Samudra Syah Naqsyband

April 6, 2007 at 3:09 am 1 komentar

Dua Jenis Ilmu Pengetahuan

“Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisa’ 59). Kita harus mematuhi Allah , kita harus patuh kepada Rasulullah , dan kita harus mematuhi para pemimpin kita. Hal ini harus dipegang dalam melakukan apa yang mereka katakan kepada kita dan dalam mengikuti jalan yang telah mereka tunjukkan kepada kita. Kita percaya bahwa kita membutuhkan bimbingan dalam menunjukkan jalan bagi kita—bukan berati kita tidak membutuhkannya, seperti yang dikatakan oleh sekelompok orang dewasa ini. Sebagaimana Allah memberikan Rasulullah seorang pemandu pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dalam wujud malaikat Jibril . Sebagaimana malaikat Jibril adalah pemandu bagi Rasulullah untuk mendekati Hadirat Ilahi, jadi kita juga membutuhkan pemandu untuk menunjukkan jalan menuju Rasulullah , dan kemudian Rasulullah akan menunjukkan jalan bagi kita untuk mendekati Allah .

Kita tidak peduli terhadap apa yang mungkin dikatakan oleh orang lain, dalam pengajaran ini kita bersifat terbuka, kita mengikuti apa yang diberikan oleh Maulana Syaikh Nazhim , beberapa harta Sufi yang sangat berharga berupa pengetahuan internal dan spiritualitas. Kita tidak akan menunggu untuk melihat apakah seseorang menerimanya atau merasa keberatan. Kita telah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari syariat, sedangkan yang ini adalah sebagian ajaran dari haqiqat—realitas. Untuk kesekian kalinya Saya ulangi bahwa realitas tanpa syariat tidak dapat dibenarkan. Kita harus melaksanakan syariat secara ketat dalam segala sikap dan tingkah laku kita. Syariat akan mengajarkan disiplin bagi tubuh kita sedangkan spiritualitas akan mengajarkan disiplin bagi jiwa kita. Insya Allah sekarang kita akan melanjutkan pembicaraan yang terhenti pada pertemuan minggu lalu.

Insya Allah, Allah tidak akan meninggalkan kita seperti ketika Dia meninggalkan Nabi Musa di gurun Sinai selama 40 tahun. Allah menjanjikan Nabi Musa untuk menghancurkan Fir’aun, namun selama 40 tahun Dia meninggalkannya di gurun dan setiap malam hanya berkata, “besok, besok.” Esok hari pun tiba, namun tidak ada kejadian apa-apa. Allah melihat hamba-Nya dengan Nama ash-Shabur, “Yang Maha Penyabar”. Dia tidak melihat hamba-Nya dengan Nama al-Jabbar, “Yang Maha Memaksa.” Dia melihat kita dengan Nama-Nya yang penuh rahmat, “ar-Rahmaan”, “ar-Rahiim” dan dengan atribut kesabaran. Itulah sebabnya Dia juga sabar dalam menghadapi Fir’aun. Maulana Syaikh Nazhim berkata bahwa Allah menciptakan semua makhluk karena Dia mencintainya. Jika Dia mencintai setiap orang, Dia ingin setiap orang percaya kepada-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia bersabar dan bersabar terus hingga saat terakhir. Mungkin kita akan ingat dan memohon ampun, dan masuk ke dalam Surga-Nya.

Itulah sebabnya Allah menciptakan para Awliya. Setelah Rasulullah tidak ada lagi Rasul yang lain. Beliau adalah Rasul terakhir. Tetapi Allah memberikan rahasia yang ditanamkan ke dalam hati beliau kepada para Sahabatnya, dan para Sahabat memberikannya kepada para Awliya. Dan menurut guru kita dunia tidak akan kekurangan seorang Wali pun. Jika salah satu Wali meninggal dengan segera dia digantikan yang lain. Di dunia ini terdapat 124.000 Wali yang masih hidup, sebagaimana terdapat 124.000 Nabi dan Rasul dan 124.000 Sahabat. Para Awliya ini diberikan sebagai hadiah kepada Rasulullah untuk membersihkan kita dari dosa. Salah satu Wali ini adalah Sayyidina Syah Naqsyband . Kisah singkat berikut ini akan menolong kita untuk memahami siapa Wali ini.

Setelah Rasulullah , Thariqat Naqsybandi dipercayakan kepada Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq , kemudian diteruskan kepada Sayyidina Salman al-Farisi , Sayyidina Qasim putra dari Sayyidina Abu Bakar , lalu kepada Sayyidina Ja’far ash-Shadiq putra dari Sayyidina Husain , dan selanjutnya kepada Sayyidina Abu Yazid al-Bistami . Beliau adalah orang yang kelima dan hidup 400 tahun sebelum Sayyidina Syah Naqsyband .

Ketika Sayyidina Abu Yazid mengetuk pintu, memohon izin untuk memasuki Hadirat Ilahi, Allah berkata kepadanya, “Wahai Abu Yazid , engkau tidak bisa memasuki Hadirat Ilahi-Ku tanpa mengetahui bagaimana cara mendekati-Ku.” Abu Yazid memohon, “Ya Tuhanku, ajarilah Aku cara mendekati-Mu.” Allah berkata, “Bersikaplah rendah hati, jadilah tempat sampah bagi hamba-hamba-Ku dan bagi seluruh ummat manusia.” Sayyidina Abu Yazid membuat dirinya begitu rendah hati sehingga seolah-olah beliau menjadi tempat sampah bagi semua orang. Para ulama di masanya memutuskan untuk membunuhnya. Pada saat itu beliau meninggalkan desanya dan pergi ke tepi laut, di sana beliau menemukan sebuah kapal yang akan berangkat ke negri lain. Beliau menaiki kapal itu dan kemudian kapal itu berangkat meninggalkan pantai. Di tengah laut tiba-tiba timbul badai yang sangat ganas yang merobohkan kapal dan menenggelamkannya. Abu Yazid berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah , jika Engkau membuat kapal ini tenggelam karena dosa-dosaku, Aku siap untuk dilemparkan ke dalam laut.” Sekonyong-konyong beliau melemparkan dirinya ke dalam laut dan seketika itu laut menjadi tenang.

Sayyidina Abu Yazid mengorbankan dirinya agar orang-orang tetap hidup, beliau membawa dosa-dosa mereka bersamanya dan menyingkirkan hukuman mereka. Ketika Abu Yazid berada dalam laut, beliau bersumpah bahwa beliau tidak akan muncul ke permukaan lagi sebelum menemukan kebenaran dan realitas, dan beliau memutuskan untuk pergi sebagaimana dalam al-Qur’an disebutkan, pergi ke “bumi ke tujuh” (ath-Thalaaq 12) untuk menemukan realitas dan membawanya kepada ummat manusia. Beliau menembus kedalaman air dengan kecepatan yang tidak bisa dibayangkan, menembus kegelapan yang satu menuju kegelapan yang lain. Beliau memasuki samudra pengetahuan yang satu menuju samudra pengetahuan yang lain mengenai seluruh alam semesata ini. Akhirnya beliau mencapai suatu tempat di mana beliau mendengar suara yang bunyinya seperti “HUUU…” seperti ketika orang meletakkan kerang laut atau benda lain di telinga mereka. Itu adalah bunyi sungai Khawtsar di Surga, gerakan atau aliran air yang dapat kita dengar di telinga kita.

Sayyidina Abu Yazid tiba di suatu tempat di mana beliau dapat mendengar suara itu. Beliau merasa heran dan ingin tahu siapa yang mengeluarkan suara itu. Maulana berkata, bahwa Sayyidina Abu Yazid , dengan kekuatan dan cahaya yang telah diberikan Allah ke dalam hatinya, dapat mengetahui dan mengucapkan nama-nama seluruh ummat manusia yang telah diciptakan Allah di muka bumi ini, lengkap dengan nama ayah dan ibunya tanpa kehilangan satu nama pun, mulai dari Nabi Adam sampai Hari Kiamat, hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Pada saat itu beliau menggunakan kekuatan ini untuk mengetahui berapa orang yang mengeluarkan bunyi tadi di tempat itu.

Nama “Hu” adalah Samudra bagi hal-hal yang ghaib. Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Qul HUwallaahu ahad,” “Katakanlah, HU (=Dia) adalah Allah , Yang Maha Esa” (al-Ikhlash 1). Oleh sebab itu HU merujuk kepada Allah , dan ini berada dalam ‘ilmul ghayb, pengetahuan tentang hal-hal yang ghaib yang tidak diketahui oleh orang-orang. Tak seorang pun yang dapat mengetahui seperti apa samudra ini dan bagaimana maknanya. Maulana berkata bahwa Sayyidina Bayazid menggunakan seluruh kekuatan yang telah diberikan oleh Allah untuk mengetahui berapa orang yang mengeluarkan suara itu, tidak hanya dalam lima menit tetapi selama 70 hari dan beliau tetap belum bisa mengetahui berapa jumlah orang yang berada di sana menghasilkan bunyi “Huu.” Kemudian beliau mengerahkan kekuatannya lagi, berusaha untuk mengetahui siapa yang mengajarkan mereka, dan akhirnya beliau mengetahui bahwa orang itu adalah Syah Naqsyband .

Sayyidina Bayazid mengetahui bahwa Wali itu akan muncul setelah beliau, melewati 10 orang Wali setelahnya, 500 tahun kemudian. Ruhnyalah yang mengajarkan ruh orang-orang di tempat itu. Maulana Syaikh Nazhim berkata bahwa orang-orang itu berasal dari dunia ini dan juga planet lain yang menjadi pengikut Thariqat Naqsybandi. Jangan dikira hanya kita saja, yang hidup di planet ini yang menjadi pengikut Thariqat Naqsybandi. Sayyidina Syah Naqsyband juga bertanggung jawab atas planet lain dan beliau mengajarkan mereka.

Ketika Abu Yazid al-Bistami mengetahui bahwa Syah Naqsyband adalah guru mereka, dalam hatinya beliau merasa ngeri jangan-jangan Syah Naqsyband akan berkata, “Mengapa engkau mengganggu murid-muridku? Mengapa engkau memasuki daerah yang bukan diperuntukkan untukmu?” Dengan segera beliau menjauh dari samudra itu, samudra Syah Naqsyband , pemimpin thariqat yang kita ikuti sekarang, insya Allah. Sayyidina Syah Naqsyband adalah guru kita dan beliau telah dianugerahkan suatu rahasia yang besar dalam hatinya, beliau telah meneruskan rahasia itu kepada para penerusnya hingga sekarang kepada Syaikh kita, Syaikh Muhammad Nazhim al-Haqqani . Dari rahasia itulah asal cerita mengenai Syah Naqsyband ini.

Ketika Allah memberikan kekuatan itu kepada Syah Naqsyband dan berkata kepadanya bahwa beliau akan menjadi pembantu Rasulullah untuk membantu manusia bertaubat atas dosa-dosanya, beliau menanyakan satu hal kepada Rasulullah . Beliau berkata, “Wahai Rasulku yang tercinta, jika engkau menghendaki aku menjadi pembantumu, Aku membutuhkan satu hal darimu. Aku harus memegang tanggung jawab atas malaikat-malaikat di pundak kanan dan di pundak kiri. Jika engkau memberiku tanggung jawab itu, maka Aku akan menerima tugas itu.” Setelah Rasulullah bertanya kepada Allah dan mendapat izin bagi Syah Naqsyband , maka Syah Naqsyband menerima untuk bertanggung jawab atas ummat ini.

Maulana berkata bahwa, setiap kali seseorang berbuat dosa, Syah Naqsyband berusaha untuk mengirim inspirasi ke dalam hati orang itu agar memohon ampun kepada Allah . Jika orang itu tidak memohon ampun dalam 24 jam, sebelum waktu Subuh, Syah Naqsyband akan memohon ampun atas nama orang itu, dan balasannya akan dituliskan di pundak orang itu.

Malam ini adalah malam Isra’ dan Mi’raj, malam di mana Rasulullah menghadap ke Hadirat Ilahi. Ketika Rasulullah memasuki Surga ketujuh, Sayyidina Jibril berkata kepadanya, “Ya Rasulullah , Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan bersamamu. Ini adalah batasku. Jika Aku memaksa masuk, Aku akan musnah terbakar.” Rasulullah berjalan sendiri menuju ke Hadirat Ilahi. Setelah tempat itu, apa pun yang diperoleh oleh Rasulullah , Jibril tidak mengetahuinya. Jika malaikat Jibril tidak sanggup mengetahui apa yang diperoleh oleh Rasulullah dari Tuhannya, bagaimana dia bisa menyampaikan al-Qur’an kepada Rasulullah . Jibril berdiri di tempatnya dan tidak sanggup untuk meneruskan perjalanannya. Jibril berkata kepada Rasulullah , “Engkau saja yang melanjutkan perjalanan ke Hadirat Tuhan kita.” Setelah itu Rasulullah sendiri yang melanjutkan perjalanannya. Apa yang beliau dapatkan adalah pengetahuan dari tingkat Jibril sampai kepada tingkat Allah , Maulana Syaikh berkata bahwa Rasulullah telah bergerak maju 5 kali 500.000 tahun—dalam mendekati Tuhannya dengan menembus lima lapisan, yang masing-masing berjarak 500.000 tahun, dan tahun Tuhan tidak sama dengan perhitungan tahun kita.

Hikmah dan pengetahuan apa yang diperoleh oleh Rasulullah di sana? Hal ini tidak ada yang mengetahuinya. Pengetahuan ini diperuntukkan khusus bagi Rasulullah dan beliau akan menjaganya hingga suatu waktu di mana semua orang telah masuk ke dalam Surga. Kita tidak peduli terhadap orang yang mungkin akan berkata “ya” atau “tidak”, kenyataannya Rasulullah telah memberikan pengetahuan di atas tingkat Jibril yang telah diperolehnya kepada para Wali, dan beliau juga telah memberikan pengetahuan yang diperolehnya di bawah tingkat Jibril kepada syariat. Ini adalah perbedaan antara syariat atau hukum dengan haqiqat atau realitas. Itulah makna dari hadits yang disampaikan oleh Sayyidina Abu Huraira mengenai dua jenis pengetahuan, “Rasulullah telah memasukkan dua jenis pengetahuan ke dalam hatiku. Yang satu Aku sampaikan kepada orang-orang”—ini adalah syariat, pengetahuan di bawah tingkat Jibril , “tetapi jika Aku mengatakan pengetahuan yang lainnya, mereka akan memotong leherku,” dan itulah pengetahuan di atas tingkat Jibril .

Itu juga perbedaan antara orang-orang yang menerima pengetahuan ini dan mereka yang menyangkalnya.

Ketika Rasulullah mendekati Hadirat Ilahi, beliau bertemu dengan seekor Singa yang sangat besar dan menjadi takut karenanya. Allah bertanya kepadanya, “Wahai Rasul-Ku yang tercinta, apa yang membuatmu takut terhadap dunia ini?” Beliau menjawab, “Wahai Tuhanku, Aku belum pernah merasa takut selama hidupku kecuali ketika melihat singa dalam Hadirat-Mu ini.” Maulana Syaikh berkata bahwa Rasulullah pun tidak mendapatkan semua pengetahuan dari Allah . Jika beliau mengetahui segala hal dari Allah maka beliau tidak akan merasa takut terhadap singa tersebut. Hal ini berarti bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh Rasulullah belum mencapai maksimum. Itulah sebabnya Rasulullah terus mengalami peningkatan, bahkan di makamnya sekalipun, dalam mencapai Hadirat Ilahi. Jika beliau tidak merasa takut, maka saat itu beliau tidak akan mengetahui rahasia ‘ilmul awwalin wa ‘ilmul akhirin, pengetahuan mengenai awal dan pengetahuan mengenai akhir, yang hanya dimiliki oleh Allah .

Namun pengetahuan yang telah diperoleh oleh Rasulullah akan dibuka nanti pada saat Imam Mahdi telah datang. Pengetahuan itu tidak bisa dibuka sekarang karena membutuhkan dukungan. Tanpa dukungan Imam Mahdi kepada para Awliya yang akan menyampaikan pengetahuan ini, orang-orang akan menggantungnya, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Sayyidina Abu Huraira . Kalian dapat melihat bahwa banyak Syaikh Sufi dalam sejarah Islam yang digantung karena mereka menyampaikan pengetahuan tersebut. Tanpa dukungan dari Imam Mahdi , tak seorang pun diperbolehkan untuk membicarakan pengetahuan ini. Sekarang kita hanya mencium hembusan aroma dari pengetahuan itu saja, seperti sebuah tetesan yang jatuh menimpa kita, agar kita mengerti bahwa ada pengetahuan spiritual yang tersimpan dalam hati dan bahwa pengetahuan itu akan disebarkan ke dalam hati setiap orang ketika Imam Mahdi telah datang. Namun sebelum beliau datang, setiap orang dapat mencium pengetahuan ini, dan mereka yang menginginkannya harus mengikuti majelis dzikir sebab tanpa mengikutinya, mereka tidak akan mendengar hal ini. Ini adalah pengetahuan tinggat tinggi bagi setiap orang—baik pembicara maupun yang hadir sama-sama mendengarkan. Pengetahuan ini tidak bisa diselesaikan hanya dalam sekali, lima atau sepuluh kali pertemuan.

Jika Saya mengucapkan kata-kata dari Sayyidina Abu Yazid al-Bistami ketika beliau berkata kepada Tuhannya, orang akan mengatakan bahwa kita termasuk orang kafir. Memang benar, jika kita yang mengucapkan kata-kata itu, kita adalah orang yang tidak beriman, tetapi lain halnya bila yang mengatakan adalah Abu Yazid al-Bistami , beliau adalah seorang mukmin. Beliau mengucapkannya karena beliau mengetahuinya, merasakan dan melihatnya. Tetapi bila kita yang mengatakannya, kita tidak akan melihat dan merasakannya, oleh sebab itu kita akan menjadi orang yang kafir, itulah bedanya. Beliau berkata, “Wahai Tuhanku, Mulki akbaru min mulkik,” “Kerajaanku lebih besar daripada kerajaan-Mu.” Apa arti dari ucapan itu? Beliau mengatakan kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menciptakan alam semesta ini dan Engkau telah berkata bahwa di Mata-Mu alam semesta ini tidak bernilai lebih dari sayap seekor nyamuk.”

“Law kanatid dunya ta’dilu ‘indallaahi janaha ba’udatin ma saqa kafiran minha syarbata ma’in,” “Jika dunia ini tidak lebih berharga daripada sayap seekor nyamuk dalam pandangan Allah , Dia akan menyangkal orang-orang kafir tak lebih dari segelas air” (Suyuti). Ini berarti bahwa kerajaan ini tidak bernilai, di lain pihak, “Engkau adalah kerajaanku, dan Engkau adalah segala-galanya. Itulah sebabnya kerajaanku lebih besar dan lebih baik daripada kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu adalah kami semua dan kami bukanlah apa-apa! Tetapi Engkau adalah kerajaan kami dan Engkau adalah segala-galanya, oleh sebab itu kerajaan kami lebih baik.”

Jika kita mengatakan hal ini dengan pemahaman kita, ini tidak bisa diterima. Jika Abu Yazid yang mengatakannya, beliau bersungguh-sungguh—kita tidak dapat menyamai beliau. Sayyidina Abu Huraira menyembunyikan banyak pengetahuan seperti itu seperti yang dikatakan dalam hadits (yang telah disebutkan di atas—red). Pengetahuan ini khusus ditujukan bagi para Awliya, alhamdulillah kalian percaya kepada Awliya dan ini adalah kepercayaan yang paling baik dan paling penting. Kita tidak menyangkal Rasulullah ! Hasha (dalam bahasa Turki, berarti Hush!) dan kita tidak menyangkal syariat—Hasha! Kita harus melakukan seperti yang ditunjukkan oleh syariat kepada kita dan seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah , tetapi kita tidak dapat menyangkal adanya Wali yang menjadi penolong dan pemandu bagi kita untuk membuat hati kita bersih dan suci dari kehidupan materialistik ini.

Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.

Entry filed under: Rahasia Hati. Tags: .

Tiga Cahaya Ummat Manusia Perantaraan Wali

1 Komentar Add your own

  • 1. vika  |  Oktober 31, 2011 pukul 2:14 am

    bolehkah wanita bergabung dengan komunitas sufi?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 611,398 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: