Archive for Oktober, 2007

Kami Mengucapkan Selamat Hari Raya AidilFitri

idul-fitri.jpg

Iklan

Oktober 14, 2007 at 7:28 am Tinggalkan komentar

Berapa Lama Kita Dikubur

Semoga bisa menjadi renungan…. ..

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali me-ngangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915 : 20- 01-1965 ”

“Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu” Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia  mendengarkan ayahnya berdo’a untuk Neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.”
Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.
“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya
Yah…” Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.

“Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun … ”
Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910”

“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah”, jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.
“Memangnya kenapa ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. “Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. “Iya kan yah?”

Ayahnya tersenyum, “Lalu?”
“Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur …. Ya nggak yah?” mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ….. “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Diatas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya… 42 tahun hingga sekarang… kalau kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur …. Lalu Ia menunduk … Meneteskan air mata…

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya …lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un …. Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur?
Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa  ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah… Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya  naik turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak … Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu.
Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur….
tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah  menyadarkannya arti sebuah kehidupan… Dan apa yang akan datang di depannya…

“Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…”

Oktober 2, 2007 at 4:42 am 7 komentar

Pengemis Buta

Di sudut pasar Madinah ada seorang  pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap  orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian  mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi  Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan  tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang  dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui  bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW  melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya  Rasulullah SAW,  tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap  pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat  Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau  bertanya  kepada anaknya itu, Anakku, adakah kebiasaan kekasihku  yang belum aku kerjakan?

Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang  belum ayah lakukan kecuali satu saja.
Apakah Itu?, tanya Abubakar RA.
Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan  makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah  RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan  untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai  menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik,
Siapakah kamu?
Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).
Bukan!  Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.

Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak  susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah  itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar  RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada  pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah  salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia  adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Seketika itu juga pengemis itu pun  menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata,  Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia  tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan  setiap pagi, ia begitu mulia….

Pengemis Yahudi buta tersebut  akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA
saat itu juga dan sejak hari  itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW?
Atau adakah setidaknya niatan untuk  meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.

Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah  baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup
melakukannya.

Sadaqah Jariah – Kebajikan  yang tak berakhir.

1. Berikan al-Quran  pada seseorang, dan setiap dibaca, Anda mendapatkan hasanah.

2. Sumbangkan kursi roda ke RS dan  setiap orang sakit menggunakannya, Anda dapat hasanah.

4. Bantu   pendidikan seorang anak.

5. Ajarkan seseorang sebuah do’a. Pada  setiap bacaan do’a itu, Anda dapat hasanah..

6.  Bagi CD Quran atau  Do’a.

7. Terlibat dalam pembangunan sebuah  mesjid.

8. Tempatkan pendingin air di tempat umum.

9. Tanam  sebuah pohon. Setiap seseorang atau binatang berlindung dibawahnya, Anda  dapat hasanah.

10. Bagikan email ini dengan orang lain. Jika seseorang  menjalankan salah satu dari hal diatas, Anda dapat hasanah sampai hari   Qiamat.

Aminnnnnn…

sumber : dari temen gue di australi Saudara Larasaty yang dikirim ke email

Oktober 2, 2007 at 4:17 am Tinggalkan komentar


Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 623,743 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos