Khalwat

April 6, 2007 at 3:14 am 1 komentar

Peranan Syaikh/
Menyembunyikan Kesalahan Orang Lain/
Hormat

London, 16 Maret 1992/13 Ramadhan 1412

“Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisa’ 59) “Patuhlah kepada Allah , patuhi Rasulullah , dan patuhi pemimpin kalian.” “Wa minallahit taufiq” “Keberhasilan hanya datang dari Allah .”

Kita bertemu di masjid ini dan kita harus memohon, sebagaimana Rasulullah memerintahkan seluruh sahabat dan semua guru setelah beliau telah memerintahkan murid-muridnya, agar 1 jam duduk di sini akan dihitung sebagai 1 jam berkhalwat. Kalian melepaskan diri dengan dunia luar dan datang ke sini untuk memuliakan Allah , memuliakan Rasulullah , dan memuliakan Syaikh. Untuk menjadi contoh yang baik dan menjadi murid thariqat yang baik. Kalian meninggalkan negrimu, rumahmu dan segalanya dan datang ke sini demi kebaikan dan untuk mempelajari sesuatu.

Kalian tidak datang ke sini hanya sekedar mengisi waktu. Kalian datang untuk memperoleh nasihat spiritual dari Syaikh. Itulah sebabnya kalian harus mendengarkan dengan baik dan berlaku sesuai dengannya. Jangan datang ke sini, menghabiskan waktu 15 hari untuk berlibur, lalu kembali. Kalau seperti itu lebih baik tidak usah datang.

Rasulullah telah memerintahkan semua Sahabat untuk berkhalwat atau mengasingkan diri atau bermeditasi. Ini berarti menjaga Hadirat Allah dan kecintaan terhadap Rasulullah dalam hati mereka. Setelah Rasulullah , seluruh Sahabat, khususnya Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina ‘Ali —dari keduanya seluruh aliran thariqat diturunkan—mengajarkan pengikutnya untuk berkhalwat. Grandsyaikh pernah berkata, “Seseorang yang tidak pernah berkhalwat selama hidupnya berarti dia telah menyia-nyiakan hidupnya.” Jika kalian tidak pernah berkhalwat walaupun hanya 1 kali saja, berarti hidupmu sia-sia.

Kalian tidak akan memperoleh apa-apa dari hidupmu. Kalian hanya akan mendapat apa yang telah direncanakan oleh Allah bagimu. Dan Allah telah berencana agar setiap orang menjadi mukmin yang baik. Itulah sebabnya ketika Dia menciptakan ruh manusia, Dia bertanya kepada mereka, “Siapa Aku dan siapa kalian?” Rasul dan para Wali menjawab, “Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah hamba-Mu!” Yang lain berkata, “Engkau adalah engkau, kami adalah kami!” yang berarti, “Kami tidak percaya kepada-Mu, jika Engkau adalah Tuhan, kami juga.” Mereka semua adalah orang-orang kafir. Allah melemparkan mereka ke dalam kegelapan selama 70.000 tahun, kemudian memanggil mereka kembali, dan bertanya lagi, “Siapa Aku dan siapa kalian?” Sebagian dari mereka menjawab, “Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah hamba-Mu.” Mereka ini juga termasuk mukmin.

Kita semua adalah mukmin tersebut. Jangan mendengar egomu yang berkata seperti yang kita katakan pertama kali ketika Allah bertanya kepada kita, sebelum Dia melemparkan kita ke dalam kegelapan, “Engkau adalah engkau dan kami adalah kami.” Setelah Allah melemparkan ego ke dalam kegelapan barulah ego menerima dan berkata, “Engkau adalah Tuhan kami!” Sekarang di kesempatan yang lain ketika kita sudah turun ke bumi—dalam bentuk fisik setelah yang pertama makhluk spiritual—kita masih mengatakan, “Engkau adalah engkau dan kami adalah kami.” Tak ada yang menerimanya.

Seluruh guru thariqat Naqsybandi harus menempatkan muridnya untuk berkhalwat, dengan alasan yang sama ketika Allah menempatkan ruh kita ke dalam kegelapan selama 70.000 tahun, yaitu untuk menyemir kita dan mengajarkan kita perilaku yang baik, agar nanti kita dapat menerima kenyataan bahwa, “Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah hamba-Mu.”

Inilah yang diajarkan oleh Maulana selama ini, untuk menjadi hamba yang baik bagi Allah , untuk mematuhi-Nya. Tetapi ego kita tidak menerima, oleh sebab itu Grandsyaikh berkata, sebagaimana Rasulullah memerintahkan para Sahabat untuk berkhalwat, beliau juga harus memerintahkan para pengikutnya untuk berkhalwat. Jika tidak di dunia ini, mereka harus berkhalwat dalam kuburnya, dalam periode 40 hari. Ini adalah kewajiban bagi setiap orang. Tak ada yang membersihkan dirimu dari perilaku burukmu kecuali dengan berkhalwat.

Jika kalian tidak berkhalwat, kalian tidak akan dibersihkan dan kalian akan masuk dalam peringkat ‘penuh warna’ atau ‘multiwarna’. Thariqat Naqsybandi menyebut posisi kita sekarang dengan istilah itu—artinya terus-menerus berubah, satu hari kita baik, hari berikutnya buruk dan berikutnya lagi setengah-setengah. Ini tidak bisa dihilangkan dan kita tidak bisa menjadi 1 warna saja kecuali dengan berkhalwat.

Saudara-saudaraku berusahalah sekuat tenaga agar Syaikh memerintahkanmu untuk berkhalwat. Bukan dengan datang kepadanya lalu memohon, “Wahai Syaikh, izinkanlah aku untuk berkhalwat,” bukan demikian caranya. Jalannya adalah dengan mencoba menerima apa yang diberikan kepadamu tanpa menggunakan pikiranmu. Tetaplah yakin dengan apa yang dikatakannya kepadamu.

Mengapa sebagian orang disebut mukmin? Karena mereka percaya dengan yang ghaib, tidak terlihat. Ketika Rasulullah datang dan berkata, “Percayalah kepada Allah ,” begitu juga Nabi ‘Isa dan Nabi Musa ketika mereka datang. Yakinlah terhadap hal-hal yang ghaib karena jika hal itu sudah terlihat bukan lagi menjadi kepercayaan tetapi merupakan bukti. Saat itu kalian menerimanya sebab kalian melihat sesuatu, dan ini tidak diterima.

Apa yang dikatakan oleh Syaikh, jangan ditanggapi dengan berkata, “muhaqqaq” atau “benar!” dengan lidahmu. Hatimu yang harus menerimanya. Jika hatimu tidak menerimanya, kalian tidak akan mendapat apa-apa. Kita harus memperlihatkan kepada Syaikh, yang tahu bagaimana kita tidur dan bahkan saat kita tidur, bahwa kita benar-benara mempercayainya. Apakah kalian pikir bahwa Syaikh itu seperti kita? Hasha! (bahasa Turki yang berarti Hush!). Suatu ketika Grandsyaikh berkata, “Jika seekor semut yang berada di Barat sedang bergerak di atas permukaan batu yang lunak sedangkan Saya berada di Timur, maka Saya dapat mendengar langkah-langkahnya bagaikan mendengar bunyi guntur.” Dan beliau berkata, “Kami, para Wali Naqsybandi—dapat mendengar dan merasakan gerakan semua murid-murid Kami, apa pun yang mereka kerjakan, itu akan terdengar sekeras guntur! Jagalah kehormatanmu ketika kalian tidur dengan istrimu, sebab kami mendengar dan melihat segalanya.”

Kita semua berada di bawah Syaikh yang sama, dan Syaikh itu memegang seluruh kekuatan sebelum diserahkan kepada Imam Mahdi . Jika kalian tidak mengetahuinya, Kami tahu. Seluruh kekuatan yang diberikan oleh Rasulullah kepada para Awliya telah ditarik dari tangan mereka dan diserahkan kepada Maulana Syaikh Nazhim . Wali-Wali yang lain tidak bisa menggunakannya tanpa keajaiban atau mukjizat, namun Rasulullah tidak lagi berkenan untuk menunjukkan suatu mukjizat di masa sekarang ini. Beliau menginginkan, seperti yang terdapat dalam hadits, bahwa korupsi dan kezhaliman menguasai dunia ini. Jika kalian menggunakan mukjizat, kalian akan menghilangkan korupsi itu, tetapi korupsi itu telah mencapai puncaknya. Itulah sebabnya Maulana selalu bersabar dan lebih bersabar. Bila kalian melihat beliau yang sesungguhnya, pada saat itu kita semua akan terlarut, seperti garam yang terlarut dalam air. Oleh sebab itu jagalah kehormatan terhadap Syaikh dalam hatimu.

Kalian berada dalam pengawasan Syaikh selama 24 jam. Kalian tidak akan bisa keluar dari pengawasannya. Dia melihatmu. Dia melihatmu ketika kalian pergi ke sana ke mari. Tetapi ini masih belum apa-apa, Dia dapat mengetahui rahasia yang terlintas dalam benakmu dan rahasia yang kalian simpan dalam hatimu seolah-olah bagaikan bunyi guntur. Tinggalkan ini juga: dalam setiap hati orang terdapat 5 tingkatan. Tingkat pertama adalah maqamul qalb, posisi dari hati. Setan dapat masuk dalam tingkat ini dan mengerti apa yang kalian lakukan, inilah sebabnya kadang-kadang kalian mempunyai pikiran yang buruk. Kalian terganggu ketika sedang shalat, kalian dicurangi dalam bekerja atau merasa curiga…

Ada tingkatan yang lebih tinggi: maqam dari rahasia. Sekarang terdapat perbedaan yang nyata antara kesadaran dan bawah sadar. Yang kedua adalah yang kalian letakkan jauh dalam lubuk hatimu di mana kalian menguburkan segala hal. Terdapat suatu ekspresi ilmiah untuk posisi kedua di dalam hati ini, dia dapat mengenal informasi, dan Allah telah memberi suatu rahasia kepada setiap ummat manusia. Kita telah diciptakan dengan kemuliaan dari Allah , kerena Dia menciptakan kita dengan 3 cahaya, cahaya Allah , cahaya Rasulullah , dan cahaya Adam .

Ummat manusia adalah ummat yang mulia. Mereka diciptakan dengan kesempurnaan. Allah berfirman, “Wa laqad karramna bani adam,” “Aku telah memuliakan uamt manusia,” (al-Isra 70). Dengan kemuliaan seperti apa? Kesempurnaan dalam ciptaan. Dalam banyak hadits, Rasulullah menuturkan tentang Allah dalam hubungannya dengan ummat manusia, “Aku melihat Tuhanku datang kepadaku dengan tersenyum.” Tidak berarti bahwa Dia termasuk ummat manusia, tetapi itu berarti bahwa ummat manusia diciptakan dengan sempurna.

Tidak ada yang tahu dengan rahasia apa Dia telah menganugerahkan cahaya yang Dia tanamkan dalam hatimu. Itulah yang ingin dikemukakan dalam ajaran-ajaran thariqat Naqsybandi. Syariat mengajarkan kalian dasar-dasar memerangi Setan dan mengeluarkannya dari dalam hatimu. Thariqat menjaga syariat dan menuju ke tingkat yang lebih tinggi—untuk menyarikan rahasia yang telah diberikan oleh Allah kepadamu. Ini menjadi tanggung jawab Syaikh dan tidak dapat diberikan kepadamu tanpa melalui khalwat. Syaikh dapat mengetahui dan mendengar apa yang terjadi dalam tingkat kedua ini.

Maqam ketiga adalah Rahasia dari Rahasia, lalu datang maqam keempat yaitu, Yang Tersembunyi (Khafa) dan maqam kelima Yang Paling Tersembunyi (Akhfa). Tak seorang pun dapat memasuki maqam ketiga kecuali para guru thariqat Naqsybandi. Guru-guru dari 40 thariqat yang lain hanya dapat memasuki tingkat kedua saja. Tak seorang pun kecuali Rasulullah yang dapat memasuki maqam keempat dan maqam kelima hanya diketahui oleh Allah sendiri, yang mengetahui bagaimana Dia telah memberi kemuliaan kepada ummat manusia.

Lihatlah, ummat manusia adalah ummat yang mulia. Tidak ada diskriminasi dalam pandangan Allah di tingkat tersebut, tidak ada Muslim, Kristen, Yahudi, Buddha, dan Hindu. Yang ada hanya, “Wa maarsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin,” “Kami telah mengutusmu sebagai rahmat bagi ummat manusia,” (al-Anbiya 107). Tidak ada perbedaan dalam tingkatan itu.

Diskriminasi berasal dari kita. Kitalah yang berkata, “Mereka Yahudi, mereka Kristen,” orang Kristen berkata, “Mereka Muslim, mereka Yahudi,” tetapi tidak ada istilah itu dalam pandangan Allah . Yang ada hanya ummat manusia—periode. Kalian tidak diperkenankan untuk berbicara tentang keburukan saudara-saudarimu! Kalian akan mencampuri penilaian Allah . Padahal kalian bukanlah juri, Allah adalah Sang Juri. Oleh karena itu jangan mencampuri jalan Allah dengan memberi penilaianmu. Allah tidak akan bertanya tentang penilaianmu di Hari Pembalasan nanti.

Jika Allah berkata, “Aku ingin menempatkan setiap orang di Surga,” siapa yang dapat berkata kepada-Nya, “Apa yang Engkau lakukan?” Dan jika Dia berkata, “Aku ingin menghukum semua orang,” siapa yang dapat berkata kepada-Nya, “Apa yang Engkau lakukan?” tidak seorang pun yang bisa. Dan apakah kalian berpikir bahwa Allah telah menciptakan kita untuk dihukum? Apakah Dia termasuk pendendam, Dzat yang menyukai balas dendam atau memberi hukuman? Dzat yang menciptakan hamba-Nya untuk disiksa? Apakah kalian menerima pandangan ini? Ini mustahil. Allah Maha Penyayang, Dia menjaga kasih sayang-Nya terhadap semua hamba-Nya. Rasulullah berkata, “Masa yang paling indah dalam hidupku adalah ketika Allah memanggilku dengan nama, ‘hamba’ atau ‘budak’—‘abd—dan Dia berkata, ‘Mari hamba-Ku.’

Maulana Syaikh Nazhim mengajarkan kita untuk menjadi hamba-Nya yang baik. Mengapa kita tidak menerima dan mematuhinya? Kita datang ke sini selama berjam-jam, siang dan malam, untuk mendapat sesuatu. Segala sesuatu yang ingin kita dapat tergantung pada penghambaan kita. Beliau mengajarkan kita untuk menjadi pelayan, bukan untuk menjadi—seperti yang beliau bilang kemarin—Perkasa. Sebutan Perkasa adalah milik Allah . Kita semua adalah hamba. Lebih jauh lagi, kita adalah hamba yang lemah dan tidak berdaya. Kita tidak bisa mengerjakan apa pun. Inilah sebabnya Allah memberi Rasulullah perantaraan, dan Rasulullah berkata, “Syafa’ati li ahlil kaba’iri min ummati,” “Perantaraanku adalah untuk para pendosa di antara ummatku,” (Tirmidhi, Abu Daud, Hakim, Suyuti). Kita lemah dan tidak sempurna, tetapi kita harus mengajarkan diri kita untuk menerima apa yang dikatakan oleh Syaikh dan untuk mengkilapkan hati kita.

Syaikh tidak tergantung pada kita. Mereka tergantung pada kekuatan yang telah diberikan Allah kepada Rasulullah , dan yang telah diberikan oleh Rasulullah kepada mereka. Inilah sebabnya Allah mengatakan, “Datanglah kepadaku satu langkah, Aku akan datang kepadamu 99 langkah.” Datanglah kepada Syaikh satu langkah, dan beliau akan berlari mendatangimu 99 langkah. Bila kalian tidak berusaha untuk mendekatinya walaupun hanya satu langkah, bagaimana beliau datang kepadamu? Beliau tidak akan datang. Kalian harus menunjukkan kemajuan dalam hatimu.

Grandsyaikh memerintahkan setiap orang untuk berkhalwat, namun dalam konteks ini kita harus mengerti. Setiap orang harus mengajari dirinya sendiri untuk mengkilapkan hatinya. Kita tidak dapat berkhalwat sekarang. Kita semua adalah pendosa dan tidak seorang pun benar-benar mempunyai niat dalam hatinya untuk berkhalwat. Dengan alasan itu terdapat cara lain. Maulana Syaikh Nazhim telah memberikan jalan bagi kita untuk mendekatinya dengan cepat. Sebagian orang mengendarai keledai, yang lain dengan kuda, beberapa orang dengan mobil, pesawat, dan ada juga dengan roket. Makin cepat mereka pergi, makin cepat kalian bisa mendekatinya.

Grandsyaikh berkata, “Aku akan mengajarimu suatu cara untuk mendekatiku dengan sangat cepat. Kapan pun kalian datang dan duduk dalam suatu asosiasi, atau ketika kalian shalat di malam hari, atau siang hari, atau ketika berdzikir, atau membaca al-Qur’an atau Hadits, atau melakukan hal yang lain, ketika kalian duduk, bacalah:

Nawaytul arba’in Aku berniat selama 40 hari
Nawaytul i’tikaf Aku berniat mengasingkan diri
Nawaytul khalwa Aku berniat untuk berkhalwat
Nawaytul ‘uzla Aku berniat menutup diri
Nawaytul riada Aku berniat untuk patuh dan setia
Nawaytul suluk Aku berniat untuk berdisiplin
Nawaytul siyam Aku berniat untuk menahan nafsu
Fi hadzal masjid Di tempat ibadah ini
Lillahi ta’ala Karena Allah ta’ala

Rasulullah biasa membaca niat yang sama ketika beliau mengasingkan diri di gua Hira sebelum datang suatu rahasia kepadanya. Ketika para Sahabat dan seluruh guru berkhalwat mereka juga mengucapkan niat yang sama. Ketika kalian membaca niat ini untuk pertemuan yang berlangsung selama 1 jam ini, maka waktu ini akan diambil dari khalwat selama 40 hari yang merupakan kewajiban bagi kita. Bacalah niat itu sebelum memulai suatu pertemuan, dia akan membawamu kepada Syaikh seperti roket.

Berapa tahun kalian telah bersama Syaikh Nazhim ? Jika kalian menghitungnya semua, dan masing-masing mempunyai niat seperti itu, maka kalian tidak akan meninggalkan ruangan tanpa dicatat bahwa kalian telah menghabiskan waktu 2, 3 atau 5 jam berkhalwat. Waktu tersebut akan diambil dari waktu 40 hari berkhalwat. Jika kalian telah menyelesaikan masa 40 hari itu, kalian akan merasakan bahwa cahaya yang telah diberikan Allah kepadamu menjadi terbuka dan cahaya itulah yang akan membuka mata hatimu. Tanpa ini kalian tidak akan menemukan kegembiraan yang sekarang masih tersembunyi dalam hatimu. Kalian harus mengeluarkannya. Ini adalah satu cara untuk mengkatrolnya. Bacalah niat ini selalu saat kalian bersama Syaikh.

Suatu hari Rasulullah memanggil Bilal sesaat sebelum tengah malam, dan memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan agar setiap orang datang kepadanya. “Cepat! Aku tidak bisa menunda pesan ini kepada para Sahabat.” Bilal merasa ngeri sekaligus penasaran mengapa Rasulullah ingin mengumpulkan semua orang di jam seperti itu. Apakah Hari Kiamat telah tiba? Rasulullah merinding. Bilal lalu pergi ke masjid dan mengumandangkan adzan. Para Sahabat segera berlari ke masjid dan menunggu kedatangan Rasulullah . Ketika beliau datang, mereka tidak menerima kedatangannya seperti yang kita lakukan ketika menyambut Maulana Syaikh Nazhim ketika beliau masuk ke masjid. Kita berlari mengerubunginya, sayang sekali seperti keledai. Kita harus memberinya hormat. Ketika Maulana masuk, kalian harus berdisiplin, berdiri membuat suatu barisan dalam jarak tertentu untuk menunjukkan penghormatan kepadanya. Bukannya berlari-larian seperti biri-biri atau ayam. Kalian harus mencium tangannya, tetapi jangan berkerumun dan menutupi jalannya. Bahkan ketika Maulana ingin menuju ke mobilnya, beliau tidak dapat memasukinya dengan leluasa, selalu ada yang merintanginya. Mengapa kalian tidak berdiri saja dan menunjukkan rasa hormat kalian?

Suatu hari Sayyidina ‘Abdulqadir Gilani berjalan dengan para pengikutnya di suatu lorong di Baghdad dan beliau melihat seseorang datang dari arang yang berlawanan di sebrangnya. Para pengikutnya berjalan sesuai dengan adab, tak ada yang berjalan di sampingnya seluruhnya berada di belakangnya. Berbeda dengan di sini, setiap orang berusaha untuk berjalan di samping Syaikh dan shalat di samping Syaikh! Apa tingkatanmu berani berbuat demikian? Berdirilah di belakangnya untuk menunjukkan bahwa kalian menghormatinya, tidak di sampingnya, kecuali jika tidak ada tempat di masjid itu. Murid-murid Sayyidina ‘Abdulqadir Gilani tidak berkerumun dengan berjalan berjejer di sisi yang sama, seperti yang kita lakukan. Mereka berjalan satu di belakang yang lain, dan Syaikh sendirian di depan. Kalian tidak bisa berada di tingkatannya! Ajari dirimu sendiri mengenai adab dan penghormatan ini.

Seorang pendeta datang dari arah yang berlawanan dari lorong tersebut, dan dengan segera Syaikh ‘Abdulqadir Gilani memberi jalan, dan demikian pula semua muridnya. Tidak ada yang berkata, “Orang ini seorang pendeta!” Mereka semua memberinya jalan. Ketika pendeta melihat penghormatan dari Syaikh dan seluruh muridnya ini, dia lalu membungkukkan kepalanya kepada Syaikh ‘Abdulqadir Gilani . Beliau membalasnya dengan membungkukkan badan sampai ke pinggangnya. Ketika pendeta melihat hal ini dia lalu mengucapkan, “Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah.” Pendeta itu tahu kebenaran yang haqiqi dan kejadian tadi membuatnya malu. “Wahai Syaikh,” kata murid-muridnya, “Apa yang terjadi? Mengapa engkau memberikan begitu banyak penghormatan kepadanya?” Syaikh menjawab, “Aku memberi hormat kepada cahaya yang Allah berikan kepadanya dan Aku menghormati kedua malaikat yang berdiri di sisi kiri dan kanannya.” Penghormatan inilah yang menyebabkan cahaya itu keluar dan membuat pendeta itu bersyahadat. Dengan demikian memberi hormat adalah sangat penting.

Ketika Rasulullah akhirnya datang ke masjid, seluruh Sahabat telah berbaris dengan kepala tertunduk. Rasulullah lewat tanpa halangan menuju tempatnya. Sesampainya di sana, beliau kembali merinding dan berkata, “Allah telah mengutus Jibril kepadaku dan berkata, Ya Rasulullah ! Panggil seluruh pengikutmu dan sampaikan pesan itu! Ini adalah pesan yang tersulit yang pernah Jibril berikan selama hidupku. Aku sangat takut akan pesan ini sehingga Aku segera mengumpulkan kalian di sini agar kalian bisa mendengarkan dan mematuhi pesan ini.” Para Sahabat merasa gelisah, apakah akan ada suatu pertempuran yang besar atau sesuatu yang datang dari Surga.

Rasulullah berkata, “Allah telah memberitahuku semalam, bahwa Dia telah memerintahkan seluruh Malaikat di ketujuh Surga, Aku, dan seluruh Nabi dan Rasul yang telah meninggal untuk mengutuk dan memberikan kesulitan kepada orang yang tidak mematuhi pesan ini.” Seluruh orang menjadi ketakutan, apa yang bisa menyebabkan kutukan dari Allah , Malaikat, Nabi dan Rasul? Rasulullah melanjutkan, “Jika seseorang menyebabkan orang lain bercerita tentang kejadian buruk yang telah terjadi 2 jam sebelumnya, mereka akan dikutuk.” Hal ini berarti jika terjadi sesuatu yang salah dan hal itu membuat orang menjadi bingung, atau seseorang telah berkata kasar kepada orang lain dan kalian menceritakan kembali hal tersebut dalam percakapanmu lebih dari 2 jam kemudian, berarti kalian telah mendatangkan kutukan dari Allah , Rasulullah , Malaikat dan seluruh Nabi dan Rasul.

Kalian harus bisa menyembunyikan kesalahan saudara-saudarimu, karena Allah menyembunyikan kesalahan seluruh ummat manusia. Kalian tidak perlu menunjukkan kesalahan mereka karena kalian sendiri juga mempunyai kesalahan. Jika kalian menyembunyikan kesalahan mereka, Allah tidak akan menunjukkan kesalahanmu, inilah arti dari SATTAR, Yang Menyembunyikan. Sembunyikanlah kesalahan mereka, jangan mengatakan sesuatu yang menyakitkan saudara-saudarimu, maka Allah akan menyembunyikan kesalahanmu. Setiap orang mempunyai kesalahan yang disimpan dalam hati masing-masing. Jika kalian berusaha keras untuk menyembunyikan kesalahanmu mengapa kalian malah mengumbar kesalahan orang lain? Allah telah berjanji dengan Kemuliaan dan Kebesaran-Nya bahwa Dia akan mengutuk orang yang tidak menyembunyikan segala kejadian buruk yang telah menimpa mereka.

Wa min Allah at taufiq

Entry filed under: Rahasia Hati. Tags: .

Perantaraan Wali Wangi Naqsybandiyya

1 Komentar Add your own

  • 1. lily  |  April 6, 2008 pukul 7:56 am

    bagaimana akibat dari khalwat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 611,397 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: