Ujian/Kepatuhan para Awliya

April 6, 2007 at 3:23 am Tinggalkan komentar

(Menyusul terjadinya kerusuhan di Peckham)
“Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisa’ 59) “Patuhlah kepada Allah , patuhi Rasulullah , dan patuhi pemimpin kalian.” “Wa minallahit taufiq” “Keberhasilan hanya datang dari Allah .”

Kami sangat menyesal bahwa keributan ini sampai terjadi, tetapi ini harus terjadi. Jika tidak, kita tidak mendapat pelajaran apa pun. Kejadian ini harus terjadi dan telah digariskan agar terjadi, untuk menguji hati dan keimanan kita semua. Bukan berarti untuk berkata, “Saya lebih baik” atau “Saya lebih buruk.” Kita semua harus mengambil hikmah dari apa yang menimpa orang lain. Rasulullah tidak pernah membuat kesalahan, tetapi kadang-kadang, bukannya shalat 4 rakaat, beliau melakukannya 3 rakaat. Allah membuat beliau melakukannya lebih singkat 1 rakaat untuk mengajari para Sahabat agar bisa memperbaiki kesalahan yang mereka buat. Inilah sebabnya malaikat Jibril selalu datang kepada Rasulullah , agar para Sahabat belajar bagaimana bersikap terhadap Rasulullah , karena Rasulullah tidak dapat berbicara tentang dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan apa yang terjadi. Hal tersebut sudah tertulis, tidak seorang pun dapat menolaknya.

Cerita berikut ini sering diulang oleh Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim , dan Saya juga telah menceritakannya berulang kali. Cerita ini harus bisa merasuk ke dalam hati. Hanya jika kalian mendengarkan dan menyimpannya baik-baik di dalam hati, baru bisa berhasil. Jika tidak, kalian tidak akan berhasil.

Seseorang datang kepada Grandsyaikh dan berkata, “Wahai Syaikhku, aku ingin meminta thariqat Naqsybandi darimu.” Orang itu datang kepada Syaikh dengan membawa belati yang besar dan sebilah pedang. Dia berasal dari Daghestan dan kalian tahu bahwa orang-orang Daghestan berkumis tebal dan mengarah ke atas… mereka adalah para pegulat, seperti beberapa saudara kita di sini. Orang itu datang dengan seluruh egonya, meminta Syaikh agar menerimanya sebagai pengikut thariqat Naqsybandi. Pada awalnya Grandsyaikh berkata, ”Aku tidak akan memberimu thariqat!” Orang itu kaget, ”Apa! Aku mempunyai pedang dan beberapa belati, dan aku bisa memukul siapa saja! Aku ingin thariqat! Jika engkau tidak memberinya, Aku akan memukulmu!” Walau begitu orang itu mempunyai niat yang baik. Grandsyaikh melihatnya, dan dengan segera Rasulullah berkata kepadanya bahwa orang ini mempunyai niat yang baik. Perintah pun datang, walaupun dia seorang pegulat dan membawa belati, dia harus diajari untuk menjadi pengikut thariqat Naqsybandi. Grandsyaikh berkata, “Aku tidak bisa memberimu thariqat kecuali engkau mau mendengar perintahku. Namun demikian, sebelum Aku memberimu perintah, Aku akan mengutusmu ke kota.”

Suatu hari, selama krisis di Libanon pada tahun 1976, sebuah gedung besar di tengah kota Beirut yang berisi bermacam-macam barang milik Ayah saya dibom dan hancur berkeping-keping. Dalam satu malam kami bangkrut. Kami datang kepada Maulana Syaikh Nazhim , dan beliau bereaksi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sebaliknya beliau malah tertawa. Beliau berkata, “Ini adalah ujian bagimu dari para Awliya. Mereka ingin menempatkam kalian dalam posisi yang rendah untuk menguji hatimu.”

Sudah sering dikatakan bahwa Syaikh tidak memberimu permen! Syaikh meremasmu dan menghacurkan kalian, kemudian mereka melihat hatimu, jika baik dan jika cintamu kepadanya tidak berubah, barulah mereka memberimu rahasianya. Kalau cintamu berubah, untuk apa gunanya?

Suatu hari seorang pengikut Sayyidina ‘Abdulqadir Gilani meninggal dunia, lalu malaikat mendatanginya dalam kubur dan bertanya:
· Siapa Tuhanmu? ‘Abdulqadir Gilani
· Siapa Nabimu? ‘Abdulqadir Gilani
· Apa kitabmu? ‘Abdulqadir Gilani
· Apa agamamu? ‘Abdulqadir Gilani

Malaikat yang polos ini menjadi bingung, mereka harus membawanya ke Neraka karena orang itu terus memberikan jawaban yang salah! Apa ini ‘Abdulqadir Gilani ?” Mereka mulai membawanya, namun tiba-tiba ‘Abdulqadir Gilani muncul dan berkata, “Mengapa kalian membawanya ke Neraka? Dia mengucapkan namaku, jadi ajukanlah pertanyaan-pertanyaan itu kepadaku. Jika kalian mau memotong tubuhnya hingga menjadi potongan-potongan kecil, dan membawanya ke mesin pemotong, dia akan tetap mengucapkan nama ‘Abdulqadir Gilani . Cintanya tidak akan pernah berubah. Kalian bisa saja melemparkannya ke dalam Neraka, dia tidak akan merasakannya, tetapi Aku yang akan merasakannya, bukan dia. Dia telah lenyap dalam diriku. Eksistensinya bersatu denganku, dia tidak akan bisa merasakan sesuatu kecuali melalui diriku.

Sekali waktu, Maulana mengirimkan ujian kepada setiap orang dari kita dan beliau melihat hati kita, mengamati apakah cinta kalian berubah atau tidak. Apakah imannya berubah atau tidak? Apakah beliau menghacurkan sebuah gedung dan barang-barang senilai 10 juta dolar? Beliau tidak akan peduli, tetapi hanya peduli dengan hati yang setia. Inilah yang diinginkan oleh Syaikh. Mereka tidak mencari kesenangan duniawi.

Grandsyaikh menyuruh orang itu pergi ke pasar di tengah kota untuk mencari orang yang membawa usus biri-biri di punggungnya, “Pergilah di belakangnya lalu tepuk lehernya dengan tanganmu. Perhatikan apa yang dia katakan lalu laporkan kepadaku.” Si pegulat tadi—karena dia seorang pegulat—sangat bergembira mendengar perintah itu. Jika ini ajaran Naqsybandi, Alhamdulillah, baiklah Syaikhku ini memang pekerjaanku—memukuli orang! Dengan senang hati Aku akan pergi dan menamparnya, bukan cuma sekali tetapi ratusan kali.” “Tidak!” sahut Grandsyaikh, “Sekali saja!”

Pegulat itu pergi ke kota mencari orang yang dimaksud. Setelah ditemukan, dia berjalan di belakangnya, mengangkat tangannya dan menepuk lehernya dengan sekuat tenaga. Orang itu menengok kepadanya dengan kemarahan di matanya—tetapi dia tidak berkata apa-apa, kemudian dia melanjutkan perjalanannya. Si pegulat menjadi marah, sebab dia mengharapkan ada reaksi dari orang itu, sehingga dia dapat menghajarnya lagi dua-tiga atau empat kali atau bahkan meng-KO-nya dengan satu pukulan yang telak. Tetapi sekarang dia harus kembali kepada Syaikh dan melaporkannya. “Wahai Syaikhku, aku melihat hal yang sangat tidak biasa hari ini. Ketika Aku memukulnya, dia tidak bereaksi, tetapi dia melihatku dengan marah, dan Aku menunggu dia untuk menghampiriku sehingga Aku bisa menghajarnya, ternyata dia tidak melakukannya!” Grandsyaikh berkata,”lupakan saja!”

Hari berikutnya, Grandsyaikh berkata kepadanya, “Pergilah engkau ke tempat yang sama. Engkau akan menemukan orang lain, kali ini seorang pedagang lambung biri-biri (jeroan).” Pada saat itu, biasanya para pedagang menggantung semua bagian daging dan menjualnya. “Dengan yang satu ini, engkau boleh menggunakan tenaga yang lebih besar, kalau perlu dengan kekasaran untuk menghajarnya. Lalu perhatikan apa yang dikatakannya, kemudian engkau kembali dan ceritakan apa yang terjadi kepadaku.” ”Baiklah, Syaikh!” orang itu menjawab, “Perintahmu adalah keinginanku! Aku akan memukul siapa saja untukmu! Ini adalah perintah yang sangat mudah.” Dia pergi ke kota, menemukan orang yang dimaksud, dan dengan segala kekuatannya dia meninju orang itu hingga KO. Ketika orang itu terjatuh, dia berbalik badan dan tersenyum kepada pegulat itu tanpa berkata apa-apa. Lalu dia mengumpulkan barang-barangnya dan pergi. Kali ini si pegulat lebih marah lagi dibandingkan yang pertama. Mengapa orang itu tidak bereaksi sehingga dia bisa mengambil belati dan menghabisinya? Dia kembali kepada Syaikh dan melaporkan apa yang terjadi.

Hari berikutnya, Grandsyaikh berkata, “Aku utus engkau ke sebuah pertanian, di sana engkau akan menemukan orang yang sangat tua sedang membajak ladangnya. Sekarang jangan gunakan tanganmu, sebab dia adalah orang tua. Dia harus mendapatkan yang lebih baik, engkau harus menggunakan tongkat untuk memukulnya!” Sekarang si pegulat mulai berpikir, mengapa Syaikh menyuruhnya memukul anak muda? Bukankah tidak lebih baik jika Aku gunakan tongkat pada mereka, daripada untuk orang tua ini? Tetapi Syaikh lalu beranjak sambil berkata, “Gunakan tongkat dengan seluruh tenagamu sampai tongkat itu patah di punggungnya! Kalau tidak jangan kembali kepadaku.”

Perhatikanlah rahasia thariqat Naqsybandi, ketika Nabi Musa datang, beliau berkata,”Al ‘aynu bil ‘ayni was sinnu bis sinn,“ mata untuk mata dan gigi untuk gigi: jika seseorang menghantam kalian, kalian harus menghantam balik. Terlalu banyak keinginan (untuk berkuasa) di sana—karena hal itu memang dibenarkan pada masa itu—kenyataannya sampai sekarang juga masih berlaku. Ketika Nabi ‘Isa datang, beliau berkata, jika seseorang menamparmu di pipi kanan, berikan juga yang kiri. Di sini juga masih terdapat keinginan, sama halnya bila kalian berkata, “Baiklah, pukullah aku di sisi yang ini juga.” Masih ada suatu keinginan dari dirimu. Dalam ajaran Naqsybandi, kalian bahkan tidak diizinkan untuk memiliki keinginan itu.

Sekarang, sesuatu telah merasuk ke dalam hati si pegulat dan mengubah dirinya. Tetapi dia tidak menolak perintah yang diberikan oleh Syaikh. Sekarang jika Syaikh menyuruhmu untuk memukul orang dengan sebuah tongkat, apa yang akan kalian katakan? Kalian akan menolak perintah itu. Seorang murid mengambil tongkat dan pergi, tetapi dia merasa bimbang sekarang. Mengapa dia harus memukul orang tua itu? Namun dia tetap pergi juga ke ladang dan menemukannya, seperti yang dikatakan Syaikh, orang itu sedang membajak ladangnya. Dia berjalan di belakangnya, dan mengingat pesan Syaikh bahwa dia harus mematahkan tongkatnya di punggung orang tua itu. Pada saat itu perasaannya bercampur, sedih dan gembira, lain halnya pada kedua orang sebelumnya, di mana dia benar-benar bisa menikmatinya!

Dia mengambil tongkat dan memukul punggung orang tua itu. Tetapi karena perasaannya galau, dia tidak melakukannya dengan tenaga yang cukup untuk mematahkan tongkat itu. Segera setelah dia memukulnya, petani itu menginjak alat bajaknya, lebih dalam agar bisa bekerja lebih cepat, tanpa melihat ke belakangnya. Si pegulat berpikir, “Aku harus mematahkan tongkat ini.” Dengan segala kekuatannya sekarang dia memukul kembali, namun masih belum bisa mematahkan tongkatnya. Petani itu menekan kembali alat bajaknya dengan penuh tenaga sehigga kerbaunya makin cepat bergerak, demikian cepat sampai petani itu jatuh berlutut. Tetapi si pegulat harus mematahkan tongkatnya, sekarang dia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan dengan seluruh tenaga yang dimiliki, dia ayunkan tongkat itu ke atas punggung petani hingga tongkatnya patah.

Orang tua yang malang itu terjerembab ke tanah, tetapi dengan segera dia bangkit dan mendatangi pegulat tadi dengan merangkak. Tanpa sepatah kata pun, dia meraih tangan si pegulat dan berucap, “Berikanlah tanganmu, biarkan aku menciumnya. Karena dosa-dosaku Syaikh mengutusmu kepadaku untuk memperbaiki aku. Aku tahu kalau aku melakukan kesalahan. Engkau adalah alat untuk mengoreksi kesalahanku.” Orang tua ini berkata demikian meskipun dia membutuhkan koreksi sebab dia telah menjadi orang yang “terkoreksi”, dia adalah seorang murid thariqat Naqsybandi, yang berarti dia telah mencapai derajat yang tinggi. Dia melanjutkan, “Aku menyebabkan tanganmu merasa sakit karena harus memukulku dengan keras. Maafkanlah aku, janganlah engkau menentangku di Hari Pembalasan nanti, dalam kehadiran Allah , Rasulullah dan Syaikhku! Aku merasa malu terhadap Syaikhku, yang mengirimkanmu kepadaku untuk mengoreksiku. Maafkanlah aku karena menyakiti tanganmu.” Dia bahkan tidak menyinggung-nyinggung soal punggungnya.

Bagaikan tersiram air dingin, pegulat itu meleleh. Dia kembali kepada Grandsyaikh dengan perasaan sangat malu. Di sana, Grandsyaikh menyuruhnya duduk dan menerangkan semuanya. “Wahai anakku, orang pertama yang engkau temui adalah orang pada tingkat pertama, seorang pemula yang belum memasuki thariqat Naqsybandi. Ketika engkau menepuknya, dia hanya melihatmu, tetapi dia melihat dengan kemarahan. Hal itu berarti dia tahu ini berasal dariku, bahwa aku mengutusmu untuk mengoreksinya, tetapi dia tetap memiliki rasa marah dalam hatinya, sehingga engkau bisa melihat pada raut mukanya. Orang kedua berada di tingkat kedua, musta’idd, “siap” untuk masuk dan menjalani thariqat Naqsybandi. Ketika kalian memukulnya, dia menoleh padamu, tetapi dia tertawa, ini menunjukkan adanya suatu keinginan, seolah-olah dia berkata, “Wahai Syaikhku, Aku tahu ini berasal darimu dan Aku tertawa. Engkau mengujiku, dan Aku akan bertahan.” Oleh sebab itu di sana masih terdapat suatu keinginan.

Perhatikan hal-hal kecil yang diperhatikan oleh Syaikh. Maulana mengatakan sesuatu, lalu orang-orang menentang, berkeberatan, atau menolaknya. Jika kalian menolak, mengapa kalian mengikuti Maulana? Kalian mengikutinya untuk belajar. Oleh sebab itu, belajarlah sebanyak-banyaknya. Jika kalian tidak menolak, jangan melawan, jangan berkeberatan, apapun yang ingin dilakukan Maulana kepadamu, apakah boots, atau sepatu atau tanpa sepatu. Jangan bertanya mengapa…terima saja. Apa yang akan terjadi? Apakah kalian menginginkan cinta Maulana atau cinta orang-orang? Apakah kalian menginginkan gelar dari Allah dan dari Surga, gelar dari Syaikh atau kalian ingin mendapat gelar dari orang-orang yang akan memanggilmu Syaikh?

Orang ketiga yang harus dipukul oleh si pegulat, ketika dia terjatuh dan tongkatnya patah di punggungnya, menoleh ke belakang dan mencium tangan penyerangnya. Dia berkata kepadanya, “Maafkan aku karena menyebabkan tanganmu terluka karena dosa-dosaku, jika aku bukan pendosa, Syaikhku tidak akan mengirimkan engkau kepadaku untuk mengoreksiku.” Orang itu tidak mempunyai dosa, dia termasuk pengikut thariqat Naqsybandi dan telah berusia 80 tahun. Tetapi dia masih menganggap dirinya pendosa dan menerima anggapan bahwa dirinya seperti itu. Dia tidak ingin memberitahu egonya bahwa dia adalah sesuatu. Kalian harus selalu menempatkan egomu serendah-rendahnya dan katakan kepada egomu, “Meskipun kalian adalah Wali terbesar, kalian tetap bukan apa-apa.” Sebagaimana yang dikatakan oleh Maulana Syaikh Nazhim , “Saya selalu berusaha untuk berkata kepada ego bahwa Saya adalah debu—tidak eksis.” Kalian tidak bisa memberikan sesuatu kepada egomu untuk dibanggakan. Kalau tidak, dia akan membunuhmu, padahal kalianlah yang harus membunuhnya.

Orang tua itu berkata, ”Maafkan aku karena menyakiti tanganmu. Di Hari Pembalasan jangan datang kepada Allah dan meminta pembalasan terhadapku. Oleh sebab itu, biarlah kucium tanganmu.“ Sangat penting bagi seseorang yang tidak bersalah, menganggap dirinya bersalah. Ini adalah pengorbanan terbesar. Ketika Sayyidina Abu Yazid Tayfur al-Bistami pergi dengan kapal laut pada saat badai, kapten kapal berpikir bahwa kapalnya akan terbalik, sehingga dia berteriak, “Pasti ada seorang pendosa di antara kita! Kita harus melemparkan orang itu ke laut agar menjadi tenang.” Sayyidina Abu Yazid mengamati mereka dan berkata, “Mereka ini adalah sekumpulan orang-orang bodoh, mereka akan melemparkan seseorang yang tidak bersalah ke laut.” Beliau mengorbankan dirinya dan berkata, “Akulah si pendosa.” Lalu mereka melemparkan dirinya ke laut, dan laut pun menjadi tenang.

Menganggap dirimu seorang pendosa meskipun sebenarnya bukan adalah pengorbanan terbesar. Grandsyaikh melanjutkan, “Orang yang berumur 80 tahun itu adalah murid thariqat Naqsybandi, sebab dia melihat segala sesuatu yang datang berasal dari Syaikh, bukan dari si-X, Y, atau Z.” Maulana Syaikh Nazhim membawa kita ke sini (Masjid Pekham di London) setiap tahun untuk menguji kita, sebab ini adalah tempat untuk percobaan. Di sini terdapat berbagai macam kesulitan. Seperti halnya naik haji, setiap orang bertengkar dengan yang lain, sebab terlalu banyak orang dan terlalu banyak urusan. Kalian harus belajar bersabar.

Kalian harus melihat segala yang berada di sini, khususnya dalam masjid ini (Pekham) berasal dari Syaikh. Bahkan jika orang-orang di sekitar kita terlihat sangat menderita baik laki-laki maupun perempuan, kita harus menyadari bahwa di tempat ini kita berada di laboratorium dan kita akan mendapatkan pelajaran. Syaikh melihat segala hal. Seseorang yang berperilaku tidak baik harus menanggalkannya kepada Syaykh. Syaikh kalian yang akan melakukan pembalasan atau memberi hukuman. Jangan lakukan hakmu dengan tanganmu sendiri. Jika kalian melakukannya sendiri, dia akan mengutus orang lain untuk mengambil hukuman darimu juga. Tinggalkan segalanya kepada Syaikh. Jangan berkata bahwa Syaikh tidak mengetahui apa yang terjadi, beliau tahu, tetapi hanya akan ikut campur bila perlu.

Mari kita mencoba untuk memahami hikmah dari kedatangan kalian dari seluruh penjuru dunia ini. Banyak masjid dan tempat beribadah di negara masing-masing. Mengapa kalian datang ke sini? Kalian datang ke sini demi Maulana Syaikh Nazhim . Oleh sebab itu kalian harus berperilaku sopan, sehingga beliau akan merasa senang. Kita juga tidak boleh bertindak bertentangan dengan kehendaknya. Kita harus bertindak sesuai dengan ajarannya. Biarkan setiap orang melihat yang lain seperti termotivasi dan bergerak sesuai kehendak Syaikh, sehingga tidak akan ada keributan, dan ruangan ini tidak terlalu padat dengan orang. Tetapi jika beberapa orang ingin makan makanan terbaik dan meraihnya duluan, sudah tentu orang-orang akan marah dan bertindak sesuai egonya.

Maulana Shayakh Nazhim membawa kalian ke sini dan membiarkan kalian menghadapi egomu. Ini lebih baik dari pada memerintahkan kalian berkhalwat. Tipe khalwat semacam ini lebih baik bagimu dari pada berkhalwat selama 40 hari, ini akan membuat orang pergi jauh, sebab itu adalah khlawat terberat. Ketika beliau memerintahkan kalian untuk melakukan khalwat 40 hari, kalian tidak akan sangggup melakukannya. Egomu akan datang dan membunuhmu. Belum ada orang yang mempunyai pengalaman semacam ini. Dan jika kalian tidak punya pengalaman semacam ini, kalian harus mencium kaki Maulana Syaikh Nazhim untuk berterima kasih karena tidak menyuruhmu untuk melakukannya. Berkhalwat di masjid sudah cukup buat kalian, sebab itu melatih kesabaran dan memberimu pengalaman.

Lalu Grandsyaikh berbicara kepada si pegulat, “Wahai anakku, ini belum cukup, Aku akan membawamu piknik, ikutlah bersamaku.” Sekarang tibalah pelajaran yang paling penting. Si pegulat yang datang dengan tinju dan memukul setiap orang, di akhir hari ketiga dia menjadi seekor semut yang dapat diinjak dan dibunuh oleh setiap orang. Kebanggaan dan egonya telah luntur disebabkan oleh apa yang ditunjukkan oleh Grandshayakh. Mereka lalu pergi ke kebun apel yang penuh dengan pohon-pohon apel. “Wahai anakku,” beliau berkata, “Lihatlah pohon yang penuh dengan apel itu. Sekarang ambil sebuah batu yang besar (melambangkan kemampuan memukulnya), lalu lemparkan ke pohon itu (memukul setiap orang), lalu lihat bagaimana reaksinya (siapa yang akan menentang dan siapa yang menyerahkan segalanya kepada Syaikh). “

Ini adalah pelajaran buat seluruh orang yang hadir. Kita semua berada dalam tingkat yang sama. Bahkan seorang anak kecil di masjid ini mempunyai tingkatan yang sama dengan kita. Laki-laki dan perempuan sama derajatnya, tidak ada diskriminasi dalam kamus Maulana Syaikh Nazhim . Allah tidak menyukai diskriminasi. Jangan berkata: putih, hitam, kuning, hijau, Inggris, Kanada, Jerman, Amerika, Arab…Tidak ada yang seperti itu. Jika kalian menganggap ada yang seperti itu, maka Maulana adalah Sipriot dan tidak perlu orang-orang mengikutinya selain orang Siprus sendiri. Tetapi kalian tidak bisa berkata mengapa ada diskriminasi di antara semua bangsa? Hilangkan itu dari hatimu. Rasulullah bersabda, “La farqa bayna ‘arabiyyin wa la a’jamiyyin illa bit taqwa,” “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab, kecuali dalam hal ketaqwaannya.” (Ahmad, Haytami, Ibn Jawzi, Suyuti), meskipun Rasulullah sendiri adalah seorang Arab. Anggaplah sama bagi semua pengikut Maulana Syaikh Nazhim , tidak ada perbedaan di antara mereka, kecuali dalam hal ketaqwaannya.

Si pegulat mengambil batu dan melemparkannya ke pohon apel itu. Saking kuatnya, lemparan itu menyebabkan salah satu cabangnya patah dan 10 buah apel terjatuh. Grandsyaikh berkata, ”Anakku, apa yang telah engkau perbuat dengan pohon itu? Engkau telah menyakitinya dengan melempar batu kepadanya, engkau juga telah mematahkan cabangnya. Engkau juga memukul dan membunuh! Tetapi lihat apa balasan yang diberikan oleh pohon itu ? Dia memberimu 10 buah apel yang masing-masing lebih manis dari yang lainnya.”

Hal ini berarti, jika seseorang melukaimu, kalian harus membalasnya dengan kebaikan. Jika seseorang menyakitimu, kalian harus berkata, ”Ya Tuhanku, Ya Rasulullah , Ya Syaikh, orang itu telah menyakiti dan melukaiku, oleh sebab itu Engkau akan memberiku pahala dan pahala itu kuberikan kembali kepadanya, Aku korbankan pahala itu untuknya, agar dia menjadi lebih baik. Aku memberikan semuanya untuknya. Inilah yang dipesankan oleh Rasulullah kepada kita bahwa, “La yu’minu ahadukum hatta yuhibbu li akhihi ma yuhibbu li nafsih,” “Seseorang belum menjadi mukmin sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya” (Bukhari—Muslim). Begitu juga dengan ajaran thariqat Naqsybandi yang menyatakan bahwa kalian harus mencintai saudaramu melebihi apa yang kalian cintai untuk dirimu sendiri.

Ketika orang lain menyakitimu, kalian harus membalasnya dengan kebaikan.

Maulana berkata bahwa Allah telah membuat janji dengan para Wali Naqsybandi, bahwa di Hari Pembalasan nanti, Allah akan memanggil seluruh pengikut mereka. Pada awalnya Allah akan bertanya kepada budak-budaknya, “Apakah kalian mengikuti salah seorang Wali untuk sampai ke pintu Rasulullah ?” Jika mereka berkata, “Ya, Aku mengikuti Syaikh anu dan anu.” Allah akan memanggil Syaikh-nya dan berkata, “Ini adalah muridmu, Aku kirim dia ke Surga bersamamu.” Jika jawabannya, ”Ya Tuhanku, Aku tidak mengikuti Wali manapun,” Allah lalu bertanya, ”Apakah kalian pernah mendengar nama mereka?” Jika mereka menjawab, “Ya, Aku pernah mendengar seorang wali bernama Syaikh Nazhim atau Syaikh ‘Abdullah , atau Syaikh Naqsyband ,” Allah akan memanggil Wali tersebut dan berkata, “Aku kirimkan dia ke Surga bersamamu.” Maulana melanjutkan, jika seseorang berkata, “Ya Tuhanku, Aku pernah mendengar nama seorang Wali, tetapi Aku tidak menyukainya, bahkan Aku pernah mengutuknya.” Namun demikian Allah tetap akan memanggil Syaikh itu dan berkata, “Orang itu mengutukmu, tetapi ambilah dosanya dan tanggunglah bebannya, bagi-Ku sudah cukup kalau dia mendengar namamu, akan Kukirimkan dia ke Surga bersamamu.” Allah telah memberi karunia ini kepada para Awliya. Bahkan jika kalian berkata bahwa Maulana Syaikh itu buruk, sudah cukup baginya untuk membawamu ke Surga bersamanya.

Ini adalah rahasia thariqat Naqsybandi. Itulah sebabnya Maulana tidak peduli terhadap orang-orang yang mengutuknya, mengkritik, atau mencemarkan namanya, khususnya dari kelompok kita yang melakukan perbuatan atau perilaku yang buruk. Jika seseorang di jalan mendengar tentang Maulana Syaikh Nazhim tetapi tidak mencintainya, sudah cukup bagi Maulana untuk membawanya, itulah alasan mengapa beliau sering bepergian dari Timur sampai Barat. Beliau berada di bawah komando Rasulullah , dan tidak ada satu Wali pun yang pernah bepergian sebanyak beliau. Wali biasanya berdiam di suatu tempat dan orang-orang mengunjunginya. Sekarang, karena kita telah mencapai akhir zaman, Maulana yang menyebarkan rahasianya mulai dari Timur sampai ke Barat. Jika seseorang dapat mendengar namanya, sudah cukup baginya untuk dimasukkan dalam kelompoknya.

Jagalah cinta kepada beliau di hatimu, sebagaimana Maulana melakukannya, bahkan kepada orang yang mengutuknya. Kalian juga harus menerima serangan orang-orang yang menyakitimu dan membalas tindakan mereka itu dengan kebaikan dan pahala. Ingatlah hal ini, khususnya bagi orang-orang dalam kelompok kita. Maulana Syaikh menggunakan kalian untuk melihat hati setiap orang. Jika orang yang sedang diuji tidak melakukan kesalahan secara terbuka, sebagaimana yang mereka lakukan, yang lain tidak akan mendapat pelajaran. Pasti masih terdapat kesalahan di sana. Insiden yang terbuka hanya dapat dinilai oleh beliau, namun, pada saat yang sama dia akan menjadi contoh dan memberi pelajaran bagi yang lainnya. Kita tidak berhak untuk ikut campur. Kita harus menerimanya sebagai contoh dan belajar untuk berperilaku yang benar dari sekarang.

Grandsyaikh memperlihatkan kepada si pegulat yang datang dengan belati dan pedang untuk menjadi rendah hati dan meninggalkan egonya. Jika seseorang menyakitinya, sekarang dia harus membalasnya dengan kebaikan. Kita harus mempelajari hal yang sama. Jika kita mau mengikuti jalan yang dicontohkan oleh Syaikh, kita harus bisa menerima untuk tidak membalas seseorang yang menyakitimu, tetapi memberinya pahala. Ini sangat penting. Marilah kita camkan baik-baik dalam hati dan pikiran kita.

Rasulullah berkata, ketika beliau dilempari batu oleh orang kafir, beliau mengangkat kepalanya dan berdoa, ”Allahumma ihdi qawmi fa’innahum la ya’lamun,” “Ya Allah , berilah pahala bagi ummatku, karena ketidaktahuan mereka.” (Zubeydi, Suyuti). Ini adalah suatu perjalanan panjang dari perintah di masa Nabi Musa dan bahkan Nabi ‘Isa . Rasulullah bersabda, jika seseorang menyakiti atau melukaimu, mintakan ampunan baginya kepada Allah , dan Allah berfirman dalam al-Qur’an, ”Fa man ‘afa wa aslaha, fa ajruhu ‘alallah.” (as-Syura 40), “Siapapun yang memberi maaf dan membuat kedamaian akan mendapatkan pahalanya dari Allah .”

Wa min Allah at taufiq bi hurmat al-Fatiha.

Entry filed under: Rahasia Hati. Tags: .

Wangi Naqsybandiyya Jahiliyyah Kedua dan Kedatangan Imam Mahdi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 611,397 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: