Mata Rantai Emas Thariqat Naqsybandi

April 6, 2007 at 2:52 am Tinggalkan komentar

Yang menjadi judul dari setiap pelajaran adalah “Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisa’ 59). Kalian harus mematuhi Allah , patuh kepada Rasulullah dan para pemimpin kalian. Dengan mematuhi Rasulullah , berarti kalian mematuhi Allah . Oleh sebab itu jagalah agar Tuhan dan Rasulullah selalu berada dalam hatimu, dan bila kalian mematuhi gurumu, berarti kalian mematuhi Rasulullah .

Keberadaan seorang guru sangat penting dan setiap orang harus mempunyai seorang guru. Tanpa guru, tak seorang pun dapat mengalami kemajuan dan tak seorang pun bisa menemukan jejak dan jalur yang harus dituju. Bahkan Rasulullah dan seluruh Rasul yang diutus Allah ke dunia ini juga mempunyai guru. Mereka mempunyai Jibril sebagai guru mereka. Itulah sebabnya kita harus mempunyai seorang guru yang akan menunjukkan jalan kepada Rasulullah dan seterusnya kepada Allah . Jangan berpikir bahwa kalian dapat mencapai suatu tempat tanpa seorang guru, mustahil. Bila kalian menempuh jalan sendiri, kalian tidak akan mencapai suatu tempat karena jika kalian kehilangan jejak, kalian akan benar-benar tersesat. Oleh sebab itu gunakanlah seorang pemandu yang mengetahui jalan yang kalian tempuh, yaitu orang yang pernah melalui jalan itu sebelumnya, sehingga dia menjadi berpengalaman. Dia akan mengantarmu dan membimbingmu langsung menuju tujuanmu tanpa pergi ke sana ke mari, atau ke suatu tempat yang bisa menyesatkanmu.

Itulah sebabnya mengapa kita mempunyai Mata Rantai Emas yang merupakan mata rantai Guru-Guru yang sambung-menyambung dan kembali secara langsung, tanpa interupsi kepada Rasulullah . Inilah yang kita butuhkan, suatu jalinan langsung. Kita tidak menginginkan suatu mata rantai yang terputus di suatu tempat. Suatu pipa yang tertanam di dalam tanah dan membawa air dari satu desa ke desa yang lain harus benar-benar terjalin dengan baik. Jika terdapat satu lubang di suatu tempat, air itu tidak akan sampai. Jika mata rantai Wali itu terputus, kalian tidak akan sampai kepada Rasulullah .

Beberapa orang mengatakan, “Kami adalah pemeluk Budha, Hindu, Kristen, Judaisme, atau Yoga,” atau suatu bentuk agama dan kepercayaan lainnya. Jika kalian bertanya kepada mereka, “Siapa guru kalian?” Mereka akan menjawab, “si Anu dan Anu,” lalu siapa guru dari si Anu dan Anu tadi? Sekarang kami bukannya ingin menentang suatu agama atau kepercayaan, karena semuanya itu akan mengantarkan kalian menuju tujuan masing-masing, tetapi mengertilah apa yang kami tanyakan, siapa guru dari guru kalian tadi? Orang itu tidak akan tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Seseorang mungkin akan menjawab, “Kepercayaannya berasal dari ajaran mistik dari leluhur mereka yang telah berusia 2.000, 3.000, atau 6.000 tahun.” Lalu bagaimana kondisi “pipanya” dalam kurun waktu ribuan tahun itu? Siapa guru-guru yang membentuknya, guru-guru dan Guru Besar yang meneruskannya? Tidak ada yang mengetahuinya, mereka hanya mengenal dua, tiga atau empat guru, setelah itu tidak ada lagi.

Sebuah pohon yang tidak berakar tidak akan menghasilkan buah. Pohon yang perakarannya tidak kuat akan mudah diterpa angin karena pondasinya sangat lemah. Seorang guru tidak boleh “mencantelkan diri,” begitu saja tanpa orang-orang mengetahui siapa gurunya, siapa guru-guru sebelumnya sampai guru yang mendirikan jalur tersebut. Itulah sebabnya guru-guru Sufi merupakan guru-guru yang saling terhubung dan merupakan guru-guru terkuat di dunia, mereka mempunyai hubungan yang benar, mereka mengetahui para leluhur mereka. Jika kalian tidak mengetahui leluhur kalian, maka kalian tidak akan terhubung ke mana-mana atau tidak mengetahui ke mana kalian terhubung.

Dari Budha hingga sekarang, bisakah seseorang menghitung jumlah guru-gurunya? Atau dalam agama Hindu? Bagaimana dengan agama Sikh? Atau filosofi Cina? Jelaskan mengenai sekuen guru-guru mereka, atau paling tidak sebutkan nama-nama mereka sejak 3.000 tahun yang lalu. Kami menginginkan mata rantai yang tidak terputus, tanpa ada satu yang hilang. Kalian tidak akan menemukan mata rantai seperti itu, bahkan dalam spiritualitas Kristen atau filosofi Yahudi, kalian hanya bisa menemukannya dalam Sufisme. Dan tanpa mata rantai seperti itu kalian tidak bisa pergi ke mana-mana. Oleh sebab itu kalian membutuhkan guru Sufi untuk mengantarkan kalian menuju tujuan masing-masing.

Ini adalah pengetahuan yang diambil dari hati Sayyidina Muhammad dan dibawakan melalui mata rantai guru-guru tersebut. Kalian tidak bisa menemukannnya di buku apa pun.

Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani berkata, Allah memberkati rahasianya, bahwa beberapa saat setelah Rasulullah dilahirkan, beliau diambil oleh malaikat dari tangan ibunya. Dalam sekejap mereka sampai di Samudra al-Hayy. Allah mempunyai 99 Atribut, dan masing-masing merupakan Samudra Pengetahuan yang sangat luas sehingga tak seorang pun dapat memahaminya. Salah satu Samudra itu adalah Samudra al-Hayy, Yang Maha Hidup. Siapa pun yang mengetahui rahasia Nama itu, maka dia tidak akan mati. Dia akan hidup selamanya–bukan dia sendiri, melainkan bersama setiap orang, karena setiap orang hidup melalui cahaya Ilahi dalam hatinya. Ketika kalian berenang dalam Atribut Nama Ilahi tersebut, itu berarti kalian mempunyai cahaya itu sehingga kalian akan berada dalam hati setiap orang, dan mengetahui apa yang dilakukan oleh setiap orang. Itulah tempat di mana Rasulullah diambil oleh para malaikat yang diperintahkan untuk membersihkan hatinya dalam “Ma’ul Hayat,” Air Kehidupan. Segera setelah mereka meletakkannya dalam Air Kehidupan, beliau dengan segera memiliki dan disandangkan dengan “An-Nur al-Ilahi” Cahaya Ilahi. Dan setelah beliau disandangkan dengan Cahaya Ilahi tersebut, segalanya menjadi terbuka baginya, tidak ada lagi sekat yang tersisa. Selanjutnya Rasulullah disandangkan dengan Samudra Kekuatan Ilahi, “Bahrul Qudra.”

Oleh sebab itu ketika keluar dari Ma’ul Hayat, Rasulullah menerima tiga Atribut, yaitu: pertama, beliau dibersihkan dengan Air Kehidupan dan diberikan kehidupan yang abadi. Kedua, beliau menerima Cahaya Ilahi. Pada saat itu, sebagaima yang telah kami katakan, beliau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh setiap orang dan berada dalam hati setiap orang. Itulah arti dari ayat, “Wa’lamuu anna fikum rasuulullah,” “Ketahuilah bahwa Rasulullah ada bersamamu, di antara kalian dan dalam dirimu” (al-Hujurat 7), karena beliau telah disandangkan dengan Cahaya Ilahi tersebut. Itulah sebabnya Rasulullah dapat mengetahui apa yang kalian rasakan, bagaimana masa depan kalian, apa yang kalian lakukan, dan apa yang akan terjadi baik di sini maupun di hari kemudian. Allah memberinya kekuatan itu.

Yang ketiga, Rasulullah menerima Kekuatan Ilahi dari Samudra Kekuatan Ilahi. Semua ini bersumber pada suatu pengetahuan tingkat tinggi dan harus dipahami dengan seksama. Itu adalah atribut dari “Bahrul Qudra,” Samudra Kekuatan, yang pernah diminta oleh Nabi Musa namun tidak diberikan oleh Allah . Nabi Musa meminta agar Allah memberinya kekuatan dari Samudra Kekuatan agar bisa berkata kepada sesuatu, “Jadilah!” dan jadilah dia, Allah berkata, “Tidak, lihatlah gunung itu, Aku akan memberikan cahaya kepada gunung itu. Jika gunung itu tetap berdiri di tempatnya, engkau akan diberikan kekuatan itu, tetapi jika gunung itu melebur atau hancur, engkau tidak bisa menerima kekuatan itu, karena engkau pun akan hancur.” Dan ketika Allah mengirimkan cahaya ke gunung itu, gunung itu menjadi hancur lebur, Nabi Musa pun jatuh pingsan (al-A’raf 143). Itulah sebabnya Allah mengatakan bahwa kekuatan itu bukan untuknya melainkan untuk Rasul terakhir.

Allah telah memberi Rasulullah Samudra Kekuatan itu sehingga beliau bisa mengucapkan “Jadilah!” Maka jadilah dia—tanpa perlu meminta izin kepada Allah karena beliau telah berenang dalam Samudra Kekuatan itu. Rasulullah bersabda, “Maa shabballahu fii shadrii syay-an ilaa wa shababtuhu fi shadri Abii Bakri,” “Apa pun yang Allah berikan ke dalam hatiku, telah kuberikan pula ke dalam hati Abu Bakar ash-Shiddiq ” (Maybudi, Razi, Ajluni, Suyuti), kemudian Abu Bakar menyerahkan semuanya kepada Salman al-Farisi , Salman  kepada Qasim , Qasim kepada Ja’far , Ja’far kepada Tayfur (Bistami) , Tayfur kepada Sayyidina Khidir —dan rahasia itu sampai kepada Grandsyaikh dan Grandsyaikh meneruskannya kepada Maulana Syaikh Nazhim .

Bila Allah memberikan sesuatu, Dia tidak akan mengambilnya kembali. Itulah artinya Maha Pemurah. Ketika kalian memberikan sesuatu dan tidak mengambilnya kembali serta tidak menyesal karena telah memberikannya, berarti kalian mempunyai sifat pemurah atau dermawan. Allah memberi kekuatan kepada Rasulullah untuk mengucapkan “Jadilah!” kepada sesuatu maka jadilah dia, dan beliau menyimpan kekuatan itu untuk hari akhir, untuk membawa semua orang ke Surga. Rasulullah tidak akan meninggalkan satu orang pun. Beliau akan merangkul seluruh manusia dengan tangannya dan membawanya ke Surga. Itulah Rasul kita.

Setelah ketiga Atribut tersebut, datanglah lima tingkatan hati. Ketika Allah menyandangkan beliau, hati Rasulullah tiba-tiba diberkati dengan Kekuatan Ilahi dari lima tingkatan hati, dari satu tingkat ke tingkat berikutnya hanya berlangsung dalam waktu singkat. Tingkat pertama adalah maqam Hati, kemudian maqam Rahasia, lalu maqam Rahasia dari Rahasia, berikutnya maqam Yang Tersembunyi dan terakhir maqam Yang Paling Tersembunyi. Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim berkata bahwa, setelah Rasulullah disandangkan dengan semua tingkat ini, segala dosa dan perilaku buruk yang berasal dari ummatnya, walaupun dosa setiap orang tidak terhitung lagi jumlahnya, bahkan jika dosa itu menyamai jumlah ummat Rasulullah —yang menurut ajaran Sufi jumlahnya mencapai 400 milyar—bagi Rasulullah itu sama saja, bagaikan sesuatu yang dibersihkan dengan sebilas air. Seperti itulah cahaya yang telah diberikan Allah kepada Rasulullah sehingga beliau dapat membersihkan seluruh dosa tersebut dan memberi manfaat kepada ummatnya seolah-olah semuanya tidak terjadi.

Ini adalah ummat terbaik yang diciptakan oleh Allah , sebagaimana Rasulullah bersabda, “Afdhalul umma akhyarul umma akhirul umma,” “Ummat yang paling baik, ummat yang paling disukai adalah ummat yang terakhir.” Kalian semua adalah ummat terakhir. Menurut Grandsyaikh, dunia ini tidak akan berusia lebih dari 50 tahun tahun lagi. Setelah 50 tahun sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya. Hari Kiamat akan terjadi setelah 50 tahun ini dan ditambah 40 tahun kemudian. Semuanya akan berakhir dalam 90 tahun dari sekarang. Melalui rahmat yang telah disandangkan kepada Rasulullah , seluruh dosa manusia akan dihapuskan. Grandsyaikh berkata bahwa walaupun setiap orang mempunyai 400 milyar dosa, semuanya akan dihapuskan, walaupun jumlahnya mencapai jumlah seluruh ciptaan Allah yang meliputi alam semesta dan makhluknya. Dengan mudah semuanya dapat dihilangkan oleh Samudra Rasulullah , seolah-olah tidak ada dosa-dosa yang telah menyentuhmu.

Jangan berpikir bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya dan meninggalkannya begitu saja. Allah akan menyandangkan para Wali-Nya dan menyandangkan Rasulullah dengan Atribut dan Cahaya-Nya untuk menghindarkan orang dari penderitaan dan dosa menuju maqam yang tinggi di hari kemudian.

Ketika Salman al-Farisi , salah satu Wali terbesar yang muncul setelah Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq dan berasal dari Persia, mengetahui dari buku yang telah dibacanya dan melalui suatu tanda di luar kebiasaan yang muncul di gugusan bintang, yang menandakan bahwa Rasul terakhir akan muncul. Beliau tahu bahwa akan terjadi suatu peristiwa besar di dunia ini. Untuk pergi ke Mekkah, beliau menjual dirinya sebagai budak kepada beberapa orang yang pergi ke Mekkah, dan beliau mengiringi unta milik orang yang membelinya sepanjang 5.000 mil dari Persia ke Mekkah untuk bertemu Rasulullah . Sekarang kita malah enggan untuk menempuh 20 atau 40 mil dengan kendaraan, dan mengatakan bahwa itu terlalu jauh. Lihatlah perjalanan para Wali yang sangat panjang dan jauh untuk bertemu dengan Rasulullah .

Ketika Rasulullah dibawa ke dunia ini oleh ibunya, Sayyidina Salman al-Farisi mendengar kegembiraan binatang yang berteriak, “Allahu Akbar!”, semua orang di alam semesta ini bergembira, termasuk binatang, pepohonan dan bintang, karena Rasul terakhir telah datang dan semuanya mengetahui bahwa Allah akan menyandangkan beliau dengan Cahaya Ilahi-Nya—semuanya tahu dan bergembira, kecuali kita ummat manusia. Ummat manusia iri terhadap Rasulullah dan berkata, “Mengapa Allah memilihnya?”

Grandsyaikh berkata, “Saya berbicara dari Samudra Pengetahuan yang akan dibuka ketika Imam Mahdi telah muncul. Luasnya Pengetahuan yang Saya buka bagaikan cahaya yang melalui lubang jarum.” Jika Maulana berbicara seolah-olah dari sebuah lubang jarum, maka apa yang kita bicarakan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan realitas sesungguhnya. Apa yang akan datang adalah sesuatu yang bisa membuat kalian marah. Ini adalah keterangan mengenai pernyataan Sayyidina Abu Huraira dalam hadits, “Shabba Rasulullah fii qalbi wi’aanaini fa ammaa ahaduhumaa fa batsats-tuhu bii khalqi wa ammal akhara law batsats-tuhu laquthi’a hadzal bul’uum,” “Rasulullah telah meletakkan dua jenis ilmu pengetahuan dalam hatiku. Satu pengetahuan telah kusebarkan kepada orang-orang, tetapi bila pengetahuan yang lainnya kukatakan, mereka akan memotong leherku” (Bukhari). Apa yang Grandsyaikh katakan tergolong pengetahuan jenis kedua—sesuatu yang berada di luar kebiasaan dan akan disebarkan di masa Imam Mahdi nanti.

Grandsyaikh berkata bahwa pengetahuan ini telah dibuka dalam hati Rasulullah sejak masa kelahirannya dan hati beliau bagaikan segelas air, transparan di segala sisi. Hatinya begitu transparan sehingga ke mana pun beliau memandang, beliau mendapatkan pengetahuan dan hikmah dan oleh karenanya beliau berbicara berdasarkan ilmu dan hikmah tersebut.

Grandsyaikh berkata bahwa ketika jiwa Rasulullah diambil dari jasadnya oleh para malaikat dan dipersembahkan kepada Hadirat Ilahi, ibunya mengira bayinya telah meninggal karena tubuhnya diam, tidak bergerak selama satu jam penuh. Tetapi Jibril segera datang dan berkata kepadanya, “Jangan takut, dan jangan ceritakan hal ini kepada seseorang, biarkan saja. Allah telah mengambil jiwanya untuk membersihkannya dan untuk membukakan Atribut dari 99 Nama kepadanya—semuanya adalah Samudra dari Nama-Nama Allah . (Menurut agama Islam, Allah mempunyai 99 Nama, setiap Nama mencakup suatu Atribut Ilahi dan setiap Atribut merupakan sebuah Samudra Pengetahuan yang kedalamannya tidak diketahui seorang pun).

Allah membasuh hati Rasulullah dengan “Bismillah al-‘azhim,” Nama yang Terbesar. Sampai sekarang setiap Wali mencoba untuk mengetahui Nama Allah yang Terbesar, tetapi tidak ada yang mengetahuinya, karena rahasia itu belum dibukakan kepada seseorang, kecuali Rasulullah sendiri yang telah menerima rahasia tersebut di dalam hatinya. Semua sekat dihilangkan dari hati Rasulullah tatkala Allah membasuh hatinya dengan air sungai Khawtsar, sebuah sungai di Surga yang diberikan kepada Rasulullah manakala Allah berfirman, “Innaa a’thaynaakal Khawtsar” (al-Khawtsar 1). Jika seseorang mandi di dalamnya, hatinya tidak akan pernah mati. Inilah sebabnya Rasulullah bersabda, “Ana hayyun thariyyun fii qabri,” “Aku hidup dan tetap segar dalam kuburku” (Suyuti).

Ketika beliau baru berusia 1 jam, Rasulullah bertanya kepada Allah seolah-oleh beliau melihat-Nya, “Wahai Tuhanku, bagaimana dengan ummatku? Apakah Engkau akan membasuh ummatku dengan air dari sungai ini? Jika tidak, aku tidak mau dibasuh sendiri. Aku harus bersama ummatku, aku tidak bisa meninggalkan mereka.” Menurut Rasulullah , ketika beliau meminta hal ini kepada Allah , Allah membasuh seluruh ummatnya dengan air dari Sungai Kehidupan itu. Allah membasuh dan membersihkan hati mereka sampai menjadi bersih dan transparan seperti yang dimiliki Rasulullah , kemudian Allah menyerahkan mereka kepadanya, “Aku menyerahkan ummatmu dalam keadaaan bersih, suci, lemah lembut, pemurah, rendah hati, saling mencintai dan menghormati sesamanya. Apakah engkau menerimanya?” Rasulullah yang melihat mereka semua dalam keadaan bersih dan suci lalu berkata, “Aku menerimanya.” Ketika beliau mengatakan akan membawa mereka, Allah menunjukkan kepadanya bagaimana mereka akan membuat banyak dosa ketika diturunkan ke dunia ini. Rasulullah bersabda, “Wahai Tuhanku, apa yang telah Kau lakukan?” Allah menjawab, “Lupakan saja, cahaya tidak akan musnah dari dalam hati mereka. Mereka akan menutupi cahaya itu dengan kegelapan, tetapi itu akan seperti lap, dan Aku akan memberimu Awliya yang akan menjadi pembantumu agar mereka dapat membersihkan dan mengkilapkan hati mereka.”

Kita semua adalah ummat yang diampuni. Allah telah mempercayakan kita kepada Rasulullah dengan Kemurahan-Nya. Kalian akan mendengar lebih banyak lagi pelajaran ini. Namun tetap saja apa yang kita bicarakan ini hanyalah hal-hal yang sepele. Ketika Grandsyaikh memberi izin untuk berbicara mengenai pengetahuan itu, pelajaran tersebut bukan untuk didengar oleh semua orang. Mereka yang mendengar adalah orang-orang yang istimewa dan topik ini hanya bisa dibuka dengan izin Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim .

Setelah Rasulullah menerima ummatnya dengan cahaya mereka, dan setelah Allah menunjukkan dosa-dosa yang akan mereka lakukan, Rasulullah meminta beberapa pembantu. Dengan segera Allah memberinya 7.007 Wali Naqsybandi untuk membantu beliau membersihkan ummatnya. Di antara mereka terdapat 313 Wali yang tingkatannya tinggi. Dan di antara mereka terdapat 40 Guru Besar dari Mata Rantai Emas, jalan kita menuju Rasulullah . Keempat puluh Guru Besar kita mencoba melakukan yang terbaik untuk membersihkan setiap orang dari dosa-dosanya melalui cahaya yang telah diberikan Allah ke dalam hati mereka. Kalian beruntung bahwa kalian berada di tangan salah satu Guru Besar tersebut—Guru Besar terakhir dalam mata rantai ini, Guru yang keempat puluh.

Apakah Khawtsar itu? Menurut riwayat yang tertulis, Khawtsar adalah nama sebuah sungai di Surga, tetapi menurut pemahaman dan pengetahuan Sufistik, Khawtsar adalah nama salah satu Grandsyaikh. Grandsyaikh itu, dengan air di mana Allah membuat simbol dengan namanya dapat menghilangkan dosa-dosa semua pengikutnya, dan menghadirkan mereka dalam keadaan bersih kepada Rasulullah setiap malam. Itulah sebabnya kalian harus bergembira karena kalian telah terhubungkan dengan salah satu Guru Besar yang besar dalam Mata Rantai Emas ini.

Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim bertanya, “Mengapa Allah memberi kenabian kepada Rasulullah ? Apakah hanya untuk dirinya sendiri?” Grandsyaikh berkata, “Tidak!” Allah telah memberinya kekuatan dan menyandangkannya dengan atribut dari ke-99 Nama dan semua cahaya ini untuk ummatnya juga, agar Rasulullah dapat menyandangkan kita semua dengan cahaya dan atribut yang sama, beliau membagi semua atribut itu kepada kita. Allah telah berfirman kepada Rasulullah , “Wahai Rasul-Ku tercinta, Aku akan bertanya kepadamu secara pribadi—Aku ingin setiap orang dari ummat ini menjadi seperti dirimu. Jika mereka tidak seperti dirimu, Aku tidak akan menerimamu sebagai Rasul.” Ini adalah suatu rahasia yang besar dan luar biasa, yaitu bahwa Rasulullah bertanggung jawab untuk membuat setiap orang dari ummatnya agar seperti beliau. Dalam beribadah, beliau akan membagi seluruh ibadahnya untuk kita, hal ini untuk membersihkan dan menyandangkan diri kita dengan semua yang telah didapatkannya, dan untuk menghadirkan kita kepada Allah dalam keadaan suci seperti dirinya. Inilah tugas beliau.

Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim berkata, “Dalam setiap kedipan mata, jarak antara Rasulullah dengan Hadirat Ilahi semakin dekat dua kali lipat, “Yataraqqa mitslaini mitslain,” dalam sekuen geometrik yang berkembang, setiap kedipan mata meningkatkan jarak sebelumnya dua kali lipat. Beliau mengalami kemajuan, dan secara bersamaan beliau juga membawa ummatnya—tanpa diskriminasi dan perbedaan. Ummat ini adalah ummat dari para hamba; dan hamba adalah hamba, budak adalah budak! Tidak ada perbedaan antara Muslim, Kristen, Yahudi, Buddha, maupun Hindu! Mereka semua adalah hamba di hadapan Allah , dan Rasulullah melihat mereka sebagai seorang manusia dan membawanya bersamanya.

Pengetahuan ini akan dibuka pada masa Imam Mahdi dan Nabi ‘Isa . Sekarang, ini hanyalah aroma dari apa yang akan terjadi kemudian. Ketika orang-orang berbicara kepadamu tentang Sufisme, apa yang mereka katakan? Mereka hanya anak-anak bila dikaitkan dengan Mata Rantai Emas yang mendapat pengetahuan dari hati Rasulullah . Apa yang akan dibuka nanti akan menyepelekan apa yang dikatakan oleh orang yang mengaku Guru Sufi itu. Mereka akan menyadari bahwa mereka hanya anak-anak. Pengetahuan mereka bukan apa-apa. Itulah sebabnya Sayyidina Muhyiddin Ibnu al-‘Arabi , setelah menulis al-Futuhat al-Makkiya berkata, “Saya tidak mengerti apa yang Saya tulis.” Beliau terbiasa tidur dengan sebuah pena di sisinya, ketika beliau bangun, beliau mendapati bahwa pena itu telah menulis sesuatu. Demikian pula ketika beliau menulis, “Fusus al-Hikam” dan semua buku yang lainnya. Walaupun beliau tidak mengerti, sekarang mereka malah “menjelaskan” apa yang sebenarnya tidak mereka pahami. Apa yang akan kalian pahami dari yang mereka katakan? Derajat pengetahuan yang tinggi dalam Sufisme tidak bisa dibuka begitu saja, walaupun kalian berpikir telah melihatnya. Jika kalian mempunyai televisi, kalian dapat melihat sesuatu tetapi tidak bisa merasakannya. Dalam Sufisme, jika kalian tidak bisa merasakan dan mengalami sendiri kejadian itu, kalian tidak bisa meraih tingkatan dari mana pengetahuan itu digambarkan.

Sufisme adalah “dzawq,” cita rasa. Kalian mempunyai berbagai jenis makanan. Orang-orang mengambil makanan terbaik dan mereka mencoba untuk merasakannya di sini (menunjuk ke mulut) sampai ke sini (menunjuk pangkal kerongkongan). Setelah kedua tempat itu, semua makanan akan sama saja. Sama halnya ketika kalian menonton televisi, seolah-olah itu berlangsung “dari sini ke sini.” Kalian tidak mencicipi atau merasakan sesuatu. Jika kalian tidak bisa merasakannya, itu bukan Sufisme, tetapi pantulan cermin dari Sufisme atau sebuah bayangan. Dan semua “Syaikh” ini—sesungguhnya mereka tidak bisa dipanggil dengan panggilan itu—karena seorang Syaikh adalah derajatnya tinggi—semua orang yang menerangkan Sufisme itu tidak merasakan dan mencicipi. Padalah kedua hal itu sangat penting dalam Sufisme.

Sekarang kalian akan berkata, “Anda juga berbicara seperti mereka. Mengapa Anda tidak mencicipi dan merasakan?” Saya akan mengatakan kepada kalian bahwa kalian belum diizinkan untuk bisa merasakannya. Ini akan terjadi pada masa Imam Mahdi . Kalau tidak dunia ini tidak bisa menampung kalian lagi. Jika kalian memberi anak kecil sebuah permen, dia akan menukarnya dengan berlian dan dia akan kehilangan berlian itu. Jika kalian diberikan pengetahuan seperti itu, kalian akan menyia-nyiakannya tanpa dukungan dari Imam Mahdi yang akan segera datang. Dukungan itu sangat dibutuhkan. Tanpa dukungan itu, kalian tidak akan mempunyai pintu untuk bisa merasakan.

Seorang pemimpin Sufi harus memiliki ‘ilmul yaqin, ‘aynul yaqin, haqqul yaqin—pengetahuan tentang kepastian, kepastian tentang pengelihatan, dan hakikat tentang kepastian.

Pertama adalah “pengetahuan tentang kepastian,” yang merupakan keperluan untuk mengetahui bahwa ada pengetahuan seperti itu dan untuk mendengar tentang hal itu. Ketika kalian mendengarnya, kalian pergi ke tingkat kedua, tetapi pertama kalian harus mendengarnya. Itulah sebabnya, Allah dalam al-Qur’an sebagaimana semua Guru Sufi dari Jalaluddin Rumi ke Ibnu al-‘Arabi , Hallaj , Abu Yazid al-Bistami menyebutkan bahwa mendengar adalah hal yang pertama. Pengetahuan tidak datang dengan melihat terlebih dahulu tetapi dari mendengar seorang guru, bahkan termasuk orang yang buta. Di lain pihak orang yang tuli, tidak bisa memulai untuk mendapatkan pengetahuan. Ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah , hal pertama yang dikatakannya adalah “Iqra”, bacalah, kemudian Rasulullah mendengarnya. Itulah sebabnya Sufisme memberi perintah yang dipenuhi dengan mendengarnya bukan dengan melihatnya.

Tingkat pertama ini, tidak diraih dengan mendengar dan tidak merawatnya, tetapi dengan mendengar, menerima, dan memenuhinya dengan tindakan! Jika Syaikhmu mengatakan untuk pergi ke Chicago, memanjat Search Tower, dan melompat ke bawah, dan kalian tidak melakukannya, berarti kalian masih anak-anak dalam pengetahuan Sufi. Dalam thariqat Naqsybandi kalian harus patuh, dan kepatuhan berasal dari pendengaran, jika kalian melakukannya, barulah kalian bisa menuju ke tingkat kedua.

Suatu ketika, Grand-Grandsyaikh berkata, dalam pertemuan antara Guru-guru besar, ketika Grandsyaikh sedang dalam perjalanan untuk bertemu mereka—ketika itu beliau masih muda—ketika mereka duduk di tempat terpencil di luar kota. “Anakku ‘Abdullah telah mencapai tingkat di mana orang belum pernah mencapainya—saya pun tidak, begitu pula dengan seluruh Guru dalam Mata Rantai Emas. Beliau baru 18 tahun sedangkan Saya 60, tetapi beliau telah mencapai level yang lebih tinggi dari Saya dan seluruh Guru lain dalam Mata Rantai Emas yang telah meninggal dunia. Jika Saya mengirimkan seorang anak berusia 7 tahun untuk berkata kepadanya, ‘Syaikhmu menyuruhmu untuk segera pergi haji ke Makkah,’ dari Daghestan, kota di tengah wilayah Rusia, beliau akan segera berpikir, tanpa datang kepada Saya untuk meminta konfirmasi apakah ini benar atau tidak, ‘Siapa yang membuat anak itu berbicara? Syaikhku telah mengetahui sebelum Aku mengetahuinya. Kalau tidak, bagaimana Aku menerimanya sebagai Syaikhku tetapi masih mengganggap beliau tidak mengetahui segalanya? Jika Syaikhku tidak mengetahuinya, lalu siapa yang mengetahuinya?’ Dengan segera beliau akan mempercayai anak itu, dan tanpa pulang ke rumahnya untuk memberitahu ibu atau istrinya bahwa beliau akan naik haji, tanpa membawa pakaian, uang atau makanan, beliau akan langsung menuju Makkah yang berjarak 10.000 mil, berjalan tanpa bertanya apa-apa. Beliau akan mengetahui bahwa perintah itu berasal dariku dan dengan mudah akan mengubah arah perjalanannya.”

Ini adalah “Wahdatul af’al, penyatuan segala tindakan atau perbuatan atau ucapan—kalian harus melihat segala sesuatu berasal dari Allah . Ini adalah tingkat tinggi dalam pengetahuan Sufi. Kalian tidak bisa melihat orang melakukan suatu perbuatan lagi, tetapi kalian harus menganggapnya sebagai suatu alat di tangan Tuhan. Tinggalkan anak-anak—jika Syaikh Nazhim mendatangimu dan berkata, “Pergilah ke Makkah.” Kalian akan berkata, “Baiklah Syaikh, Aku akan membeli tiket, Aku akan lihat apakah istriku mengizinkanku untuk pergi…” Dalam thariqat Naqsybandi kalian tidak diizinkan untuk melakukan semua hal ini. Kalian harus segera pergi.

Tingkat kedua adalah ‘aynul yaqin, pengelihatan yang benar. Pada saat itu kalian akan melihat segala yang berada di sekitarmu, tetapi tanpa perasaan. Itu akan seperti layar yang terangkat. Hanya di tingkat ketiga, haqqul yaqin, realitas dari kebenaran—kalian berada di sana dan mengalami kejadian itu. Jika Grandsyaikh berkata tentang apa yang telah kita bicarakan sebelumnya mengenai Rasulullah , bagaimana beliau dibawa dan hatinya dibersihkan, ketika mendengar hal ini, kalian akan hidup di masa itu seolah-olah kalian hidup dan merasakan semuanya saat itu. Jika Maulana Syaikh Nazhim berbicara mengenai kejadian yang berlangsung 500 tahun lalu, misalnya, kalian akan hidup seolah-olah kalian hidup di masa itu, kalian mendengar, melihat dan merasakan apa yang mereka dengar, lihat, dan rasakan, seolah-olah kalian adalah salah satu dari mereka.

Ini adalah cita rasa Sufi dan pengetahuan dari thariqat Naqsybandi yang menghubungkan para pencari kepada Mata Rantai Emas. Ini tidak bisa dibuka sampai masa Imam Mahdi , kecuali, untuk beberapa pengikut yang istimewa, Maulana Syaikh Nazhim membukakannya dengan seizin Rasulullah . Hal itu tidak biasa bagi semua orang. Yang lain harus menunggu dukungan dari pedang Imam Mahdi untuk memasuki tingkatan itu, kalau tidak orang akan memotong lehernya karena membicarakan apa yang mereka lihat.

Dalam thariqat Naqsybandi, Syaikh tidak akan membuatmu berbeda dengan orang lain dan ini adalah thariqat yang sempurna, kalian melihat Syaikh yang memiliki segala kekuatan ini, merasakan segala hal dan hidup dalam semua peristiwa, dan melukiskannya, namun demikian beliau tetap berperilaku sebagai orang yang biasa. Dalam aliran Sufi yang lain, mereka tidak bisa mengontrol diri mereka, mereka baru mulai bicara dan langsung ditolak oleh orang-orang. Oleh sebab itu Syaikh tidak pernah menerima untuk membuka pengetahuan untukmu jika kalian belum siap dan jika beliau melihat bahwa kalian akan memperlihatkan apa yang diberikannya kepadamu kepada masyarakat umum. Itulah sebabnya mengapa belum ada izin agar pintu itu dibuka.

Wa min Allah at taufiq al-Fatiha

Entry filed under: Rahasia Hati. Tags: .

Laylat ar-Ragha’ib Tiga Cahaya Ummat Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 611,397 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: