin Naqsyabandiyah pertama untuk orang Daghestan adalah Ghazi Muhammad, yang meninggal dibunuh oleh orang Rusia pada 1832, dan penggantinya dua tahun kemudian mengalami nasib yang sama. Sebaliknya Syamil, yang kemudian mengambil kepemimpinan gerakan itu, mampu menahan Rusia hingga 159, salah satu perlawanan Muslim terhadap imperialisme Eropa yang terlama dan terkenal. Pengaruh Naqsyabandiyah di Daghestan ternyata sulit dicabut; kaum Naqsyabandiyah aktif dalam pemberontakan 1877 oleh Daghestan dan Chechenia yang berjaya pada rentang waktu antara runtuhnya tsar Rusia dan pembentukan pemerintahan Soviet.

Wilayah populasi Muslim lain yang diperintah oleh Rusia yang ternyata menerima Khalidiyah adalah Volga-Ural (sekarang Tatarstan dan Baskira).

Wakil Maulana Khalid di Makkah, Abdullah Makki (Erzincani), menerima seorang murid dari Kazan, Fatsullah Menavusi; namun, yang pengaruhnya terbukti menentukan adalah pengikut Ghumushaveni asal Basykar, Syekh Zainullah Rasulev dari Troisk. Semula Rasulev adalah pengikut garis mujaddidiyah yang pergi ke Bukhara, kemudian mengalihkan kesetiaanya kepada Gumushaveni setelah berkunjung ke Istambul pada 1870. Ketika kembali, dia mempropagandakan Khalidiyah sehingga membangkitkan permusuhan dari para pesaingnya dan menimbulkan kecurigaan dari pihak berwenang Rusia; hal ini mengakibatkan Rasulev dipenjara dan diasingkan. Kemudian bebas lagi pada 1881 dia memperkukuh dan memperkuat pengikutnya sehingga ratusan murid berada di bawah pengaruhnya; mereka tidak hanya tersebar diwilayah Volga-Ural, tetapi juga di Kazakhstan dan Siberia. Tatkala kematian tiba pada 1917, dia disebut sebagai “raja spiritual rakyatnya”, dan setelah kematiannya wibawa Rasulev tetap terus bergaung sampai pada periode Soviet: tiga kepala Direktorat Spiritual untuk kaum Muslim Rusia Eropa dan Siberia yang berfungsi di bawah pengawasan Soviet adalah murid-murid Rasulev.

Akhirnya, Khalidiyah memastikan pula penanaman pengaruh Naqsyabandiyah secara permanen di dunia Melayu Indonesia. Abdullah Makki mempunyai murid dari Sumatera yaitu Ismail Minangkabawi. Setelah lama menetap di Makkah, Minangkabawi menetap di Penyengat wilayah kepulauan Riau. Di sana, ia memperoleh kesetiaan dari keluarga pemerintahan, yang sudah mulai diperkenalkan pada Naqsyabandiyah oleh Duta-duta pemerintah yang dikirim dari Madinah oleh Muhammad Mazhhar. Dia juga pergi ke Melayu hingga Kedah, mempropagandakan Khalidiyah ke mana pun ia pergi. Namun usahanya merupakan rintisan, dan digantikan oleh kegiatan dua Khalidiyah yang tinggal di Makkah yaitu Khalil Hamdi Pasya dan Syekh Sulaiman Zuhdi. Kenyataan bahwa kedua orang ini adalah pesaing, saling menuduh bahwa yang lainnya adalah menyimpang dari prinsip Naqsyabandiyah, menyiratkan betapa dunia Melayu Indonesia menjadi sumber pengikut yang kaya untuk Naqsyabandiyah. Dalam jangka panjang, Sulaiman Zuhdi lebih berhasil dari pada pesaingya, hingga Jabal Abi Qubais di Makkah, tempat dia tinggal, dipandang sebagai sumber seluruh Tarekat Naqsyabandiyah di Asia Tenggara. Di antara murid ini banyak yang mendirikan Khalidiyah di berbagai tempat di Sumatera, Jawa dan Sulawesi, yang paling penting adalah Abdil Wahab Rokan (w. 1926). Beliau dikirim dari Makkah pada tahun 1868 dengan misi untuk menyebarkan Khalidiyah di seluruh Sumatera, dari Aceh sampai Palembang — misi yang beliau dilaksanakan dengan sukses besar adalah dari pesantrennya di Bab Al-Salam, Lengkat-Tinggal menetap selama tiga tahun di Johor, dan memungkinkan dia untuk memperluas pengaruhnya lebih jauh ke Semenanjung Malaya.

Praktik Naqsyabandiyah di Dunia Melayu Indonesia sejak dini sangat berbeda dengan adanya ritual yang disebut dengan suluk, yakni menyendiri dengan jangka waktu yang berbeda-beda dan sebagian diiringi dengan puasa. Asal usul praktik ini sangat berbeda dengan tradisi Naqsyabandiyah yang tidak diketahui. Putusnya hubungan dengan Makkah akibat penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah makin menambah ciri khas bagi kaum Naqsyabandiyah di Melayu Indonesia.

Peran Politik
Tidak semua perkembangan formatik yang berkenaan dengan Naqsyabandiyah berkaitan dengan Ghulam Ali Dihlavi dan keturunannya. Salah satu keturunan dari Ahmad Sirhindi didirikan di Syur Bazar di pinggiran Kabul pada pertengahan abad ke-19, dan para anggota cabang ini memainkan peranan penting dalam urusan negara Afghanistan hingga pembentukan negara pasca Komunis pertama pada tahun 1991. Di tempat lain di Asia Tengah, Naqsyabandiyah dari berbagai keturunan menonjol dalam perlawanannya terhapap Rusia dan sesudahnya. Dengan demikian pertahanan Goktepe oleh para Turkmen Akhel-Tekke diarahkan oleh seorang pengikut Naqysabandiyah, yaitu Muhammad Ali Ihsan (Dukchi Ikhsan). Naqsyabandiyah juga memimpin pemberontakan melawan pemerintah Cina di Xinjing pada tahun 1863 dan 1864 dan di Shannxi serta Gunsu antara 1862 dan 1873.

Ciri khas yang ditunjukan oleh kelompok Naqyabandiyah ini sering digambarkan dalam negara modern, terutama di Turki. Namun, di Turkli perlawanan Naqsyabandiyah terhadap sekulerisme selalu bersifat pasif (kecuali pemberontakan Sa’id). Penggambaran peristiwa Menemen 1931 sebagai konspirasi Naqsyabandiyah yang menyebabkan Syekh Muhammad As’ad (Mehmed Esad) dihukum mati secara adil, sekarang diragukan.

Sejumlah pemimpin Naqsyabandiyah menjadi orang penting sebagai guru spiritual dan intelektual: Mahmud Sami Ramazanoglu (w. 1984), pengganti Syekh Muhammad As’ad. Mehmed Zahid Kotku (w.1980), keturunan spiritual dari Gumushanevi bersama penggantinya Esad Gosan (sampai sekarang masih hidup) dan Resit Erol (w. 1994). Kegiatan mengajar para syekh ini beserta syekh lainnya secara alamiah memiliki pengaruh politik, namun cenderung mengarah pada pengintegrasian Naqsyabandiyah ke dalam struktur Republik Turki, dan bukan penolakan terhadap struktur tersebut. Penting dicatat bahwa beberapa pemimpin Naqsyabandiyah hadir secara menonjol di pemakaman Presiden Turki, Turgut Ozal pada 1993.

Kaum Naqsyabandiyah dalam jumlah dan kekuatan intelektualnya, tidak dapat digambarkan secara seragam dalam Dunia Islam sekarang ini.

Pengaruh mereka mungkin paling kuat di Turki dan wilayah Kurdistan, dan yang paling lemah adalah di Pakistan. Pada masa pemerintahan Soviet, pengaruh Naqsyabandiyah sangat terasa pada gerakan “Islam bawah tahan” di Kaukasus Asia Tengah. Namun, pada akhirnya pemerintahan Soviet tidak diikuti perkembangan Naqsyabandiyah di permukaan.

Berbagai Ritual dan Teknik Spiritual Naqsyabandiyah
Seperti tarekat-tarekat yang lain, Tarekat Naqsyabandiyah itu pun mempunyai sejumlah tata-cara peribadatan, teknik spiritual dan ritual tersendiri. Memang dapat juga dikatakan bahwa Tarekat Naqsyabandiyah terdiri atas ibadah, teknik dan ritual, sebab demikianlah makna asal dari istilah thariqah, “jalan” atau “marga”. Hanya saja kemudian istilah itu pun mengacu kepada perkumpulan orang-orang yang mengamalkan “jalan” tadi.

Naqsyabandiyah, sebagai tarekat terorganisasi, punya sejarah dalam rentangan masa hampir enam abad, dan penyebaran yang secara geografis meliputi tiga benua. Maka tidaklah mengherankan apabila warna dan tata cara Naqsyabandiyah menunjukkan aneka variasi mengikuti masa dan tempat tumbuhnya. Adaptasi terjadi karena keadaan memang berubah, dan guru-guru yang berbeda telah memberikan penekanan pada aspek yang berbeda dari asas yang sama, serta para pembaharu menghapuskan pola pikir tertentu atau amalan-amalan tertentu dan memperkenalkan sesuatu yang lain. Dalam membaca pembahasan mengenai berbagai pikiran dasar dan ritual berikut, hendaknya selalu diingat bahwa dalam pengamalannya sehari-hari variasinya tidak sedikit.

Asas-asas
Penganut Naqsyabandiyah mengenal sebelas asas Thariqah. Delapan dari asas itu dirumuskan oleh ‘Abd al-Khaliq Ghuzdawani, sedangkan sisanya adalah penambahan oleh Baha’ al-Din Naqsyaband. Asas-asas ini disebutkan satu per satu dalam banyak risalah, termasuk dalam dua kitab pegangan utama para penganut Khalidiyah, Jami al-’Ushul Fi al-’Auliya. Kitab karya Ahmad Dhiya’ al-Din Gumusykhanawi itu dibawa pulang dari Makkah oleh tidak sedikit jamaah haji Indonesia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kitab yang satu lagi, yaitu Tanwir al-Qulub oleh Muhammad Amin al-Kurdi dicetak ulang di Singapura dan di Surabaya, dan masih dipakai secara luas. Uraian dalam karya-karya ini sebagian besar mirip dengan uraian Taj al-Din Zakarya (“Kakek” spiritual dari Yusuf Makassar) sebagaimana dikutip Trimingham. Masing-masing asas dikenal dengan namanya dalam bahasa Parsi (bahasa para Khwajagan dan kebanyakan penganut Naqsyabandiyah India).

Asas-asasnya ‘Abd al-Khaliq adalah:

  1. Hush dar dam: “sadar sewaktu bernafas”. Suatu latihan konsentrasi: sufi yang bersangkutan haruslah sadar setiap menarik nafas, menghembuskan nafas, dan ketika berhenti sebentar di antara keduanya. Perhatian pada nafas dalam keadaan sadar akan Allah, memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih hampir kepada Allah; lupa atau kurang perhatian berarti kematian spiritual dan membawa orang jauh dari Allah (al-Kurdi).
  2. Nazar bar qadam: “menjaga langkah”. Sewaktu berjalan, sang murid haruslah menjaga langkah-langkahnya, sewaktu duduk memandang lurus ke depan, demikianlah agar supaya tujuan-tujuan (ruhani)-nya tidak dikacaukan oleh segala hal di sekelilingnya yang tidak relevan.
  3. Safar dar watan: “melakukan perjalanan di tanah kelahirannya”. Melakukan perjalanan batin, yakni meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yang mulia. [Atau, dengan penafsiran lain: suatu perjalanan fisik, melintasi sekian negeri, untuk mencari mursyid yang sejati, kepada siapa seseorang sepenuhnya pasrah dan dialah yang akan menjadi perantaranya dengan Allah (Gumusykhanawi)].
  4. Khalwat dar anjuman: “sepi di tengah keramaian”. Berbagai pengarang memberikan bermacam tafsiran, beberapa dekat pada konsep “innerweltliche Askese” dalam sosiologi agama Max Weber. Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa, anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. Beberapa orang mengartikan asas ini sebagai “menyibukkan diri dengan terus menerus membaca dzikir tanpa memperhatikan hal-hal lainnya bahkan sewaktu berada di tengah keramaian orang”; yang lain mengartikan sebagai perintah untuk turut serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat sementara pada waktu yang sama hatinya tetap terpaut kepada Allah saja dan selalu wara’. Keterlibatan banyak kaum Naqsyabandiyah secara aktif dalam politik dilegitimasikan (dan mungkin dirangsang) dengan mengacu kepada asas ini.
  5. Yad kard: “ingat”, “menyebut”. Terus-menerus mengulangi nama Allah, dzikir tauhid (berisi formula la ilaha illallah), atau formula dzikir lainnya yang diberikan oleh guru seseorang, dalam hati atau dengan lisan. Oleh sebab itu, bagi penganut Naqsyabandiyah, dzikir itu tidak dilakukan sebatas berjamaah ataupun sendirian sehabis shalat, tetapi harus terus-menerus, agar di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.
  6. Baz gasyt: “kembali”, ” memperbarui”. Demi mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang (melantur), sang murid harus membaca setelah dzikir tauhid atau ketika berhenti sebentar di antara dua nafas, formula ilahi anta maqsudi wa ridlaka mathlubi (Ya Tuhanku, Engkaulah tempatku memohon dan keridlaan-Mulah yang kuharapkan). Sewaktu mengucapkan dzikir, arti dari kalimat ini haruslah senantiasa berada di hati seseorang, untuk mengarahkan perasaannya yang halus kepada Tuhan semata.
  7. Nigah dasyt: “waspada”. Yaitu menjaga pikiran dan perasaan terus-menerus sewaktu melakukan dzikir tauhid, untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Tuhan, dan untuk memlihara pikiran dan perilaku seseorang agar sesuai dengan makna kalimat tersebut. Al-Kurdi mengutip seorang guru (anonim): “Kujaga hatiku selama sepuluh hari; kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun.”
  8. Yad dasyt: “mengingat kembali”. Penglihatan yang diberkahi: secara langsung menangkap Zat Allah, yang berbeda dari sifat-sifat dan nama-namanya; mengalami bahwa segalanya berasal dari Allah Yang Esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut ke tak berhingga. Penglihatan ini ternyata hanya mungkin dalam keadaan jadzbah: itulah derajat ruhani tertinggi yang bisa dicapai.

Asas-asas Tambahan dari Baha al-Din Naqsyabandi:

  1. Wuquf-i zamani: “memeriksa penggunaan waktu seseorang”. Mengamati secara teratur bagaimana seseorang menghabiskan waktunya. (Al-Kurdi menyarankan agar ini dikerjakan setiap dua atau tiga jam). Jika seseorang secara terus-menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir, dan melakukan perbuatan terpuji, hendaklah berterimakasih kepada Allah, jika seseorang tidak ada perhatian atau lupa atau melakukan perbuatan berdosa, hendaklah ia meminta ampun kepada-Nya.
  2. Wuquf-i ‘adadi: “memeriksa hitungan dzikir seseorang”. Dengan hati-hati beberapa kali seseorang mengulangi kalimat dzikir (tanpa pikirannya mengembara ke mana-mana). Dzikir itu diucapkan dalam jumlah hitungan ganjil yang telah ditetapkan sebelumnya.
  3. Wuquf-I qalbi: “menjaga hati tetap terkontrol”. Dengan membayangkan hati seseorang (yang di dalamnya secara batin dzikir ditempatkan) berada di hadirat Allah, maka hati itu tidak sadar akan yang lain kecuali Allah, dan dengan demikian perhatian seseorang secara sempurna selaras dengan dzikir dan maknanya. Taj al-Din menganjurkan untuk membayangkan gambar hati dengan nama Allah terukir di atasnya.

Zikir dan Wirid
Teknik dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya, adalah dzikir yaitu berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyatakan kalimat la ilaha illallah. Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang lebih langsung dan permanen. Pertama sekali, Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya dengan aliran lain dalam hal dzikir yang lazimnya adalah dzikir diam (khafi, “tersembunyi”, atau qalbi, ” dalam hati”), sebagai lawan dari dzikir keras (dhahri) yang lebih disukai tarekat-tarekat lain. Kedua, jumlah hitungan dzikir yang mesti diamalkan lebih banyak pada Tarekat Naqsyabandiyah daripada kebanyakan tarekat lain.

Dzikir dapat dilakukan baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. Banyak penganut Naqsyabandiyah lebih sering melakukan dzikir secara sendiri-sendiri, tetapi mereka yang tinggal dekat seseorang syekh cenderung ikut serta secara teratur dalam pertemuan-pertemuan di mana dilakukan dzikir berjamaah. Di banyak tempat pertemuan semacam itu dilakukan dua kali seminggu, pada malam Jum’at dan malam Selasa; di tempat lain dilaksanakan tengah hari sekali seminggu atau dalam selang waktu yang lebih lama lagi.

Dua dzikir dasar Naqsyabandiyah, keduanya biasanya diamalkan pada pertemuan yang sama, adalah dzikir ism al-dzat, “mengingat yang Haqiqi” dan dzikir tauhid, ” mengingat keesaan”. Yang duluan terdiri dari pengucapan asma Allah berulang-ulang dalam hati, ribuan kali (dihitung dengan tasbih), sambil memusatkan perhatian kepada Tuhan semata. Dzikir Tauhid (juga dzikir tahlil atau dzikir nafty wa itsbat) terdiri atas bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas, kalimat la ilaha illa llah, yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh. Bunyi la permulaan digambar dari daerah pusar terus ke hati sampai ke ubun-ubun. Bunyi Ilaha turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan. Di situ, kata berikutnya, illa dimulai dengan turun melewati bidang dada, sampai ke jantung, dan ke arah jantung inilah kata Allah di hujamkan dengan sekuat tenaga. Orang membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara, memusnahkan segala kotoran.

Variasi lain yang diamalkan oleh para pengikut Naqsyabandiyah yang lebih tinggi tingkatannya adalah dzikir latha’if. Dengan dzikir ini, orang memusatkan kesadarannya (dan membayangkan nama Allah itu bergetar dan memancarkan panas) berturut-turut pada tujuh titik halus pada tubuh. Titik-titik ini, lathifah (jamak latha’if), adalah qalb (hati), terletak selebar dua jari di bawah puting susu kiri; ruh (jiwa), selebar dua jari di atas susu kanan; sirr (nurani terdalam), selebar dua jari di atas putting susu kanan; khafi (kedalaman tersembunyi), dua jari di atas puting susu kanan; akhfa (kedalaman paling tersembunyi), di tengah dada; dan nafs nathiqah (akal budi), di otak belahan pertama. Lathifah ketujuh, kull jasad sebetulnya tidak merupakan titik tetapi luasnya meliputi seluruh tubuh. Bila seseorang telah mencapai tingkat dzikir yang sesuai dengan lathifah terakhir ini, seluruh tubuh akan bergetar dalam nama Tuhan. Konsep latha’if — dibedakan dari teknik dzikir yang didasarkan padanya — bukanlah khas Naqsyabandiyah saja tetapi terdapat pada berbagai sistem psikologi mistik. Jumlah latha’if dan nama-namanya bisa berbeda; kebanyakan titik-titik itu disusun berdasarkan kehalusannya dan kaitannya dengan pengembangan spiritual.

Ternyata latha’if pun persis serupa dengan cakra dalam teori yoga. Memang, titik-titik itu letaknya berbeda pada tubuh, tetapi peranan dalam psikologi dan teknik meditasi seluruhnya sama saja.

Asal-usul ketiga macam dzikir ini sukar untuk ditentukan; dua yang pertama seluruhnya sesuai dengan asas-asas yang diletakkan oleh ‘Abd Al-Khaliq Al-Ghujdawani, dan muntik sudah diamalkan sejak pada zamannya, atau bahkan lebih awal. Pengenalan dzikir latha’if umumnya dalam kepustakaan Naqsyabandiyah dihubungkan dengan nama Ahmad Sirhindi. Kelihatannya sudah digunakan dalam Tarekat Kubrawiyah sebelumnya; jika ini benar, maka penganut Naqsyabandiyah di Asia Tengah sebetulnya sudah mengenal teknik tersebut sebelum dilegitimasikan oleh Ahmad Sirhindi.

Pembacaan tidaklah berhenti pada dzikir; pembacaan aurad (Indonesia: wirid), meskipun tidak wajib, sangatlah dianjurkan. Aurad merupakan doa-doa pendek atau formula-formula untuk memuja Tuhan dan atau memuji Nabi Muhammad, dan membacanya dalam hitungan sekian kali pada jam-jam yang sudah ditentukan dipercayai akan memperoleh keajaiban, atau paling tidak secara psikologis akan mendatangkan manfaat. Seorang murid dapat saja diberikan wirid khusus untuk dirinya sendiri oleh syekhnya, untuk diamalkan secara rahasia (diam-diam) dan tidak boleh diberitahukan kepada orang lain; atau seseorang dapat memakai kumpulan aurad yang sudah diterbitkan. Naqsyabandiyah tidak mempunyai kumpulan aurad yang unik. Kumpulan-kumpulan yang dibuat kalangan lain bebas saja dipakai; dan kaum Naqsyabandiyah di tempat yang lain dan pada masa yang berbeda memakai aurad yang berbeda-beda. Penganut Naqsyabandiyah di Turki, umpamanya, sering memakai Al-Aurad Al-Fathiyyah, dihimpun oleh Ali Hamadani, seorang sufi yang tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kaum Naqsyabandiyah.

Entry Filed under: Sufi. .

73 Comments Add your own

  • 1. taufan dani  |  Mei 12, 2007 at 3:41 pm

    kalo boleh tau, saya pengen tau alamat web dimana bisa mencaru data2 tentang mursyid yang ma’dzun diseluruh dunia juga bukunya… trims

  • 2. imam muktar gozali  |  Juni 6, 2007 at 3:33 am

    Ass,Saya pengen mendapatkan dzikir ism al-dzat dan dzikir latha’if,harap dtanggapi ya…Wass

  • 3. syafii  |  Juni 7, 2007 at 12:32 am

    Ass.wr.wb, Saudara imam muktar gozali jika anda ingin mendapatkan zikir ism al-dzat dan dzikir lathaif silahkan anda buka http://baitulamin.org/ di alamat itu saudara bisa lebih banyak mendapatkan informasi tentang zikir tersebut dan anda juga bisa datang langsung ke tempat tersebut, trimakasih. wassalam

  • 4. esriyanto  |  Juni 19, 2007 at 8:20 am

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Artikelnya bagus-bagus. Salam hangat buat ikhwan semuanya. Terimakasih. Wassalam

  • 5. Andrianto  |  Oktober 4, 2007 at 3:16 am

    Asslamu’alaikum Wr. Wb
    Mau donk ikut majelisnya. alamatnya dmn ya ?

  • 6. suwito  |  November 2, 2007 at 8:22 am

    Ass. wr. wb..saya hanya ingin tahu apakah di jawa timur ada majelisnya ?
    Wassalam.

  • 7. umar  |  November 5, 2007 at 4:25 pm

    Pertanyaan :
    1. Kata Tarekat sekali pun tidak pernah disebut di dalam Al Qur’an dan Hadits yang sahih. Bukankah jika Tarekat itu begitu penting dalam Islam tentu Allah dan Rasulnya akan memerintahkan manusia untuk belajar Tarekat? Tidak mungkin Nabi yang bersifat “Baligh” (menyampaikan) menyembunyikan perintah Allah bukan?

    Sebaliknya Nabi berkata bahwa setiap hal yang baru/diada-adakan (di bidang agama) adalah bid’ah dan sesat:

    “Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ,dan perkara yang paling buruk adalah perkara yang baru dan setiap bid’ah adalah tersesat” ( H.R Muslim ) .

    Allah mengatakan agama Islam sudah sempurna. Jadi tak perlu lagi ditambah bid’ah seperti Tarekat:

    “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….” [Al Maa-idah:3]

    Wallahu alam bis showab

  • 8. masraden  |  November 5, 2007 at 11:36 pm

    Surah Jin:11

    a href=”http://www.iiu.edu.my/deed/quran/arabic/72_11.gif”

    `Dan bahawa sesungguhnya (memang maklum) ada di antara kita golongan yang baik keadaannya, dan ada di antara kita yang lain dari itu; kita masing-masing adalah menurut jalan(thoro-i-kho) dan cara yang berlainan.

    1. Benarkah perkataan tarikat sekalipun tak pernah disebut dalam Al-Quran dan hadith yang sahih?

    2. Jika tarikat dikatakan tambahan yang bidaah, apa pula nak dikata terhadap mereka yang menidakkan adanya perkataan tarikat dalam Al-Quran dan hadith?

  • 9. Syeikh Tariqat ( al-azhar )  |  November 16, 2007 at 11:53 am

    Makluman penting !
    1. Tariqat di sebut di dalam al-quraan dan hadis .
    2. Banyak kitab tafsir berhubung dengan tarikat dan sufi bertajuk “Tafsir Sufi ” 2 jilid.
    3. Walaupun ada menuduh bid’ah tentang tariqat ” Itu tidak mengapa ” kerana bida’h bukan hukum . Hukum hanya 5 wajib, sunat, harus, makruh dan batal. Manakalah “bida’ah ” adalah tambahan dari wahabi menjadi hukum itu 6 , maka hukumnya kufur, dengan kata lain wahabilah bidah terbesar.
    4. Universiti al-azhar sendiri mempunyai Majlis Tariqat.

    Wassalam.

  • 10. jaafar  |  November 17, 2007 at 4:29 am

    as.kum. Nak tanya adakah imam-imam masjidil haram Mekah yang menangis ketika baca kuran dalam sembahyang dah menyatu atau hampir dengan Allah apa pula kaitannya dengan Wahdatul wujud. Mohon penjelasan. t.kasih

  • 11. H Ali M Suwarto  |  Desember 1, 2007 at 6:21 am

    Memang demikianlah amalan-amalan Tarekat Nagsyabandiyah tetapi masih ada yang tertinggal yaitu kedelapan anggota tubuh yang vital kenapa tidak di sebutkan atau penulis lupa.? khusus untuk komentar no.2 sdr Imam Muktar Gozali kalau mau belajar dan tentunya itu wajib di pelajari sdr harus mencari dan datang
    saja ke tempat pengajian Tarekat,carilah guru akhirat atau istilah kami di Medan SYEIH jangan se-kali-kali anda belajar melalui
    buku karena nantinya syeitan akan menjadi guru anda..Saya
    berdo’a mudah-mudahan anda mendapatkan Taufik,hidayah dan Inayah dari ALLAH SWT amin..selamat mencari

  • 12. H.Zamzami  |  Desember 2, 2007 at 2:56 pm

    Saya ingin tahu dan ingin belajar Tarekat Naqshbandi atau Qodiriyah, mohon bantuan siapa saja yang bisa memberikan alamat tempat belajar kedua Tareket itu, di Riau, Sumatra Barat atau di Jawa.

    wassalam

  • 13. HARNES  |  Desember 5, 2007 at 7:24 am

    Saya prihatin kepada umat islam yg belum mengenal tarekat, ini memang pertanda bahwa diakhir jaman akan banyak manusia yg beragama islam tapi hanya kulitnya saja, rohaninya tidak, wassalam

  • 14. ardiansyah  |  Desember 9, 2007 at 3:50 am

    Periksa, Baca dan tanyakan pada Ahlinya…kata “thoriqat” ada dlm Al qur’an lihat Al Jin 16, bukan ayat 11… maaf bukan ngoreksi hanya mengedit sedikit mungkin ada yg salah ketik..diatas…

    oh ya..klo alamat thareqat qadiriyah naqsabandiyah bisa klik di http://www.suryalaya.org pak…tanya alamatnya disitu ada, thanx

  • 15. mazhar ali  |  Desember 10, 2007 at 2:42 am

    Salam. Guru kami mengajarkan kepada Saudara lain agama lakum diinukum waliyadiini..kepada Saudara seiman..Lana a’maluna walakum a’maalukum..untuk kami amal kami untuk anda amal anda…kami tidak menyalahkan cara anda tapi kami tidak mengikuti cara anda…Maaf Saudara…ada kitab-kitab tentang Naqsyabandi yang original…tapi boleh fotokopian..seperti Hilyatul Auliya, Hadaiqul Wardiyya dll.. makasih

  • 16. HARNES  |  Desember 11, 2007 at 8:27 am

    Trims atas koreksinya kepada sdr.Ardiansyah, semoga kita dimasukkan Alloh kedalam golongan insan pengamal thoriqoh yang istiqomah dan bukan hanya insan ahli teori thoriqoh, semoga ..Amiin…wassalam

  • 17. ainaa andalusy  |  Desember 12, 2007 at 10:04 pm

    assalamualaikum.

    usai membaca tulisan di sini, dan memantau komentar di sini, terasa seperti di ‘taman-taman’ sahaja. Damainya berada di kalangan yang ‘menuju Tuhan’. Moga Tuhan berkati…

    Ilahi anta maqsudi waredhoka mathlubi.

  • 18. mohd azham  |  Desember 18, 2007 at 4:08 am

    Kepada sesiapa yang mengatakan Tarikat itu bidaah, tak palah.
    Tetapi boleh tak sesiapa tolong bagi tahu dekat saya macamana saya nak ingat kepada ALLAH (24 jam) dengan merujuk kepada dalil Al-Quran dan HAdis.

  • 19. Madong  |  Desember 19, 2007 at 9:04 am

    Tidak ada salahnya belajar tarekat-naqsyabandiyah, siapa tahu dari sana, kita bisa mendapatkan Taufik,hidayah dan Inayah dari ALLAH SWT amin.

  • 20. har  |  Desember 30, 2007 at 3:42 am

    Tarekat adalah….salah satu bagian dari ilmu Allah…
    betapa besar ilmu Allah sehingga kita tak mampu mengetahui isi dam makna yang ada dialam ini , nabi sekalipun….Allahhu a’lam
    jadi bid’ah jika seseorang mengaku nabi atau ajarannya lebih benar dari yang lain, yang penting ajaran itu bermanfaat dan tidak keluar dari ajaran alqur’an.

  • 21. anak_mohd_zin  |  Januari 9, 2008 at 1:03 am

    Salam pada sesiap yg akan membaca comment saya di sini. Saya tidak la tau sangat tentang Tarekat, saya masih belajar mengenainya. Pada pendapat saya, zikir2 di dlm tarekat naqshabandi ini tidak salah, malah ia dapat menguatkan diri kita, fizikal, mental, dan hati.. Di akhir zaman ini, kita sebagai umat Islam, perlulah kuat mengharungi dunia yg penuh dengan dugaan dan perkara2 yg melekakan.Tambahan kepada amal ibadah seharian, tidak merugikan, malah mendekat kan lagi diri kita kepada Allah S.W.T..

  • 22. andriano bobby  |  Januari 17, 2008 at 10:14 am

    ass… saya murid tarekat naqsyabandi al khalidi,bagi anda yang ingin berguru tarekat naqsyabandi al khalidi anda bisa berguru kepada kanjeng guru agung raden ABDUSSALAM bin R RIFAI bin R AFFANDI bin syekh ILYAS. alamatnya di pondok pesulukan torikoh naqsyabandi, jalan sokaraja kab. banyumas,jawa tengah 081389882553. terimakasih

  • 23. Madadulhaqq.net  |  Januari 30, 2008 at 6:47 pm

    Silahkan dikunjungi, Naqsybandi Haqqani Un-Official di Indonesia

    wassalaam,

  • 24. Didi Setiawan  |  Februari 2, 2008 at 6:17 am

    Assalamua’laikum Wr. Wb Saya punya pertanyaan, tolong donk minta sarannya dari rekan-rekan yang sudah faham atau mengerti tentang bagaimana kita dapat lebih mengenal siapa diri kita sendiri dan apa yang diri kita inginkan? Mohon maaf sebelumnya saya adalah orang yang masih awam dalam hal ini, seperti topik diatas kita harus berdzikir karena dengan begitu kita akan mengingat Allah, tetapi disini yang belum saya dapat fahami bagaimana kita mengenal diri kita? Wasalam

  • 25. Erwin  |  Februari 7, 2008 at 11:53 pm

    Assalamu’alaikum, Saya Erwin saat ini berada di Saudi RIyadh, asli Bogor, dimana kira2 saya bisa menemui Mursyid thoriqoh yang mumpuni Arif Billah “syukron” rahoel_macho@yahoo.com

  • 26. baktiyar  |  Februari 17, 2008 at 9:04 am

    apakah tarekat syech nassabandi ada 1 mursyid d dunia

  • 27. santi  |  Februari 27, 2008 at 9:32 am

    Asww!. apakah dalam ilmu tasawuf diperbolehkan meramal masa depan dan bagaimana kalau seorang mursyid hidup dalam keadaan mewah, kenapa tidak meniru cara hidup Rasulullah saw yang sederhana?. dan hal yang paling penting yang ingin saya tanyakan, apakah seorang mursyid berhak mengumumkan kapan turunnya lailatur qadar, bukannya itu hanya Allah SWT yang maha tahu???

  • 28. syeikh to2ng  |  Maret 3, 2008 at 10:46 am

    mursyid ada 19999999999999……………….yg hebat hanya 1 tapi susah untuk dicari dan hanya orang2 yg berohani tinggi yg dekat dengannya…

  • 29. shoffan  |  Maret 16, 2008 at 12:39 am

    alhamdulillah, Allah menakdirkan di dunia ini ada thoriqoh salah satunya naqsyabandiyah. sampai saat ini saya belum pernah menjumpai keindahan cahaya rohani yang melebihi daripada pencerahan yang saya dapatkan dr trq naqsyabandiyah kholidiyah. buat sdr2-ku upayakanlah bisa menjalani ilmu thoriqoh untuk mendapatkan pencerahan hati. namun sya pesan carilah mursyid yg sejati. ciri mursyid sejati ada 3; 1. punya ijazah tertulis silsilah guru2 samapai Nabi SAW 2. punya ijazah guru tidak tertulis berupa tarbiyah/baiat (khusus guru) 3. mencapai faham ma’rifat.

  • 30. Vie  |  Maret 18, 2008 at 7:27 am

    aSs.saya belajar tarekat qadriyah wa naqsabandiyah,umur 17.sekarang umurku 18,terasa saat pendekatan kepadaNya,godaan yang tidak pernah saya alami begitu terasa sulit.setelah itu,ketakutan muncul seakan merasakan saya mulai mengenalNya.tapi,,,mohon bagaimana cara kita bisa menahan godaan yang sulit kita kendalikan???dan bagaimana tentang puasa makan daging-dagingan??terimakasih…

  • 31. BAYU  |  April 2, 2008 at 4:03 pm

    Assalaamu’alaikum wr. wb
    Bagi ikhwan yang ingin mengenal Thoriqot Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah, khususnya di wilayah Surabaya (Jawa Timur) dan sekitarnya dapat bertemu dengan KH. Qosidi, Insya Allah beliau memiliki ijazah kholifah Naqsyabandiyah. Beralamat di Jl. Ngagel Dadi I-K No. 8, Surabaya – Indonesia.
    Semoga Bermanfaat.
    Wasalaamu’alaikum wr wb……

  • 32. sufimuda  |  April 23, 2008 at 10:54 pm

    Di Batam ada pusat Tarekat Naqsyabandi Al-khalidi, bernaungan dibawah yayasan Kiblatul Amin Dua, di Perumahan Cendana Batam Centre, disitu ada pengobatan juga, segala jenis penyakit sudah ditangani dan sembuh, termasuk HIV/AIDS

  • 33. Eka Danie Lestantyo  |  April 26, 2008 at 3:06 am

    Ajaran yang sangat bagus, untuk menambah keilmuan dalam islam. Ingatlah pentingnya menjaga kerahasiah dalam setiap pelajaran (Tarbiyah)! Terima Kasih buat para penganut THoriqot Naqsabandiyah Khalidiyah yang telah memanfaatkan perkembangan teknologi untuk berdakwah. Kaum qta adalah sedikit, jd biarlah berkembangan sebagaimana Rasulllah mengembangkannya lewat door to door. Saya sangatlah menyayangkan dimana setiap redaksi atau apapun yang memuat tentang apaan tuh Thoriqot apapun selalu mengutarakan sedikit tentang pelajaran penting didalamnya (Tharbiyah). Akhir kata semoga ALLAH mengampuni qta semua dan menjadikan hamba yang bisa sampai tingkatan bersatu DENGANNYA. Amin

  • 34. zaki  |  April 26, 2008 at 7:14 am

    apakah persamaan naqshabandi haqqani dengan naqshabandi khalidi

  • 35. samudra  |  Mei 5, 2008 at 8:06 am

    saya minta alamat tariqah naqsyabandiyah al-khalidi yang ada di jakarta selatan ( yg masuk dalam yayasan kiblatul amin dua),
    makasih sebelumnya

  • 36. kani al-hijry  |  Mei 10, 2008 at 5:59 am

    kepada teman teman saya minta infonya untuk memberitahukan di mana alamat tarekat naqsabandiyah al-kholidiyah di samarinda besrta guru mursyidnya,terima kasih,zazakallah.

  • 37. TDW  |  Mei 18, 2008 at 8:05 am

    ingin mendengarkan rekaman suara dari tausiah-tausiahnya seorang syaikh (guru mursyid tarekat mutabaroh yang telah khirkoh wilayatul akbar) Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah, kunjungi : http://WWW.SyaikhAchmadSyaechudin.org

  • 38. TDW  |  Mei 18, 2008 at 8:07 am

    sudah ada website yang berisi rekaman suara tausiahdari mursyid tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah

  • 39. Prio  |  Mei 21, 2008 at 1:38 pm

    Apapun itu bentuknya kalau masih berlandaskan Al-Quran dan Hadist maka itu sah-sah saja. Kita tidak bisa mengatakan atau memfonis bahwa aliran tertentu itu salah kalau kita hanya tahu akan kulitnya saja. And kita juga belum pernah mengalami mati bahkan sampai dihisab dihari kemudian (pengadilan di akhirat). Kalau kita sudah pernah dihisab dan dinyatakan kita benar atau salah barulah kita tahu bahwa itu memang benar2 yang hakiki. Jadi kesimpulannya jadikanlah perbedaan persepsi itu sebagai suatu yang indah dalam kerangka islam yang benar-benar Rahmatal Lil Alamin ( pemberi rahmat terhadap seluruh umat manusia ). Wassalam

  • 40. Ratu  |  Mei 24, 2008 at 5:55 am

    Ass. bisakah diinformasikan alamat tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah yang berada di Singapura dan Amerika? alamat situs maupun alamat jelas. atas informasinya kami ucapkan terima kasih.

  • 41. agung  |  Mei 27, 2008 at 4:05 am

    Ass Wr Wb, saya mau tanya alamat & no telp tarekat Naqsyabandiyah yang ada di Surabaya – Jawa Timur. Trima kasih, Wassalam

  • 42. cinta  |  Juni 2, 2008 at 7:26 am

    Assalamu’alaikum wr. wb
    semua perbedaan bakal mendatangkan rahmat dari 4jj i kalau…islam itu sendiri dalam hal ini aturannya(Al-Quran)sudah bisa ditegakkan untuk mengatur kehidupan manusia. Caranya ikutilah perjalanan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat dalam memenangkan islam itu sendiri. Wujudnya aturan(Al_Quran)digunakan sebagai dasar hukum bagi manusia baik itu muslim,kafir,munafik,fasik,dzalim semua tidak akan lepas dari aturan 4jj I tersebut.Tinggal kembali kepada manusia itu sendiri mau gak memperjuangkan tegaknya aturan 4jj I tersebut atau lebih menyenangi keadaan sekarang ini yang mana aturan 4jj I sudah tidak dipakai sebagai dasar hukum atau lebih suka beribadah sesuai dengan apa2 yang ada pada kelompoknya masing2 sehingga ketika ketika terjadi perbedaan cara pandang tentang ibadah dalam islam, yang ada apa? berpecah belah dan masing2 merasa bangga dengan kelompoknya masing seolah2 kelompoknyalah yang paling benar dihadapan 4jj I.Wahai saudara2ku sadarlah kita ini diciptakan oleh 4jj I untuk menegakkan panji2 islam sebagaimana dahulu Rasulullah Muhammad SAW memperjuangkannya dengan tetesan darah para syuhada.Tidakkah kita ingin melakukan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Menjadi bagian dari orang2 yang diberi nikmat oleh 4jj I seperti para nabi2,para shidiqin,para syuhada dan para sholihin tidakkah kita ingin?atau sebenarnya kita hanya berdusta kepada 4jj I.Wahai saudara2ku lupakanlah sejenak perbedaan2 itu dan bangkitlah bersatu padu untuk menegakkan aturan 4jj I dan kuatkan tali silaturahim dalam menyeru manusia kembali ke jalan 4jj I dengan seruan2 perjuangan untuk tegaknya Dinnullah baik secara daulah sampai pada khilafahnya.Masalah perbedaan cara pandang tentang beribadah kepada 4jj I akan selesai dengan sendirinya kalau…aturan 4jj i sudah berhasil ditegakkan karena hanya satu saja yang akan memutuskan berdasarkan Al-Quran dan sunnah Rasulullah Muhammad SAW yaitu pemimpin yang hak dalam sebuah kekuasaan yang jelas2 kekuasaan ini milik 4jj I yang dimandatkan kepada orang2 yang beriman kepada 4jj i sebagaimana dahulu Rasulullah Muhammad SAW atas kehendak 4jj I memimpin islam.
    Wassalam…

  • 43. andi  |  Agustus 3, 2008 at 7:56 am

    Ass mo tanya alamat atau telpon tarekat yang ada di palembang dimana yaaa..mohon bantuannya

  • 44. IWAN  |  Agustus 8, 2008 at 9:11 am

    Bagiku tarekat adalah mengenal diri,karna tampa mengenal diri sendiri ,takakan mengenal ALLAH.Bila kita hanya mengenal sar,at hanya mengenal dasar.ibarat kita mengarungi lautan untuk mencari matiara. hanya memiliki perahu,tidak memiliki pendayung,kapan kita akan sampai tujuan.intinya kenalilah dirimu maka engkau akan mengenal allah,jadi untuk yg diatas jangan anda membaca tapi tidak ,memahaminya.

  • 45. andi  |  Agustus 13, 2008 at 9:46 am

    ass. mo nanya alamat/telpon tarekat yang ada dipalembang dimana?

  • 46. Kismanto  |  Agustus 18, 2008 at 11:45 am

    Ass.

    dlu aq pernah mengikuti di ponpes di desa Margorejo Pati Jawa tengah nama ponpesnya kalau gak salah (Ponpes miftahus sifa’) murobbinya/mursidnya namanya Abdul Wahid/Karmani
    sistem mengajarnya kayak apa yg diutarakan diatas.
    untuk pertemuannya biasanya hari selasa dan hari jumat
    biasanya sistem belajarnya lewat dzikir malam dg amalan tertentu, puasa (puasanya bulan sura dan rajab) misal: bulan sura pasa selama 40 hari. utk penyampaian amalan ini biasanya beda2 menurut tingkatan tertentu.
    itu dulu.
    tapi berhubung mursid saya, mungkin menurut saya pribadi, sudah melenceng dari ajaran Islam, kebanyakan setiap amalan itu memakai mahar/uang untuk membeli piranti ini itu. sehingga bnyak teman2 pada keluar dari ponpes itu termasuk saya,

    nah yg ingin saya tanyakan…
    1. Apakah dalam melakukan suatu amalan misalkan untuk mencapai tingkatan tertentu sebagian ada yg memakai mahar/piranti2 tertentu yg diharuskan hrs dipenuhi utk mengamalkannya?
    2. Posisi sekarang saya sudah tidak aktif lagi di toriqoh naqsyabandiyah, karena banyak penyelewengan2 pda ajaranya, itu yg salah mursid saya apa memang ajaranyanya seperti itu…?
    3. sebenarnya saya ingin sekali pencerahan hati, tetapi sampai sekarang saya belum menemukan, kalau boleh tahu dmna saya belajar toriqoh mohon untuk bimbingannya….?
    4. di desa saya memang kebanyakan orang NU, tapi disitu ada 2 blok yg satu dari Ponpes yg pernah saya ikuti yaitu ponpes miftahusifa’ yg ajarannya mengaku toriqoh naqsyabandiyah dan yg satu lagi dri kelompok yg menganut toriqoh naqsyabandiyah yg lain tapi mursidnya dari Tasik Malaya (biasanya tiap satu bulan sekali group ini pergi ketasik malaya), nah yg saya pertanyakan, gmna jalan solusinya utk mendamaikan……., padahal backgroundnya sama2 NU sama2 mengaku toriqoh naqsyabandiyah, tapi kok bermusuhan sampai sekarang.

    terima kasih atas jawabannya.

    wss,
    salam
    Kismanto

  • 47. slamet do'a sufrengki  |  September 18, 2008 at 3:58 am

    bagaimana hukum zikir ya waktu zikir harus mengingat mursidnya(dg anggapan itu bs memfokuskan) ini salah satu ajaran tarekat naqsabandiyah kan?
    apakah rosul pernah mencontohkan seperti itu?????
    tlg dibalas thx

  • 48. yus  |  September 20, 2008 at 6:34 am

    Orang melakukan tarekat itu itu sebenarnya orang yang kalah. Karena tkanan ekonomi, pengangguran, frustasi dll, maka banyak orang melarikan diri bersuntuk ria ke masjid, ngakoni tarekat dan beljar hakeekat.

  • 49. adi jauhari  |  Desember 6, 2008 at 5:50 am

    Ass Wr Wb
    Kota Cirebon apa ada Mursid untuk toriqat wa naqsabandi krn saya butuh ketentraman hati.trm ksh

  • 50. hendra  |  Desember 9, 2008 at 1:48 pm

    Asalamualakum Warahmatullahi wabarakatu untuk semua penganutdan pengamal Thareqat Naksabanyiah Khalidyiah dimanapun ianya berada, Illahi Anta Maksudi Waridhoka Matlubi

  • 51. riko  |  Januari 9, 2009 at 7:58 am

    dimana saya bisa mendapatkan kapiat tarikat muhamat yaman dan naksabandi

  • 52. ALI AL. KHALWATIYAH  |  Februari 3, 2009 at 1:59 pm

    BENAR SEKALI KARENA HANYALAH GURU GURU YG AHLI DZIKIR ITULAH YG SEBENAR BENARNYA ORANG TUA KITA DI DUNIA AKHIRAT, DENGAN ADANYA 41 THARIQAT YG MUKTABARAH DI INDONESIA, YG MEMPUNYAI NO. SILSILAH YG BERSAMBUNG SAMPAI KEPADA NABI MUHAMMAD SAW KEPADA MALAIKAT JIBRIL AS KEPADA AN RABBIL IZZATI JALLA JALALUHU. YG TIDAK ADA NOMOR SILSILAHNYA MAKA TIDAK USAH BERGURU KEPADANYA KARENA KEBENARAN ITU ADA DI BELAKANG AKAL. DARI ALI. MURID DARI MAHA GURU SILSILAH NO. 49 TAREQAT AT`TAJ AL KHALWATIYAH WA SAMMANIYAH. 081343994915

  • 53. Muhammad Gafaro Ranaqsa  |  Februari 19, 2009 at 4:18 am

    Di mana saya bs mendapat alamat tempat peristirahatan terakhir guru besar Tarekat naqsabandi al khalidi Saidi Syekh Prof. Kadirun Yahya Muhammad Amin QS. Menurut berbagai sumber Semua ilmu dan pemikiran tuan syekh tak terbantahkan dan tak terkalahkan. Bagaimana dengan murid2nya sekarang, kemana dan dimana mereka tersebar, apakah mereka hebat2 jg? Saya ingin berziarah kesana. tks.

  • 54. Lia  |  April 4, 2009 at 4:50 am

    Asslm… pengertian tarekat naqsabandiah sendiri itu apa?
    truss apaa perbedaan dengan tarekaat qodiriah?trimakasih
    Wassalam.

  • 55. Angga  |  Juni 9, 2009 at 8:08 am

    Askum..Apa sih tarekat,adakah sunnah,surrah yg mengajarkannya?Saya harap ada yg bisa menjelaskannya?..Email =angga_bayu@ymail.Com..

  • 56. fajr  |  Juni 23, 2009 at 8:15 pm

    salam….
    terimakasih
    informasi yang menarik…

  • 57. Onta  |  Juli 5, 2009 at 5:02 am

    tolong pemilik blok letak2 dari lathifah jangan di publikasikan karena itu adalah rahasia pelajaran dan bahaya bagi orang2 yg belum di talkin….karena qolb2 tersebut berhub dengan jasad,alangkah baiknya cukup nama2nya saja….tolong di perhatikan.

  • 58. yayat s.  |  Juli 27, 2009 at 6:40 am

    Ass. wr.wb.
    Saya sangat tertarik dengan bahasan torekat khususnya torekat Naqsabandiyah dan qodiriyah tapi saya masih awam tentang torekat, mohon penjelasan apa amalan yang dizikirkan, berapa hari puasanya dan bagaimana tata caranya mohon penjelasan. Terima kasih

  • 59. tino  |  Agustus 2, 2009 at 10:59 pm

    Salam

    Saya sedang dalam pencarian. ada Apresiasi dan pertanyaan

    Dalam alquran memang ada ayat mengandung kata thoriqah, tetapi jika dilihat secara secara utuh ayat sebelummnya dan maksud tujuan ayat tidak untuk mengikuti jalan seperti alira thoriqot sekarang

    contoh
    1.surat jin ayat 11 ‘kami’ menunjuk pada jin, apakah kita mengikuti jalannya jin

    2. Surat Anahl ayat 69 perintah mengikuti jalan Allah di tunjukan kepada ‘Lebah ” bukan kepada manusia.

    dan masih banyak ayat yang lain tak satupun merujuk untuk mengikuti aliran thoriqot.

    Selain itu ada paham jika tidak mengikuti thorikot di pembalasan Akhir kita tidak akan di terima karena tidak memiliki khalifah atau mursyid yang memberi syafaat .
    sedangkan hal ini berbeda dengan ayat alquran
    bahwa pada hari ahir nanti tidak ada seorangpun yang bisa memberi manfaat bagi orang lain dan segala urusan milik Allah QS Al Infithar 17-19

    Perintah/Perkataan/Fatwa Mursyid tidak terbantahkan jadi kita harus mengikutinya suatu kesalahan apabila membantahnya. Padahal Rosullah sendiri di ikuti bukan karena pribadinya tapi karena Wahyu Allah, Rosullulah adalah manusia biasa hanya bedanya beliau diberi wahyu. apakah mursyid seperti demikian?.

    Pada suatu riwayat Ketika berperang Rosullulah SAW mengajukan pendapat untuk mempertahankan bukit , sahabat bertanya apaka itu perintah Allah atau pendapat Rosul. Apabila perintah Allah akan diikuti, Apabila pendapat Rosul maka Sahabat punya pendapat lain.

    Dalam berdzikir kita harus menghadirkan Mursyid sebagai pembimbing chanel menuju Allah, Seperti kabel menghantarkan Listrik. seolah ada jarak kita dengan Allah. Apakah analogi tersebut tidak musryik karena menyamakan Allah dengan hal lain dan menganggap Mursyid memiliki kedudukan melebihi Rosul. sedangan Allah SWT tak ada sesuatupun yang menyamainya. dan Rosulullah sebagai penyampai Perintah Allah. dan Allah sendiri dekat dengan hambanya seperti urat nadi.( Lupa Ayatnya)

    Mohon Penjelasan

  • 60. pdnet83  |  Agustus 3, 2009 at 7:53 pm

    asslmlkm…wah smkin bingung nih..syariatnya Rasulullah atau thariqatnya Rasulullah, atau bahkan ma’rifat dan haqiqatnya Rasulullah…weleh…weleh…kalo ada pndaftaran kr2 pilih atao mask yag mana ya ???? ahhh…bgtu bdohnya diri ini…..

  • 61. pdnet83  |  Agustus 3, 2009 at 8:02 pm

    oh ya…lupa tp saya tdk trima bila sodara seiman diskiti laen…bl ada shlt ghaib ikut jg, mskpun q tk knal sp dia…soal hajatan (tahlilan-red) tetanggaku yang non muslim jg datang kok…wassalam

  • 62. ghotik  |  Agustus 14, 2009 at 10:35 am

    saya penganut thoriqoh Naqsabandiyah yayasan jabal qubis tanjung morawa medan dengan syekh Mursyid H. Ghazali An Naqsabandy

  • 63. hamba  |  Agustus 14, 2009 at 6:07 pm

    umar..bakpo mu bodo…buat bijok plk 2…kalu diri ilmu kurang jgn wat bijok nnt timbol bodo dlm diri…byk2 kan bljr ye…

  • 64. hamba  |  Agustus 14, 2009 at 6:13 pm

    yus…ko ni bijok ke bodo nape wat ulasan sendiri kalu tak ape2…bljr la kalu nk thu..jgn ulas…

  • 65. DunGu  |  Agustus 18, 2009 at 8:13 am

    Waduh..waduh… semuanya bijak bijak pandai pandai… tak kurang juga yang memandai mandai… Sayang sekali… Peribahasa pun ada mengatakan Usah dikalungi bunga pada Kambing…. akibatnya, sendiri pun tahu….

  • 66. DunGu  |  Agustus 18, 2009 at 8:21 am

    Ramai yang kata mengenal.. Ramai yang mengaku menjadi Ahli Tarekat Naqshabandiah. Tapi ramai jugak yang tak malu, merasa malu pada diri sendiri. Tepuk air di dulang terpercik dimuka sendiri.. Bagi yang mahu mengenal atau menjadi ahli tarekat, tak kira lah apa pun jua tarekat, buat lah solat istikarah. Mohon pertunjuk, dipermudahkan segala urusan. Bagi yang sudah menjadi ahli, yg sudah sampai ke makam2 yang tinggi setiinggi mana pun, yang paling utama, SYARIAT tetap di utamakan. Tetap dipegangkan. Mana sama, Orang yang bisa melihat (Celik) dengan yang tak bisa melihat (buta). Lagi banyak kata2 dilemparkan. lagi banyak dusta dilahirkan… Emangnya semuanya sudah merasa hebat.. Hebat sesama makhluk… mengaku berilmu lebih mengetahui dari yang lain.. Pelik.. pelik… Mana perginya.. Fakir Daif Hina Lemah….. Sampai ketemu kembali…

  • 67. yusof  |  September 8, 2009 at 2:35 am

    siapa yang dipandang dalam batin ketika membaca SIRATALLAZINA AN AMTA ALA’IHIM – bukan ke minan Nabiyin, wasiddiqin, wasuhada wasolihin… kalau guru anda bukan siddiqin aw suhada aw solihin, memang tidak layak di ingat.

  • 68. para kazan  |  September 15, 2009 at 2:43 am

    umar..bakpo mu bodo…buat bijok plk 2…kalu diri ilmu kurang jgn wat bijok nnt timbol bodo dlm diri…byk2 kan bljr ye…

  • 69. niko  |  September 23, 2009 at 5:04 am

    Mohon saya di kasih tahu ya perbedaan tariqat naqsabandiya. Dengn tariqat wa naqsabandiyah
    Wasaalam.. Lewat email jg boleh alzanta@yahoo.com

  • 70. hamba yang tersesat  |  Oktober 16, 2009 at 12:23 pm

    ya Allah tuntunkanlah aq melalui mursyidmu yang memiliki cahaya nurun ala nurin.. ingatkan aq padanya sesungguhnya aq telah tersesat; TUNTUNLA AQu………………..

  • 71. hamba yang tersesat  |  Oktober 16, 2009 at 12:28 pm

    Aq rindu pada mu ya Allah,, tapi aq merasa semakin jauhh,,setiap untaian dzikir yang pernah ku lafazkan menjadi kenangan yang sangat indah,, Abu kembali lah tuntun aq yang sudah mulai tersesat,, jangan biarkan aq terlena akan dosa..

  • 72. inungmaniz  |  Oktober 22, 2009 at 7:07 am

    Illahi Anta Maksudi Waridho Kamatlubi. Terimakasih atas artikelnya, meski prosesnya saya mempraktekkan dahulu baru membaca artikel ini.. Subhanallolh..barangkali itulah jalan dari Alloh.. Namun, saya masih sangat dhaif,fakir,banyak dosa dan tidak ada apa-apanya di hadapan Alloh

  • 73. hamba Mu  |  Oktober 23, 2009 at 3:22 pm

    Kenapa hrs saling dpertentangkan, klo Muara kita sama yaitu Alloh.. Bagi para pecinta Ilahi, itu hal yang gak etis untuk dsampaikan.. Biarlah Jiwa kita masing2 yang merasakannya..

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Tulisan Terakhir

a

Blog Stats

Top Posts

Top Clicks

RSS Racikan Jamu Tradisional

RSS Liputan6 – Aktual Tajam dan Terpercaya: RSS2 Feed

RSS Satu Untuk Semua – SCTV: RSS2 Feed


This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

ahmad23

ahmad22

ahmad21

More Photos