Wangi Naqsybandiyya

April 6, 2007 at 3:20 am Tinggalkan komentar

Dalam setiap ceramah atau asosiasi, kita menempatkan diri kita di bawah ayat “Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisa’ 59). “Kalian harus mematuhi Allah , kalian harus patuh kepada Rasulullah , dan kalian harus mematuhi para pemimpin kalian.” Allah juga berfirman dalam al-Qur’an bahwa “Siapa pun yang mematuhi Rasulullah seolah-olah dia telah mematuhi Allah .” (An-Nisa’ 80), “Man yuti’ir rasula faqad ata’allah.”

Siapa pun yang patuh kepada guru yang menunjukkan jalan Rasulullah dan menerangkan kepada kita bagaimana cara mendekati Rasulullah , berarti telah mengikuti ajaran Rasulullah . Oleh sebab itu kita memerlukan panduan untuk menunjukkan kita jalan terbaik untuk melakukannya. Jalan yang tersedia sangat banyak. Rasulullah bersabda, “At-thuruq ilallah ‘azza wa jalla ‘alaa ‘adad anfasil khla’iq,” Jalan menuju Allah sebanyak jumlah nafas manusia (tak hingga).”

Kalian bisa mendatangi Tuhanmu dengan berjuta-juta jalan. Ada yang pintas, ada pula yang panjang. Setiap orang pergi menurut jalan yang telah ditetapkan Allah di dalam hatinya. Setiap orang mempunyai jalan yang berbeda-beda. Kalian semua tidak mempunyai jalan yang sama, karena kalian bukan orang yang sama. Setiap orang mempunyai cahaya dan rahasia di dalam hatinya yang secara istimewa telah dianugerahkan Allah kepadanya. Siapa yang dapat mengeluarkan rahasia itu? Kalian tidak dapat melakukannya sendiri. Kalian memerlukan seseorang untuk mengeluarkan rahasia dari dalam hati kalian dan menunjukkannya kepada kalian.

Orang yang akan menunjukkan rahasia kepada kalian harus menemani kalian sepanjang hidup. Jika tidak, bagaimana dia akan mengetahui apa ada di dalam hatimu dan mengeluarkannya? Salah seorang guru di zamannya, Sayyidina ‘Abdul Qadir Gilani , suatu saat memberi perintah kepada murid-muridnya sebagai berikut, “Potonglah seekor ayam di tempat yang tidak diketahui seorang pun, lalu bawalah ayam itu kepadaku.” Beberapa orang melaksanakan perintah itu secara harfiah dan berpikir bahwa mereka telah menjaga hal ini sebagai rahasia semata. Yang lain berpikir, seperti sebagian orang di antara kita, bahwa Syaikh serakah dan ingin menyimpan persediaan ayam. Berpikir seperti itu adalah suatu perilaku buruk.

Setelah beberapa jam, murid-murid itu kembali, masing-masing membawa ayam yang telah dipotong. Ketika waktu Maghrib tiba, salah seorang di antara mereka masih belum muncul. Syaikh bertanya, “Di mana si Anu?” namun tidak ada seorang pun yang dapat memberitahunya. Waktu ‘Isya pun tiba, dan keesokan harinya masih belum ada orang yang mengetahui di mana murid yang menghilang itu. Siang harinya murid itu datang dengan membawa seekor ayam di tangannya, tetapi ayam itu belum dipotongnya. Syaikh berkata kepadanya, “Ke mana saja engkau selama ini? Setiap orang membawakan ayam mereka kepadaku dalam keadaan disembelih kecuali engkau. Apa itu?” Dia menjawab, “Wahai Syaikhku, perintahmu kepadaku adalah memotong ayam ini di tempat yang tidak dilihat oleh seorang pun. Kemarin Aku telah mencobanya seharian, sepanjang malam dan pagi hari Aku berusaha menemukan tempat yang tidak diketahui oleh Allah , Rasulullah dan engkau sendiri, tetapi Aku tidak dapat menemukannya, bagaimana Aku dapat memotong ayam ini?” Sayyidina ‘Abdul Qadir Gilani berkata, “Ini adalah penerusku yang akan mengajarkan kalian mengenai adab dan memberimu teladan yang baik untuk diikuti, karena dia mengetahui bahwa Aku berada dalam hatinya selama 24 jam, dan tidak pernah meninggalkannya.”

Syaikh tidak seperti orang yang pergi ke mimbar untuk memberikan ceramah. Mereka bukanlah Syaikh, melainkan penceramah dan Syaikh bukanlah penceramah. Seorang Syaikh ditujukan untuk tarbiya, pendidikan dan pengajaran. Syaikh bersahabat dengan seseorang yang merupakan mukmin sejati dan mempelajari karakter baik dan jalan hidupnya. Banyak penceramah yang akan mempersiapkan dan menyampaikan ceramah yang sangat baik untukmu, tetapi bukan memperaktekkan khutbah mereka. Mereka memberikannya kepadamu, tetapi apa manfaatnya? Dari mana kalian mendapatkan ilmu? Dari buku-buku atau ceramah? Kalian harus menemukan orang yang mempraktekkan apa yang dia baca dan dia pelajari. Belajar dengan jalan ego tidak penting dalam Thariqat Naqsybandi. Kalian harus belajar untuk menggunakan jalan hati. Ini adalah hal yang sangat penting dalam ajaran Naqsybandi.

Alhamdulillah, kalian mengikuti seseorang yang di tangannya tersimpan rahasia Thariqat Naqsybandi. Setiap 24 jam, Guru yang kalian ikuti wajib menghilangkan beban kalian dan datang ke hadirat Rasulullah dengan berkata, “Ya Rasulullah , ini adalah para pengikutku, beban mereka ada padaku, Aku bersedia menanggung beban mereka, dan apa pun perbuatan baik dan ibadah yang telah kulakukan pada hari ini, Aku berikan kepada mereka. Aku mohon terimalah mereka.” Oleh sebab itu, jangan menjadi beban yang berat bagi Syaikhmu. Jangan berkata, “Kami melakukan ini atau itu.” Jagalah agar dirimu tetap terkunci di sudutmu mengerjakan apa yang perlu kalian lakukan untuk dirimu—tidak perlu melihat saudara-saudarimu dan menyebutkan kesalahan mereka di depan orang lain. Lindungilah mereka dan Allah akan melindungi kalian. Sembunyikan kesalahan mereka, Allah akan menyembunyikan kesalahanmu. Sebaliknya jika kalian menunjukkan kesalahannya maka Allah pun akan menunjukkan kesalahanmu.

Dalam suatu pertemuan para Awliya, Sayyidina Abu Yazid al-Bistami berkata, “Jika murid-murid mengetahui bagaimana para Awliya akan mengembalikan siksaan yang dibebankan kepada mereka oleh para pengikutnya, mereka akan menyiksanya lebih hebat lagi.” Para Awliya diperintahkan untuk membalas orang-orang yang menyiksa dan menyerang mereka dengan kebaikan. Sementara bagi orang-orang yang mengatakan kebaikan kepada mereka dan menunjukkan mereka perilaku yang baik, maka para Awliya itu akan menaikkan derajat mereka.

Kami mohon saudara-saudari dapat menghormati Syaikh dengan sebaik-baiknya. Saya tekankan hal ini karena kita perlu mendengarnya. Adalah mudah untuk membuka hal yang lain, tetapi inilah yang perlu kita ketahui sekarang, disiplin dengan Syaikh kita.

Kalian berada dalam pengawasan yang cermat dari orang banyak. Mereka ingin mengetahui bagaimana tingkah laku kalian sebagai pengikut Syaikh. Jika kalian berperilaku baik, mereka akan mengatakan bahwa Syaikh adalah orang yang sangat baik. Jika kalian berperilaku buruk, maka reputasi buruk akan menimpa Syaikhmu dan ini tidak dapat diterima oleh semua orang. Tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan mentolerir peristiwa yang terjadi karena perilaku buruk kita. Oleh sebab itu perbaikilah perilaku kalian baik di dalam maupun di luar kehadirannya. Di luar kehadirannya, sangat sulit untuk memperbaiki perilaku kalian. Jagalah selalu kehadirannya di dalam hatimu, jika kalian menjaga Syaikhmu di dalam hatimu, kalian akan lihat bahwa kalian akan berperilaku baik.

Suatu ketika Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata, “Siapakah orang yang akan diterima dalam thariqat Naqsybandi?” Orang-orang di sekitarnya menjawab, “Kita semua adalah Naqsybandi! Dapatkah kami menganggap diri kami sebagai Naqsybandi?” Pada saat itu Grandsyaikh menjawab, “Untuk menjadi pengikut atau murid thariqat Naqsybandi, mata hati harus terbuka. Kalian harus mendengar ucapan para malaikat. Jika kalian pergi ke Ka’abah di Makkah dan memberi salam, kalian harus bisa mendengar balasan salam dari Ka’abah kepadamu. Inilah langkah pertama dalam thariqat Naqsybandi. Apakah ada di antara kita yang mempunyai kekuatan ini? Jika ada, biarkan dia mengangkat tangannya, dan Saya akan melihat apakah dia benar atau tidak.” Masuk ke dalam thariqat Naqsybandi berarti mata hati harus terbuka sehingga kalian bisa melihat segalanya. Banyak orang di antara kita yang mengatakan bahwa mereka melihat malaikat, mereka melihat Jinn, mereka melihat Maulana menembus dinding, atau mereka melihat Maulana di mana-mana. Mudah saja mengatakannya di lidah, tetapi lain soal untuk mengatakannya dengan penuh kebenaran.

Siapakah orang yang akan mengaku telah berada pada tingkat pertama dalam thariqat Naqsybandi? Grandsyaikh berkata, “Mereka semua yang datang kepadaku adalah orang-orang yang mencintaiku, dan Aku mencintai mereka. Aku mencintai mereka semua sebagaimana Aku mencintai anak-anakku, bahkan lebih dari anak-anakku sendiri, karena mereka telah mengorbankan segalanya dan datang kepadaku. Tetapi bukan berarti mereka telah menempatkan kaki mereka di tingkat pertama dari thariqat Naqsybandi.” Untuk bisa mencium wangi thariqat ini, kalian harus berada dalam pengawasan 40 Imam Naqsybandi yang telah sempurna baik dalam hal syariat maupun Sufisme, yang akan mengamatimu siang dan malam selama 40 hari tanpa sepengetahuanmu untuk mengetahui apakah kalian melakukan penyimpangan dari syariat dan thariqat dan tidak meninggalan sunnah Rasulullah , bahkan sunnah yang terkecil—banyak sekali sunnah kecil yang dimiliki setiap orang tetapi kini telah dilupakan. Setelah selama 40 hari pengamatan, jika kalian tidak melakukan suatu penyimpangan, pada saat itu kalian bisa mencium wangi thariqat Naqsybandi, tetapi kalian tetap masih belum memasukinya.

Situasi kita masih sebagai pecinta (muhibb) dari thariqat, bukan pengikut (murid). Namun demikian tingkatan berikut itu telah diperuntukkan bagi kita melalui janji Maulana Syaikh Nazhim dalam pertemuan dengan para Awliya dan dengan kehadiran Rasulullah . Para pengikut akan mencapai tingkat itu, tetapi bukan berkat kerja keras mereka, melainkan melalui usaha Maulana. Oleh sebab itu jangan pernah memberi kesempatan bagi egomu untuk berpikir bahwa, “Aku telah mengalami kemajuan.” Kalian bukan apa-apa. Satu-satunya orang yang mengalami kemajuan adalah Syaikhmu. Ketika kalian menganggap dirimu bukan apa-apa, saat itulah kalian akan menjadi segalanya.

Tanpa janji ini, mustahil bagi seseorang untuk masuk dan mengucapkan, “Aku seorang Naqsybandi.” Kita diizinkan untuk mengatakan bahwa kita adalah Naqsybandi dengan lidah, tetapi cahayanya belum terbuka kepadamu, walaupun diperuntukkan juga bagi kalian, ya, siapa pun yang berada dalam asosiasi ini adalah seorang Naqsybandi. Tetapi apakah kalian menginginkan agar cahaya itu dibuka? Jagalah apa yang diperintankan oleh Tuhanmu dan Rasulullah kepadamu, dan jagalah jalan yang telah ditunjukkan oleh Syaikhmu untuk mendekati Rasulullah , dan jagalah segala perilaku yang baik dan benar.

Iklan

Entry filed under: Rahasia Hati.

Khalwat Ujian/Kepatuhan para Awliya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 621,129 hits

Top Clicks

  • Tidak ada

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos


%d blogger menyukai ini: