Perantaraan Wali

April 6, 2007 at 3:10 am Tinggalkan komentar

Mas Kawin Fatima

Kita harus bergembira. Tak perlu bersedih. Allah telah menciptakan kalian. Jika Dia tidak menciptakanmu, kalian tidak akan pernah ada. Berusahalah untuk selalu bergembira dan puas terhadap kondisi yang telah digariskan Allah  kepadamu. Jangan pernah berkeberatan, apapun yang kalian jumpai dalam hidup ini. Jika kalian melihatnya dengan perspektif yang baik, kalian akan merasakan kebaikannya. Sebaliknya, jika kalian melihatnya dengan perspektif yang buruk, kalian juga akan mendapatkan keburukan dalam dirimu.

Hari ini adalah hari kedua di bulan Rajab. Rasulullah bersabda, “Rajab adalah bulan Allah , Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku.” Beliau mengatakan, “Sya’ban adalah bulanku,” berarti Allah telah memberinya, salahiyya, kontrol terhadap seluruh ummat manusia di bulan itu. Tidak ada malaikat yang dapat menulis sesuatu tentang kalian, tanpa bertanya kepada Rasulullah . Sebagaimana Allah mencintai ummat manusia dan menciptakan mereka dengan sempurna, begitu juga Rasulullah diciptakan oleh Allah dan diberikan kekuasaan itu terhadap seluruh ummat ini untuk menjaga mereka agar tetap murni dan bersih. Oleh sebab itu Rasulullah memerintahkan seluruh Wali di seluruh dunia selama 24 jam untuk membantu menolongnya dalam membersihkan dan menyeimbangkan kebaikan dan keburukan dalam diri setiap orang.

Rahasia Sufi bukanlah rahasia. Mereka hanya tampak rahasia bagi orang yang belum pernah mendengar sebelumnya. Kepada yang lainnya mereka sangat familiar sebab mereka selalu bersama Rasulullah , dan selalu mendapat pengetahuan tingkat tinggi dari hatinya.

Untuk setiap huruf dalam al-Qur’an, Allah telah memberi Rasulullah 12.000 Samudra Pengetahuan. Jangan berpikir bahwa, “alif” yang merupakan salah satu huruf dalam al-Qur’an hanya sebagai huruf tunggal, jika diulang maka itu dianggap sebagai huruf baru. Oleh sebab itu, setiap munculnya satu huruf alfabet dalam al-Qur’an terdapat 12.000 Samudra Pengetahuan bersamanya. Semua yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah kepada kita, yaitu berupa pengetahuan yang mengikuti perintah Allah bagaikan tetesan dalam samudra. Allah menjaga apa yang tertinggal agar nanti hati manusia dapat menemukannya, dengan tubuh fisik ini kita tidak dapat mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa Sayyidina Abu Huraira tidak dapat menerangkan semua yang diberikan oleh Rasulullah ke dalam hatinya. Mengapa mereka akan memotong lehernya? Karena mereka cemburu.

Cendikiawan Muslim, Kristen, Yahudi—cemburu terhadap Surga. Mereka tidak ingin seluruh ummat manusia memasukinya, hanya orang-orang dari golongan mereka saja yang berhak memasukinya. Allah berkata, tidak ada diskriminasi, seluruh ummat manusia adalah hamba-Nya dan dengan demikian sama derajatnya—Muslim, Hindu, Yahudi, Kristen dan semua orang. Kita sebagai pengikut Rasulullah setuju dengan sabdanya, bahwa seluruh ummat manusia adalah sama. Untuk mengilustrasikannnya, berikut ini ada sebuah kisah yang berasal dari Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani dan Syaikh Nazhim al-Haqqani . Cerita ini termasuk salah satu rahasia yang tersembunyi, yang akan dibuka pada saat datangnya Imam Mahdi dan Nabi ‘Isa , Insya Allah.

Rasulullah memerintahkan Sayyidina ‘Umar dan Sayyidina ‘Ali , bahwa segera setelah beliau wafat, sebelum pemakaman dan setelah dishalatkan, jubahnya harus diserahkan kepada Sayyidina Uwais al-Qarani sebab beliau harus memegang dan menjaga jubah tersebut. Rasulullah juga berkata kepada mereka untuk menyerahkan diri mereka sebagai amanat darinya. Mereka berdua keheranan, bagaimana mereka sebagai sahabat terbaik Rasulullah menyerahkan diri mereka kepada Uwais , dan siapa pula Uwais yang tidak pernah bertemu Rasulullah ? Mengapa dia tidak pernah muncul? Karena ibunya berkata kepadanya, “Jangan tinggalkan aku sendiri, jangan pergi.” Jadi beliau tidak pergi.

Setelah Rasulullah meninggal dunia, beliau sangat banyak mengeluarkan keringat. Jika kalian melihat orang meninggal kalian akan menyaksikan orang itu mengeluarkan banyak keringat, banyak sekali air yang keluar dari tubuhnya. Rasulullah adalah yang paling banyak mengeluarkan keringat dibandingkan seluruh orang di dunia ini. Siapa saja dapat dengan mudah memeras keringat dari jubah beliau, karena jubah itu benar-benar dibasahi air. Kemudian Sayyidina ‘Umar dan Sayyidina ‘Ali melepaskan jubah Rasulullah dan pergi ke kampung Uwais , tempat yang telah disebutkan oleh Rasulullah . Di sana mereka bertanya di mana Uwais al-Qarani , tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana Uwais al-Qarani berada. Sayyidina ‘Umar mulai jengkel—bagaimana Rasulullah memerintahkan mereka untuk menemukan seseorang yang tidak mungkin ditemukan? Sayyidina ‘Ali berkata, “Wahai ‘Umar , jangan ada keraguan di hatimu, tetapi tunggu dan bersabarlah. Mari kita lihat masalahnya dengan cermat. Jika Rasulullah berkata bahwa sesuatu itu ada, pastilah dia ada dan kita akan menemukan Uwais , insya Allah.”

Setelah mereka bertanya lebih banyak lagi, mereka akhirnya menemukan Sayyidina Uwais al-Qarani sedang duduk di batu dengan tongkat di tangannya. Ibunya berada di sampingnya. Rupanya Uwais adalah seorang pengembala ternak. Sayyidina Umar bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “’Abdullah (hamba Allah )” “Siapa nama keluargamu?” “’Abdullah”—“Aku juga ‘Abdullah” kata Sayyidina ‘Umar yang mulai bingung. “Siapa nama aslimu?” “’Abdullah adalah nama asliku.” Lalu Sayyidina ‘Umar menoleh pada Sayyidina ‘Ali dan berkata, “Kita tidak menemukan orang yang cocok. Namanya ‘Abdullah, bagaimana Rasulullah berkata kepada kita bahwa kita dapat menemukan Uwais al-Qarani ?” Sayyidina ‘Ali berkata kepada orang itu, “Wahai ‘Abdullah, Aku menerima kenyataan bahwa namamu adalah ‘Abdullah, tetapi bagaimana orang biasa memanggilmu?” Dia menjawab, “Uwais al-Qarani .”

Nama asli setiap orang adalah ‘Abdullah, hamba Allah . Kemana pun kalian pergi, setiap orang memiliki 7 nama dalam pelat-pelat yang terpelihara, salah satunya adalah nama itu. Ini adalah nikmat Allah yang telah dijamin bagi semua orang, yaitu bahwa mereka adalah hamba Allah .

Sayyidina ‘Umar bergembira. Beberapa saat kemudian Sayyidina Uwais berkata, “Berikan amanat yang diberikan oleh Rasulullah kepadaku.” Bagaimana beliau mengetahui bahwa Rasulullah mengirim jubahnya untuknya, padahal beliau tidak pernah bertemu dengannya? Beliau mengambil jubah itu dan meletakkan di atas kepalanya. Beliau lalu melihat Sayyidina ‘Umar dan bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang ada di jubah ini?” Sayyidina ‘Umar menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Sayyidina Uwais al-Qarani menjawab, “Jubah ini berisi rahasia seluruh ummat manusia, dan Rasulullah memberikan tanggung jawab itu di pundakku.”

Allah telah menciptakan dunia ini dan tidak akan meninggalkannya. Dia mengirimkan utusan dan Wali ke dunia ini untuk menjaga agar manusia tetap bersih dari dosa dan kesalahan. Allah tidak menciptakan kita untuk dibuang ke Neraka. Dia menciptakan kita untuk ditempatkan di Surga. Dia menciptakan kita karena Dia mencintai kita. Jangan berpikir bahwa Dia ingin menghukum manusia. Dia menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayang yang lengkap. Bagaimana seorang ibu mencintai anaknya? Ini adalah sebuah tetesan dalam Samudra Cinta Allah . Dia akan membersihkan setiap orang dan menghukumnya sebelum dia meninggalkan dunia ini. Hal ini berjalan dengan mekanisme yang tidak kita ketahui.

Sayyidina ‘Umar bertanya, “Bagaimana rahmat bagi seluruh ummat manusia berada di jubah ini?” Sayyidina Uwais menjawab, “Wahai ‘Umar pernahkah kalian melihat Rasulullah ?” Dia menjawab, “Pertanyaan bodoh macam apa ini? Aku selalu bersamanya setiap hari.” “Lukiskan beliau kepadaku!”, kata Sayyidina Uwais . Lalu Sayyidina ‘Umar mulai menyebutkan ciri-ciri Rasulullah , mulai dari raut mukanya, warna matanya, dan seterusnya. “Semua orang juga mengenal beliau seperti itu. Kalian tidak melihat Rasulullah yang sesungguhnya. Bagaimana denganmu ‘Ali ? Pernahkah engkau melihat Rasulullah ?” tanya Sayyidina Uwais . “Aku melihatnya sekali. Beliau memanggilku dan berkata, ‘Wahai ‘Ali lihatlah diriku mulai dari perut ke atas,’ Aku melihatnya dan menemukan bahwa segalanya sampai ke lehernya berada di bawah singgasana Allah , tetapi Aku tidak dapat melihat lehernya. Dan beliau menyuruhku untuk melihat dari perut ke bawah, Aku melihat dan menemukan bahwa lututnya mencapai bumi ketujuh, tetapi Aku tidak dapat melihat kakinya. Lalu beliau menyuruhku untuk melihat seluruhnya, dan Aku melihat segalanya lenyap kecuali Rasulullah sendiri. Beliau adalah segalanya.”

Ini berarti jika Sayyidina ‘Ali dapat melihat di mana leher Rasulullah , dia akan seperti Rasulullah . Tidak ada yang bisa menyamainya, karena itu adalah batas baginya. Sayyidina ‘Ali juga tidak bisa melihat lututnya, dan itu telah mencapai bumi ketujuh. Tidak ada yang tahu apa dan di mana bumi ketujuh itu. Ini adalah suatu rahasia. “Beliau adalah segalanya,” merujuk pada apa yang kita bicarakan [pada pertemuan] sebelumnya, sehubungan dengan peciptaan kita oleh Allah dengan 3 macam cahaya, yaitu: Cahaya Ilahi, Cahaya Rasulullah , dan Cahaya Adam , dan berimplikasi dengan ayat al-Qur’an yang menyebutkan penghormatan Allah terhadap ummat manusia, (al-Isra’ 70). Bagaimana Allah memuliakan ummat manusia adalah suatu rahasia, tetapi dari rahasia itu kita dapat mengerti bahwa Allah telah memuliakan kita dengan menciptakan kita dari ketiga cahaya tersebut.

Sayyidina Uwais berkata kepada Sayyidina ‘Ali , “Wahai ‘Ali , engkau melihat Rasulullah sekali.” Sayyidina ‘Ali membalas, “Pernahkah engkau melihat beliau?” “Secara fisik belum pernah, tetapi secara spiritual Aku selalu bersamanya selama 24 jam.,” jawabnya. Sayyidina ‘Umar bertanya, “Lalu apa yang ada dalam jubah itu?” Beliau berkata, “Dengarkan baik-baik! Jika Aku harus duduk denganmu dan ummatmu, mereka akan memotong leherku. Itulah sebabnya Rasulullah memerintahkan aku untuk menjauhimu dan bersembunyi. Jika Aku bersamamu dan Aku menceritakan semua rahasia ini, tak seorang pun akan menerima dan memahaminya. Tetapi suatu waktu nanti, pada saat akhir zaman seluruh rahasia ini akan dibuka, yaitu pada saat kedatangan Imam Mahdi dan Nabi ‘Isa .”

Masa tersebut adalah sekarang, sebab seluruh tanda dan indikasi yang disebutkan oleh Rasulullah telah ada. Seluruh Wali juga menyatakan hal yang sama, bahwa di abad ini Imam Mahdi akan datang, begitu pula dengan Nabi ‘Isa . Kita semua berada di akhir dunia ini. Tidak banyak waktu tersisa. Setiap orang akan lebih suka hidup dengan cara yang mereka suka, tetapi pada kenyataannya mereka akan menjalani hidup yang telah ditentukan oleh Allah .

Sayyidina Uwais berkata kepada Sayyidina ‘Umar , “Wahai ‘Umar sebelum Rasulullah lahir, beliau sudah menyebut ‘ummatku, ummatku’ dalam rahim ibunya, ketika beliau lahir juga disebutkan ‘ummatku, ummatku’ dan demikian pula ketika beliau meninggal.” Rasulullah memohon kepada Allah , “Aku ingin menjadi perantara bagi ummatku, Aku ingin menolong ummat manusia, Aku ingin menjaga cahaya yang Engkau berikan kepada ummat manusia tetap bersih dan murni. Aku membutuhkan kontrol dan kekuatan ini.” Ketika beliau wafat, Rasulullah menolak untuk wafat kecuali dengan 1 syarat, yaitu beliau harus bisa membawa seluruh dosa dan beban seluruh ummat manusia tanpa kecuali. Dengan syarat tersebut beliau memohon kepada Allah , “Aku akan datang ke Hadirat-Mu, kalau tidak aku akan tetap tinggal di sini.” Allah menjawab, “Terserah padamu!”

Kemudian Rasulullah memanggil semua makhluk hidup, setiap orang dengan namanya masing-masing, baik yang masih hidup atau sudah meninggal atau bahkan yang belum lahir sampai Hari Pembalasan. Beliau memanggil setiap ruh secara perorangan. Mereka datang ke hadiratnya dan menerima beliau sebagai rasul dan mengucapkan syahadat di hadapannya, lalu bertaubat atas dosa-dosanya dan menyesali kesalahan mereka. Rasulullah tidak membiarkan seorang pun pergi tanpa mendapat pengampunan dari Allah . Dengan pengampunan dari Allah tersebut, beliau berkeringat dan setiap tetes keringatnya melambangkan satu ruh manusia.

“Jubah itu berisi tetesan keringat, atau simbol, atau ruh dari ummat manusia yang menjadi beban di pundak Rasulullah . Beliau menyerahkannya kepadaku sebagai amanat untuk dijaga sampai waktunya nanti, di mana beliau akan ditanya tentang mereka.“ Jubah ini akan diteruskan lewat Mata Rantai Emas dari satu Wali ke Wali berikutnya sampai masa kita, dan selanjutkan akan diserahkan kepada Imam Mahdi ketika beliau muncul dan kemudian diserahkan kepada Nabi ‘Isa pada saat kemunculannya.

Sayyidina ‘Umar menangis dan berkata, “Orang bodoh macam apa aku ini yang tidak mengetahui segala macam rahasia ketika beliau masih hidup? Apakah Aku mempelajari sesuatu sekarang, setelah beliau wafat? Mengapa, wahai ‘Ali , mengapa engkau tidak mengatakan kepadaku bahwa engkau melihat beliau dengan cara seperti itu? Aku akan mendatanginya dan menanyakan kepadanya ibadah seperti apa yang harus kulakukan agar aku bisa melihatnya seperti yang engkau lakukan.” Setelah kejadian itu Sayyidina ‘Umar menangis terus selama hidupnya.

Bulan Rajab ini tidak akan berakhir sampai setiap orang di dunia ini dibersihkan dari dosa-dosanya dan cahaya ditempatkan dalam hatinya. Kekuatan yang diberikan Allah kepada Rasulullah untuk membersihkan hati ummat manusia juga diberikan kepada para Awliya. Wali-Wali tersebut adalah pembantu bagi Rasulullah di bulan ini. Itulah sebabnya mereka sibuk di bulan Rajab. Mereka tidak berbicara kepada orang-orang. Mereka menutup pintu mereka dan duduk di ruangannya, tidak keluar, terus-menerus hanya memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan ummat manusia.

Putri Rasulullah , Siti Fatima az-Zahra’ ketika dia melihat ayahnya terus-menerus menyebut ‘ummatku’, dia juga ingin melakukan sesuatu untuk kepentingan ummat. Lihat dan perhatikanlah bagaimana para Wali berusaha untuk menyelamatkan ummat manusia dan mencegah mereka agar tidak jatuh ke dalam dosa dan kesalahan. Ketika Allah memerintahkan untuk menikahkan putrinya kepada seseorang, Rasulullah memanggil semua Sahabatnya dan berkata kepada mereka, “Allah telah memerintahkan Aku malam ini untuk mengatakan bahwa barang siapa yang membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir di malam ini akan dinikahkan dengan putriku Fatima .”

Malam itu seluruh Sahabat berkumpul di masjid dan berusaha membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir, kecuali Sayyidina ‘Ali yang pulang ke rumah dan tidur. Ketika Bilal mengumandangkan adzan untuk shalat subuh, seluruhnya datang, Rasulullah pun hadir di sana. Setelah selesai shalat beliau bertanya, “Siapa yang menyelesaikan al-Qur’an tadi malam sehingga Aku dapat menikahkannya dengan putriku Fatima ?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan beliau, sebab sangat sulit untuk menyelesaikan 30 juz hanya dalam waktu 7 atau 8 jam. Sayyidina ‘Ali berkata, “Ya Rasulullah , Aku menyelesaikannya.” Mereka melihatnya dengan iri dan berkata, “Bagaimana engkau menyelesaikannya? Engkau tidur semalaman.” Dia berkata, “Tidak, Aku menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir.” Rasulullah berkata kepada Sayyidina ‘Ali , “Siapa saksimu?” Sayyidina Ali’ menjawab, “Allah saksiku, dan engkau Ya Rasulullah , adalah saksiku bahwa Aku telah menyelesaikannya.”

Sekarang dengarkan baik-baik karena Maulana Syaikh Nazhim sangat menekankan hal ini. Rasulullah sebagaimana yang kalian ketahui tidak pernah memperlihatkan bahwa beliau mengetahui sesuatu terjadi di luar batas normal, sebelum Jibril memberitahukannya. Oleh sebab itu beliau menunggu datangnya inspirasi dari malaikat Jibril . Akhirnya malaikat Jibril datang dan berkata, “Allah berkata bahwa ‘Ali telah berkata benar dan bahwa dia telah menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir, jadi tanyalah apa yang dilakukannya.” Rasulullah berkata kepada para Sahabat, “Sekarang malaikat Jibril telah datang kepadaku dan berkata bahwa ‘Ali telah menyelesaikan al-Qur’an dan Allah adalah saksinya. Dengan demikian Aku juga menjadi saksinya, dan Aku bertanya kepada ‘Ali apa yang telah dibacanya malam itu?” Sayyidina ‘Ali berkata, “Ya Rasulullah , Aku membaca Ashhadu an la ilaha illallah wa ashhadu anna Muhammadun Rasulullah 3 kali, lalu Qul huwallahu Ahad 3 kali, lalu Qul A’udzu bi rabbil falaq 1 kali dan Qul a’udzu bi rabbin nas 1 kali, dan La ilaha illahllah 10 kali serta Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim 10 kali.”

Rasulullah berkata, “Sebagaimana Allah telah menjadi saksi bahwa ‘Ali telah menyelesaikan al-Qur’an, Aku menyaksikan juga hal ini, bahwa jika kalian membaca apa yang telah kita dengar dari ‘Ali berarti kalian telah menyelesaikan al-Qur’an.” Pada saat itu juga keluar hadits yang menyatakan bila seseorang membaca surat al- Ikhlash 3 kali, seolah-olah dia telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Membaca surat ini setiap hari paling lama hanya menghabiskan waktu 2 menit, tetapi seolah-olah kalian telah membaca seluruh al-Qur’an. Orang yang tidak tahu duduk, mencoba membaca dan menyelesaikan al-Qur’an dengan bangga, tetapi mereka tidak dapat menyelesaikannya. Kalian dapat melakukan hal yang ringan ini dan menyelesaikannya, seolah-olah kalian telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Apa lagi yang kalian inginkan? Demikialah, akhirnya Fatima menikahi ‘Ali .

Lihatlah pernikahan Fatima itu, dan jangan katakan bahwa tidak ada kebebasan bagi wanita dalam Islam. Kalian akan salah. Allah telah memberikan kebebasan dan persamaan kepada pria maupun wanita. Mereka dapat memberikan pendapat mereka dan memberikan kesimpulannya sendiri. Bahkan Rasulullah menanyakan dulu kepada putrinya, dan berkata kepada para Sahabat, “Aku harus menanyakan putriku apakah dia menerima pernikahan ini atau tidak, itu adalah keputusannya. Orang-orang yang tidak mengerti sekarang menuduh bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita. Inilah yang mereka katakan dan kita tidak harus mempercayainya. Kita percaya terhadap apa yang kita baca dan kita dengar dari Rasulullah . Beliau memberikan persamaan, begitu pula dengan Allah . Wanita mempunyai hak yang sama dengan pria. Inilah yang kita yakini, dan khususnya orang Amerika harus waspada dengan pemikiran bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita.

Rasulullah bertanya kepada Fatima , “Wahai Fatima , apakah engkau menerima ‘Ali sebagai suamimu?” Dia berkata tidak. Seluruh sahabat menoleh pada Sayyidina ‘Ali , lalu Fatima , dan Rasulullah . Rasulullah merasakan mukanya memerah, mengapa Fatima berkata tidak? Apakah dia mencintai orang lain? Rasulullah tidak mengetahui apa yang harus dikatakan, dan malaikat Jibril datang dan berkata kepadanya, “Jangan terburu-buru mengambil keputusan tentang hal ini. Allah berpesan untuk menanyakan kepada Fatima mengapa dia tidak menerima pernikahannya.” Rasulullah berbalik kepada Siti Fatima dan bertanya, “Ya Fatima , engkau berkata tidak, tidak mengapa, ini adalah keputusanmu. Tetapi bisakah Aku mengtahui mengapa engkau menolaknya?” Dia berkata, “Aku hanya berkata tidak karena Aku tidak menerima kecuali dengan satu persyaratan. Ini bukan soal ‘Ali tetapi berhubungan denganku. Jika engkau mengabulkan persyaratan itu, Aku akan menerimanya, jika tidak Aku tidak akan menikah dengan ‘Ali .” Sekali lagi, malaikat Jibril datang kepada Rasulullah , dan berkata, “Allah memerintahkanmu untuk menanyakan apa persyaratan itu.” Sekarang perhatikan apa yang telah ditanamkan Allah dalam hati Fatima , dan pertimbangkan kebaikan dan posisi wanita dalam Islam.

Rasulullah berkata, “Ya Fatima apa yang menjadi syaratmu itu?” Dia berkata, itu sangat mudah. Jika engkau dan Allah menerima, Aku menerimanya. Jika Allah tidak menerimanya, Aku juga menolak untuk menikah. Ketika engkau datang ke dunia ini, engkau berkata, ‘ummatku, ummatku!’ dan selama hidupmu, siang dan malam, Aku mendengarmu di dalam rumah selalu memohon, ‘Ummatku, Ya Allah ! Izinkan Aku untuk membawa ummatku kepada-Mu Ya Allah ! Maafkanlah mereka! Murnikanlah mereka! Hapuskanlah dosa-dosa mereka, beban mereka dan kesulitan mereka!’ Aku mendengarmu, dan Aku tahu betapa menderitanya engkau untuk ummatmu. Dan Aku tahu dari apa yang telah engkau ucapkan bahwa ketika engkau meninggal, engkau akan tetap mengucapkankan ‘ummatku!’ kepada Allah , juga di dalam kuburmu, dan di Hari Pembalasan nanti.

“Ummatku” berarti seluruh ummat manusia. Rasulullah datang untuk seluruh ummat manusia—tidak hanya untuk Muslim. Salah besar untuk menafsirkan kata ummatku dengan cara demikian. Rasulullah datang untuk seluruh ummat manusia. Pada saat itu tidak ada Muslim dan beliau datang untuk seluruh ummat manusia, Kristen, Yahudi dan penyembah berhala dari masa Jahiliyyah. Orang-orang yang mempercayai beliau disebut Muslim, mereka juga dikenal dengan “Ummatul Ijaba,” artinya ummat bagi mereka yang menerima Rasulullah . Mereka yang tidak mempercayainya disebut “Ummatud da’wa,” artinya ummat (yang telah diberi) pesan, mereka berada di sisi luar, tetapi tetap saja Rasulullah datang kepada mereka, dengan demikian mereka juga adalah ummatnya.

Fatima melanjutkan, “Sejak Aku melihatmu, Ayahku, sangat menderita untuk ummatmu, dan karena cinta kepada ummatmu juga tumbuh dalam hatiku, Aku menginginkan ummatmu sebagai mas kawinku. Jika engkau menerimanya, Aku akan menikahi ‘Ali .” Dia meminta seluruh ummat Rasulullah —Yahudi, Kristen, Muslim, Buddha, Hindu, semua orang tanpa diskriminasi. “Aku menginginkan mereka sebagai mas kawinku agar Aku dapat menerimanya saat Aku berada di Hari Pembalasan nanti, dan menerima mas kawin itu dari Allah , sehingga Aku bisa memasukkan mereka ke dalam Surgaku. Jika engkau tidak menerimanya, Aku tidak akan menikahi ‘Ali .”

Apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah ? Beliau tidak bisa memberikan mas kawin semacam itu, karena itu tidak berada di tangannya. Beliau menunggu kedatangan Jibril , tetapi malaikat Jibril tidak datang dengan segera. Dia membiarkan Rasulullah menunggu beberapa saat, lalu datang dan mengatakan, “Allah menyampaikan Salam-Nya kepadamu, dan menerima permintaan Fatima , dan memberikan seluruh ummat manusia sebagai mas kawin untuk menikahi ‘Ali .” Dengan segera Rasulullah bangkit dan shalat syukur 2 rakaat untuk berterima kasih kepada Allah .

Fatima tidak berkata, “Aku menginginkan uang atau perhiasan,” sebagaimana wanita sekarang, pria berusaha untuk menikahi gadis yang kaya dan sebaliknya. Dia hanya melihat ummat Rasulullah . Tidak ada satu pun yang akan berada di luar mas kawinnya, karena jika Allah mengeluarkan satu orang saja, itu akan berarti dia telah ‘berzina’ dengan ‘Ali. Oleh sebab itu, dia akan mengambil seluruh ummat manusia di bawah sayapnya dan mereka akan masuk Surga bersamanya.

Ini berasal dari kekuatan satu orang wanita muslim. Dia membawa seluruh orang bersamanya untuk masuk Surga. Apakah kalian berpikir seseorang akan tertinggal di luar? Karena dia, tak seorang pun akan tertinggal di luar. Bagaimana dengan sebagian besar wanita dalam Islam? Apa yang akan menjadi kekuatan mereka? Bagaimana dengan para Wali? Bagaimana dengan Rasul-Rasul? Itulah sebabnya Allah menciptakan ummat manusia bersih, dan Dia menjaga tetap bersih dengan kekuatan seperti itu, dan sebagaimana Sayyidatina Fatima , Sayyidina ‘Ali , Sayyidina ‘Umar , Rasulullah , Grandsyaikh, Maulana Syaikh Nazhim , dan para Wali dari thariqat Naqsybandi—menjaga setiap orang agar tetap bersih dan murni.

Oleh sebab itu bergembiralah, puaslah dengan yang Allah berikan kepadamu. Jika kalian bergembira dan puas, kalian akan menemukan kegembiraan dan kepuasan sepanjang hidupmu.

Wa min Allah at taufiq

Entry filed under: Rahasia Hati. Tags: .

Samudra Syah Naqsyband Khalwat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 611,397 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: