AJARAN RAHASIA

April 6, 2007 at 3:34 am Tinggalkan komentar

Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang beijalan sambil membawa lilin, “Dari mana cahaya itu berasal?” Tiba-tiba ia meniupnya. “Katakan kepadaku, ke manakah perginya –maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya.”
(Hasan al-Bashri)

Apa pun menurut sebutan dari Timur maupun Barat, dengan suatu cara atau lainnya, kita adalah para pewaris berbagai kekuatan dan kelemahan filsafat Arab Abad Pertengahan. Salah satu kekurangan metode ini adalah upaya menerapkannya di luar bidangnya yang paling mencapai sukses. Tentu saja bidang ini adalah kumpulan, perbandingan, verifikasi dan penafsiran Hadis-hadis Nabi saw.

Pengambilan teknik ini beserta tradisinya itu sendiri merupakan perluasan berbagai metode keilmuan yang diperoleh orang-orang Saracen sendiri dari para teolog Yunani Kristen, dan perluasan ini berlangsung cepat. Teknik bisa dipelajari dengan mudah, sebab teknik ini berarti mengumpulkan fakta-fakta dan menumpuknya satu sama lain dengan tujuan membentuk susunan yang lengkap.

Ada faktor lain yang berdampingan dengan sistem ini di negeri-negeri Saracen, yaitu pembentukan madrasah-madrasah dan praktik keilmuan tertentu dimana guru, pengajaran dan murid, paling tidak dari satu pengertian, membentuk suatu kesatuan. Bagian dari metode ini tidak disampaikan tanpa perubahan, sebab metode ini tidak menyerahkan dirinya sendiri kepada pelembagaan, dimana format (dari metode tersebut) tengah berkembang secara cepat di Barat. Bahkan sebelum orang-orang Moor terusir dari Spanyol adalah kitab-kitab rnereka itulah yang paling banyak diterjemahkan, dan “jalur tunggal” pengetahuan ini diterima bersama-sama dengan bahan-bahan yang telah disaring dari sumber-sumber Mediteranian Timur yang lebih awal. “Kaleng untuk nanas diimpor, dan resep-resep ramuan didasarkan pada nanas kalengan itu. Pengembangan dan pengepakan nanas adalah sesuatu yang lain yang di semua kawasan hanya sedikit mendapat perhatian,” ucap seorang Sufi modern tentang tema ini.

Karena unsur pribadi dari seorang guru dengan berbagai pencapaian khusus bertentangan dengan kebutuhan dari sebuah organisasi yang berkelanjutan, maka konsep ini ditinggalkan. Metode ini dengan susah-payah tetap bertahan hidup di kalangan orang-orang independen yang sering disebut sebagai para penganut okultisme dan mengajarkan sebuah doktrin yang berbahaya bagi institualisme –suatu ajaran yang tidak dapat diterima karena kebutuhan terhadap seorang guru paripurna, seorang guru yang mengetahui hal-hal yang tidak terdapat dalam buku-buku.

Setelah kejatuhan Konstantinopel, bahan-bahan asli Yunani –lagi-lagi dalam bentuk buku– menyediakan banyak bahan-bahan “jalur tunggal”, lebih banyak kasus-kasus buah nanas. Lembaga murid terikat pada konsep untuk mempertahankan lembaga kerahiban dan akademi, memandang produk-produk lanjutan dalam bentuk pribadi-pribadi agung karena kekaguman dan penghormatan. Tujuan dari lembaga ini sebenarnya bukan untuk menghasilkan orang-orang semacam itu. Mereka berpikir sebaliknya dan bukan untuk tujuan itu. Mereka dijuluki orang-orang suci. Ini merupakan fungsi organisasi keagamaan.

Di sisi lain, gerakan intelektual mengkhususkan diri untuk menghasilkan lebih banyak intelektual dan pencerahan melalui penggunaan akal, mempergunakan sedikit banyak apa yang pada saat ini kita sebut sebagai rnesin, tetapi hampir dipandang sebagai sebuah bentuk penampilan suci, terutama karena nilainya yang baru.

Orang-orang Saracen sendiri bukannya tidak bersalah dengan menyebarkan pendekatan intelektual secara murni, meskipun secara umum hal ini mereka pandang sebagai sebuah tahapan dan bukannya sebuah dedikasi.

Jejak-jejak dari berbagai jenis pemikiran dan reaksi masih kuat kita rasakan. Ada (kalangan) skolastik taat, kalangan gei:eja saleh dan kalangan ilmuwan murni. Kemudian ada orang yang begitu membenci organisasi sehingga berlebihan menentangnya dengan menyerukan kembali kepada peramal yang tidak tahu baca-tulis dan yakin bahwa seluruh kebesaran manusia dicapai dengan ilham. Sementara ilmu-ilmu psikologis dan ilmu-ilmu lainnya mengikuti dengan menunjukkan ketidaklayakan dari ilmu-ilmu lainnya. Dalam banyak kasus, hal ini telah menjadi suatu nada tunggal yang bisa merujuk pada perdebatan dari suatu gagasan tertutup dan memiliki sifat dogmatisme keagamaan dan semua dogmatisme lainnya.

Bahkan dalam filsafat Arab formal (seringkali berarti Yunani), seringkali ada kandungan agung –nada-nada ajaran atau penekanan batin yang pengambilannya diabaikan oleh kalangan skolastik Barat dari tipe universitas. Di Timur, tradisi seorang guru dan para muridnya tetap berlanjut, disamping ada lapisan skolastisisme yang tipis.

Sudah diakui bahwa “gerakan intelektual yang dicanangkan oleh Ibnu Rusyd (pada abad kesebelas) tetap menjadi faktor yang hidup dalam pemikiran Eropa sampai lahirnya ilmu eksperimental modern.”1 Sejak abad kedelapan, orang-orangArab telah mengkaji dan menyesuaikan pemikiran Yunani dengan pemikiran mereka sendiri. Seperti orang-orang Barat pada masa selanjutnya, mereka semua bekerja berdasarkan buku semata-mata, dengan asumsi bahwa sebuah buku bisa memuat keseluruhan ajaran.

Ibnu Rusyd menegaskan hak seorang pemikir untuk menyerahkan segala sesuatu pada kemampuan akal, kecuali hal-hal yang berkaitan dengan supranaturalisme. Ia adalah seorang dokter, komentator Aristoteles dan seorang astronom. Ia juga mempelajari musik, yang tertuang dalam sebuah monograf (laporan tertulis) yang diterbitkan berkaitan dengan komentar terkenalnya atas karya Aristoteles dan diajarkan di Paris, setelah disensor oleh gereja. Sarjana Cordoba ini dikenal sebagai Averroes di Barat dan ia mempunyai pengaruh luar biasa terhadap para pemikir Yahudi. Seperti gurunya, Ibnu Tufail, ia telah menurunkan suatu sistem Sufi yang sejalan dengan sistem filosofis yang diperbolehkan. Ibnu Tufail (di Barat dikenal dengan Abubacer, sesuai dengan nama pertamanya, Abu Bakr) juga seorang ahli fisika, filosuf dan terutama seorang wazir di Pengadilan Granada. Ia menulis roman luar biasa yang berjudul Cerita tentang Hayy bin Yaqzan. Menurut para mahasiswa Barat, karya ini merupakan cikal-bakal dari cerita Robinson Crusoe. Sementara Alexander Selkirk sekadar berperan sebagai pelempar berita dengan menentukan topiknya. Karya ini didasarkan atas sebuah cerita dari Ibnu Sina (980-1037), yang ajarannya hampir seluruhnya bersifat filosofis. Ia juga seorang dokter, filosuf dan ilmuwan. Tetapi Ibnu Sina sendiri mengikuti jejak filosuf besar lainnya, yaitu al-Farabi (Alfarabius), yang gagasan Sufistiknya telah dicap sebagai Neoplatonik. Ia meninggal lebih dari dari seribu tahun yang lalu.

Semua nama ini adalah bagian vital dari warisan pemikiran modern. Menurut sebagian besar orang, reaksi menentang upaya-upaya Abad Pertengahan untuk membentuk suatu gagasan tentang kehidupan dan kreasi yang koheren tidak memberikan sesuatu yang lebih baik kepada kita selain kesiapan yang berlebihan untuk mempercayai segala sesuatu. Pikiran ilmuwan yang kritis, penuh keinginan terhadap penemuan, akhir-akhir ini diakui sebagai suatu sikap terlalu ambisius. Ilmuwan yang harus menjaga pikiran dan konsentrasinya terpaku pada suatu bidang kajian yang semakin menyempit, sebenarnya berada dalam keadaan rawan, dan sekarang ia mengakuinya. Ia justru terlalu terpusat atau terlalu lebur. Kadangkala perkembangan intelektualnya menang dengan mengorbankan penyesuaian emosionalnya. Bahaya ini telah lama tampak bagi para Sufi yang tertarik pada karya ilmiah. Salah satunya, Anwar Faris mengatakan:

Latihan kembar identifikasi dan pelepasan berguna dalam melatih diri. Terlalu banyak identifikasi menghasilkan suatu atrophia (berhentinya perkembangan) pada kemampuan pelepasan. Fanatisme merupakan akibat wajar darinya. Seseorang akan terikat kepada sesuatu dan tidak bisa melepaskannya. Ketika Ibnu Sina menulis karya tentang mineral, ia biasa mengkaji dunia mineral secara umum dan khusus. Ia memusatkan pada contoh-contoh individual, kemudian melepaskan perhatiannya dari hal ini dan meluruhkan dirinya ke dalam keseluruhan. Demikianlah ia melakukan keseimbangan dengan konsentrasi dan pelepasan dari bidang-bidang lain untuk pemikiran dan hakikat.

Obat superfisial dalam hal ini dinyatakan dalam ungkapan, “Insan Kamil”, yang oleh orang-orang Moor dipandang sebagai suatu refleksi manusia sempurna dari segi batin. Joseph McCabe (The Splendour of Moorish Spain, London, 1935) merujuk pada penampilan lahir dari manusia yang terlatih dalam lingkungan Spanyolnya:

… semua, kecuali segelintir pujangga yang aneh, sekarang melihat bahwa garis utama kemajuan manusia terletak pada perluasan semangat ilmiahnya untuk seluruh kehidupan. Tetapi harus tetap diingat bahwa hal ini hanyalah sebagian dari ideal Arab tentang kehidupan. Bagi kebanyakan pemikir, tampaknya akan sia-sia mempersoalkan jika ilmu tidak mengandung bahaya tertentu dengan membuat manusia menjadi keras, serba perhitungan, terlalu rasional, dingin, tidak peka terhadap keindahan dan seni. Mahasiswa-mahasiswa mereka untuk bidang ilmu pengetahuan biasanya juga sebenarnya seorang penyair dan musisi. Bahwa ada suatu antagonisme antara kehidupan intelektual dan emosional, bahwa keduanya tidak bisa dilatih oleh orang yang sama, tampaknya menjadi suatu paradoks bagi mereka.

Pandangan hidup ini, yang masih kurang bersifat Sufistik, secara luas tidak diadopsi oleh Barat yang baru bangkit. Pada masa pencerahan, ideal budaya telah diupayakan, tetapi tidak dalam bingkai tesis tentang perubahan mental, keseimbangan dan perluasan persepsi. Seni, berbagai kajian dan teori diadopsi secara parsial, dan dikaji, direproduksi bahkan dikembangkan. Visi batinnya hilang, dan dengan susah-payah bertahan pada berbagai tempat untuk dicemooh oleh kalangan skolastik dan pemuja seni murni yang tengah berjaya. Bahan-bahan itu dikaji dan dikembangkan dalam berbagai fragmen sebagai filsafat, astronomi dan kedokteran. Banyak sekolah yang tengah berkembang di Eropa Utara, di bawah tekanan atau pengawasan kalangan gereja yang ketat, merasa perlu menghilangkan berbagai sentimen non-Kristiani dari bahan-bahan ini. Hal ini semakin membatasi vitalitas dari bahan-bahan itu.

Dari Sicilia, melalui “Para Sultan Baptisan” Jerman dari keturunan Hohenstaufen, Eropa Utara menerima suatu bentuk pengetahuan semacam ini, tetapi tanpa ragu telah diproses dengan cara serupa. Meskipun demikian hal ini tidak menghalangi pengambilan arsitektur Sufi bagi benteng Hohenstaufen yang besar maupun simbolisme Sufi pada jubah penobatan Raja Roger I.

Tidak terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa mereka yang mempertahankan pemikiran Sufistik segera dicap sebagai penganut okultisme. Para penganutnya menerima tuduhan itu, akibatnya adalah suatu keyakinan yang terselewengkan atau tepatnya menyedihkan dalam praktik mursyid, pencerahan batin dan keberhasilan pribadi melalui okultisme. Roger Bacon mengutip “Rahasia-rahasia Hikmah Iluminis (Isyraqi)”, sebuah buku Sufi karya Ibnu Sabin, yang bersesuaian dengan Frederick II von Hohenstaufen. (Hitti, op. cit., hlm. 587, 610). Sudah nasib Bacon untuk dianggap sebagai seorang okultis, bukan karena ajarannya sebagaimana yang diterima secara resmi, tetapi karena ia telah mengingatkan teori “transmisi hidup” terhadap mereka yang membenci dogmatisme. Oleh karena itu, mereka sendiri terlempar dalam pemikiran liar skolastik. Sekarang para pewaris spiritual mereka menerima label okultis dan masih mengembara –seperti bangsa Indian yang belum terjamah dan sesungguhnya menyebut diri mereka sendiri sebagai orang-orang buangan.

Barat (yang semuanya berarti Gereja) telah mengambil apa yang dianggap diperlukan dan menutup pintu dengan apa yang tampaknya final. Buku-buku dibakar dan Spanyol mengklaim kembali atas keimanan yang benar (Kristen). Di sisi lain, dari ambang pintu itu tertinggal sekelompok orang, barang-barang dan berbagai gagasan aneh. Diantaranya adalah bahan-bahan untuk teka-teki di masa depan, tidak aneh bagi seorang Sufi –para troubador, permainan kartu, pantomim, masyarakat-masyarakat baru.

Ada celah-celah pada pintu itu yang memungkinkan sesuatu keluar masuk, meskipun sangat kecil.

Pada akhir abad kedelapan belas, Napoleon menjarah Mesir. Bersama pasukannya, Jenderal ini mendirikan Ordo Para Pencari Hikmah, oleh sebab itu dikenal sebagai Sufiyin –para Sufi.

Bahkan dalam sebuah buku yang mungkin dengan tepat diberi judul The Melange (Bunga Rampai), ia menjelaskan bagaimana meletakkan sumber-sumber hikmah rahasia “piatu (orphan)” Barat diantara para ahli Timur. “Ini merupakan sumber mata air. Selama berabad-abad kita mengikuti sungai lebar tetapi berlumpur.”

Mengapa dan dengan proses apa sungai itu berulang kali berlumpur, pada akhirnya tampaknya dipahami oleh kalangan “Sufiyin”, yang dalam mikrokosmos mengulangi nasib para pendahulunya –meskipun tidak melalui kesalahan mereka sendiri. Mereka beranggapan bahwa semua yang mereka butuhkan untuk diimpor ke Barat adalah doktrin dan metodologi itu, tanpa melalui guru.

Hanya enam tahun setelah tanggal permulaan orde itu, “Penegasan dari Para Ahli Hikmah Prancis”, mengakui kegagalan itu: “Kita harus menghentikan daripada melanjutkan secara berulang-ulang untuk mempraktikkan berbagai ritual, dan operasi yang tanpa kehadiran seorang guru, tidak bisa menghasilkan manusia sejati. Proses itu rumit dan hanya bisa dipahami oleh persepsi-persepsi superior terhadap kebutuhan. Rahasia yang dimiliki guru itu digunakan untuk menghasilkan dan mengembangkan perubahan kepada orang lain yang akan menggantikan tempatnya. Tanpanya, komunitas tidak bisa maju dalam arti sebenarnya, meskipun ia mungkin mempertahankan bentuk lahirnya.”

Paling tidak Ordo “Sufiyin” (Sophiens) itu telah belajar sesuatu. Fragmen-fragmennya tampaknya tetap bertahan hidup dengan susah-payah, sebab beberapa tahun kemudian, menurut riwayat, hidup di India.

Apakah pintu itu tertutup bagi kebaikan? Tampaknya demikian. Bukan saja Barat telah memiliki ilmu, seni dan bahan-bahan lain yang memadai untuk dimanfaatkan, tetapi mereka juga memiliki senjata propaganda. Perjuangan geo-politis dengan sangat baik digambarkan oleh Profesor Toynbee,2 digabungkan dengan mentalitas gerakan Salib, meneruskan untuk menodai segala sesuatu yang berbau Saracen; orang-orang Arab bukan saja dipandang sesat, kafir dan menyebalkan, tetapi juga kejam dan membahayakan. Barat mewarisi tradisi ini, yang secara mantap diperkuat oleh berbagai peristiwa. Pertama adalah bahwa orang-orang Arab Spanyol harus dipukul mundur dari perbatasan-perbatasan Prancis. Kemudian orang-orang kafir (Muslim) yang menguasai Tanah Suci (Jerusalem). Lalu orang-orang Turki mempersiapkan diri untuk menggoncang gerbang-gerbang Wina. Mohammedanisme (Islam) menyatu dalam pikiran Barat yang menghadirkan suatu ancaman dan kejahatan yang harus dibendung dan diserang balik. Tahapan akhirnya dengan baik dimasuki oleh berbagai kepentingan misioner yang bertujuan mengalahkan Islam untuk kejayaan Gereja yang lebih besar. Keberadaan imperium Turki hanya membuktikan bahwa musuh kafir itu masih menjadi ancaman. Bagaimanapun, sedikit yang diketahui dari orang-orang yang dalam banyak kasus sekarang ini menjadi anggota dari komunitas-komunitas yang tergantung itu, apakah matahari terbenam atas mereka atau tidak.

Hanya orang-orang aneh saja yang tertarik pada filsafat Timur. Orang-orang aneh bisa ditemukan dalam setiap komunitas. Apakah seseorang menoleh ke Turki atau menjadi pribumi? Bangsa yang tidak tahu kesehatan dan bahkan tidak menerima Injil serta bangsa terjajah tampaknya sulit untuk mengajarkan sesuatu. Bagaimanapun, biarkan mereka menata rumahnya sendiri.

Meskipun ada orang-orang yang melihat di balik pandangan temporer tentang perkembangan manusia, meskipun mereka tidak akan pernah yakin bahwa lingkungan di mana mereka menemukan dirinya adalah juga bersifat temporer sebagaimana sekarang kita mengetahuinya. Proses itu dimulai secara dini, lebih awal dari yang bisa diyakini. Arus Sufistik telah bekerja.

Kita harus kembali ratusan tahun silam ke Majorca untuk menemukan jejak kehidupan ganda yang dipimpin oleh para penganut mistik pada waktu itu tokoh-tokoh Kristen berperan ganda sebagai guru Sufi.

Brother Anselm of Turmeda adalah seorang penganut mistik Majorca pada zaman kegelapan –dan seorang saint (orang suci) bagi kalangan Kristen. Tetapi ini jauh dari segalanya. Di kalangan orang-orang Spanyol Muslim, ia adalah Sufi (wali) Abdullah at Taijuman. Apa yang telah diajarkannya? Bukunya, Pertikaian Keledai dengan Brother Anselmo, merupakan suatu bentuk terjemahan harfiah dari sebagian Ensiklopedia Ikhwanush Shafa. Karena nama Arabnya secara harfiah berarti “Hamba Allah”, “Sang Penerjemah”, maka tidak ada alasan mengapa ia tidak berusaha menyebarkan ajaran-ajaran Sufi melalui penerjemahan. Seorang sarjana Spanyol modern (Angel Gonzalez Palencia, dalam Hispania, XVIII, 3 Oktober 1935) memberikan perhatian kepadanya dan menyebutnya el estupendo plagiario –tetapi pada Abad Pertengahan, pengetahuan tidak dipandang sebagai milik pribadi-pribadi, terutama pengetahuan yang diterbitkan oleh sebuah kelompok rahasia seperti Ikhwanush Shafa. Sementara hak salinan belum dikenal.

Kaitan hidup antara ajaran Arab dan Kristen diteruskan oleh pribadi aneh lainnya, yaitu seorang pastor pembelot. Pada tahun 1782, Pastor Juan Andres, seorang Jesuit terbuang, menerbitkan sebuah buku terkenal Origen, progresos y estado actual de toda la literatura. Ia berusaha memperlihatkan hutang Eropa pada pengetahuan Arab-Spanyol. Ia menunjuk pada difusi ilmu, bahkan mengakui hutang St. Thomas pada sumber ini. Ia melihat bahwa puisi Spanyol muncul dari perkembangan bahasa Arab di Spanyol, termasuk roman-roman Provencal dan troubador serta bait lirik Italia, begitu pula perkembangan novel, fabel dan musik dari Alfonso the Sage yang berbahasa Arab.

Bagaimana pemeluk Jesuit yang membelot itu mengetahui semua hal ini? Pada masa itu tidak ada dokumentasi yang tersedia untuknya. Meskipun demikian, dengan cara yang tidak bisa dijelaskan, ia menemukan fakta-fakta tentang warisan Arab –terutama di bidang tasawuf– terhadap Barat yang pada masa berikutnya semuanya dipilah-pilah, hampir setiap pokok bahasan, sebagian besar melalui kajian berbagai dokumen Arab Spanyol. Bahkan kemungkinan asal-usul sistem Jesuit berasal dari madzhab-madzhab Fathimiyah di Mesir3 hampir tidak bisa bersandar pada persepsi yang diperlihatkan oleh mantan Pastor Andres, sebab ia bukanlah suatu madzhab Sufi. Apa ada suatu arus dari ajaran yang tersembunyi, suatu bentuk ajaran kuno yang telah disadap oleh penganut Jesuit buangan itu?

Sebenarnya memang ada. Pengaruh Timur pada zaman kegelapan (Eropa) diserap dalam beberapa tingkatan. Yang terpenting adalah pengaruh dalam bidang teologi dan okultisme. Lully, Assisi, Scot dan puluhan tokoh lainnya mengajarkan versi teologis. Tetapi kita hanya perlu melihat sepintas daftar nama-nama termasyhur dalam pencerahan okultisme Eropa untuk melihat apakah sifat dasar dari ajaran rahasia yang mereka turunkan, betapapun kacaunya bentuknya.

Raymond Lully, menurut para pengamat okultisme, adalah seorang ahli alkimia dan orang yang tercerahkan. Menurut penganut yang taat, ia adalah seorang misionaris Kristen. Menurut tulisan-tulisannya sendiri, ia adalah seorang penyadur kitab-kitab dan latihan-latihan Sufi. Roger Bacon, seorang tokoh okultisme lainnya, menulis tentang pencerahan spiritual Sufi. Paracelsus yang mencoba memperbarui pengobatan Eropa, menghadirkan gagasan-gagasan Sufi. Ia juga merupakan salah satu tokoh dari para “ahli magis” dan alkimia. Geber (Jabir) adalah seorang Sufi Iraq yang sangat termasyhur –ia juga ahli alkimia. Ia dikenal sebagai guru okultisme. Tokoh yang juga tergolong dalam tradisi okultisme adalah Albertus Magnus, yang merupakan pemikir skolastik dan ahli magis, pernah belajar di sekolah-sekolah Arab dan telah mengilhami St. Thomas Aquinas. Beberapa Paus yang diduga sebagai ahli magis atau penerus suatu ajaran rahasia adalah lulusan dari sekolah-sekolah Arab –seperti Paus Gerbert, Paus Silvester II. Laurence, Uskup Malfi, dituduh telah belajar ajaran rahasia dari Silvester. Demikianlah proses tersebut berlanjut.

Dalam organisasi-organisasi itu ceritanya sama. Jika Ordo Franciscan memperlihatkan asal-usul Sufi, demikian pula Ordo Rosicrucian dan Mason. Terminologi para penyihir kontemporer di Inggris mengandung ungkapan-ungkapan Arab yang tidak diterjemahkan. Penghormatan, “Blessed Be!” (Berkatilah) memang tidak begitu berarti, tetapi memberikan suatu contoh terjemahan langsung dari penghormatan Sufi, “Mabaruk basyad” –permohonan barakah terhadap seseorang atau majelis.

Oleh karena itu, ajaran rahasia dalam setiap ungkapannya yang bisa kita ketahui, berubah menjadi sangat sedikit selain dari simplisitas bagi siapa saja yang memiliki kesabaran atau pengetahuan umum tentang apa yang ada di sisi pintu ketika ia tertutup, semuanya berabad-abad yang lalu.

Disamping semua drama dan penemuan yang gempar, selalu ada kehidupan dalam setiap ilmuwan ketika getaran kesadaran tumbuh dalam dirinya. Mungkin ini merupakan akibat dari suatu pemikiran kecil yang bekerja dalam batin, dengan sabar mengumpulkan serpihan-serpihan informasi yang diabaikan, tiba-tiba menyeruak ke dalam cahaya yang menyilaukan. Para penemu, ilmuwan dan sejarawan merasakan pengalaman ini. Miguel Asin Palacios, pakar Arab Spanyol yang termasyhur, meskipun seorang Kristen yang taat, merasakan getaran ini ketika menggeluti karya madzhab Isyraqi (iluminis) dari para filosuf Sufi dan menyadari apa yang telah mereka berikan pada dunia –bahkan yang tertinggi mencapai dunia Katholik.

Adalah pada abad kesembilan, Ibnu Masarra dari Cordoba mengajarkan kepada sekelompok murid pilihan apa yang ia ketahui tentang tingkatan tinggi yang mampu dicapai oleh kesadaran manusia. Dari permulaan-permulaan ini, para penganut Isyraqi menyediakan substansi bagi berbagai kiasan Dante; ajaran-ajaran dari madzhab yang dikenal sebagai kelompok Agustinian pada Abad Pertengahan; hikmah dari beberapa pendiri filsafat modern –Duns Scotus dan Roger Bacon dari Inggris, Raymond Lully dari Majorca, St. John of the Cross termasuk mereka yang dianggap Suci. Solomon ibnu Gabirol, seorang pemikir Yahudi dari Malaga, mendasarkan karyanya Fount of Life pada karya Masarra. Selanjutnya, karya ini mengilhami madzhab Franciscan (Hitti, History of the Arabs, hlm. 580).

Ketika ia semakin mendalami berbagai manuskrip langka yang terabaikan dan hampir-hampir tak tersentuh sejak pengusiran orang-orang Moor, kebahagiaan Profesor Asin semakin memuncak. Di dalam naskah Maghribi dari para Sufi Spanyol seribu tahun silam yang aneh dan kadangkala keras, bukan saja terkandung gagasan tentang filsafat Isyraqi –tetapi dalam banyak kasus, ia menemukan berbagai kutipan harfiah yang dikutip dalam karya-karya para mistikus dan filosuf yang namanya sangat terkenal di kalangan orang-orang saleh Eropa. Meskipun demikian, Asin tidak sendirian dalam penemuan ini, karena Profesor Ribera telah mencatat fakta-fakta ini, seperti pernyataan dari mistikus besar Majorca, Lully yang telah menulis karya utamanya “Kitab tentang Pecinta dan Kekasih”, dengan menggunakan pola karangan yang biasa dipakai oleh para Sufi.

Semua ini semakin terasa mencolok karena kaum Sufi Isyraqi termasuk Sufi paling masyhur, namun paling rahasia dari semua madzhab Sufi lainnya. Tokoh-tokoh intelektual agung seperti Suhrawardi, Ibnu Arabi dari Murcia dan al-Ghazali secara tegas menyatakan dalam berbagai karya umumnya, agar tidak menyampaikan data utama yang bisa mengantarkan jiwa manusia kepada transformasi sebenarnya dan menyempurnakan “Kimia Kebahagiaan”, sebagaimana diistilahkan al-Ghazali. Keanehan itu menunjukkan bahwa kontradiksi antara gnostisisme dan agnostisisme sebenarnya bertemu dalam jalan Sufi, dan hal ini membingungkan orang-orang luar (eksternalis) yang berupaya menembus berbagai pengalaman dari madzhab-madzhab Isyraqi itu. Hal ini sampai sekarang masih membingungkan sebagian orang.

Tetapi ada bukti bahwa pada tingkatan-tingkatan terdalam dari rahasia Sufi terdapat suatu komunikasi timbal balik dengan para mistikus Barat Kristen. Sementara pengaruh filsafat iluminis secara mendasar juga mempengaruhi Timur –para penganut mistik Persia, Turki dan Afghanistan mengikuti para iluminis. Arkon Daraul (A History of Secret Societies, NewYork, 1962) telah memperlihatkan bahwa proses iluminisme sebagai tuan rumah bagi ‘suatu rahasia di dalam suatu rahasia’ berlanjut sampai saat ini. Kalangan iluminis Inggris, Prancis dan Jerman membentuk suatu masyarakat rahasia, kelompok Alumbrados Spanyol dan berbagai lingkaran perintis lainnya, tetap menyebarkan berbagai ajaran dari para sarjana Spanyol ini.

Sebelum beralih pada pembahasan tentang apa itu iluminisme, kami akan membicarakan apa yang dikatakan oleh para pengikutnya tentang asal-usulnya. Di sini lagi-lagi kita menjumpai teori doktrin rahasia itu dalam perkembangannya secara utuh. Kitab rahasia Hikmah Isyraqi (Pencerahan) menyatakan, bahwa filsafat itu identik dengan ajaran-ajaran batin dari semua (filosuf) kuno –Yunani, Persia dan Mesir– dan merupakan ilmu Cahaya serta Kebenaran terdalam. Melalui latihan spiritualnya, manusia bisa mencapai suatu maqam (status) yang pada keadaan biasa hanya bisa diimpikannya.

Roger Bacon mengulangi penegasan ini berkali-kali. Dari dia lah gagasan itu disebarkan ke seluruh Eropa, yang melahirkan berbagai madzhab rahasia, beberapa diantaranya murni sementara lainnya hanyalah gadungan. “Pengetahuan ini,” ujar Bacon, “dicapai oleh Nuh dan Ibrahim, demikian pula para guru Chaldea dan Mesir maupun Zoroaster, Hermes dan para filosuf Yunani seperti Pythagoras, Anaxagoras dan Socrates –dan para Sufi.” Suhrawardi yang menulis kitab rahasianya seratus tahun sebelum Bacon –atau lebih tepatnya Bacon mengutip karyanya, sebagaimana Baron Carra de Vaux telah memperlihatkannya (Journal Asiatique, XIX hlm. 63).

Di antara liku-liku aneh dalam sejarah, kita mungkin bisa melihat Bacon dijuluki sebagai seorang Rosicrucian, penganut jalan Salib Mawar –suatu kesalahan penerjemahan dari ungkapan-ungkapan Sufi “Jalan Mawar”.

Tidak bisa dipungkiri bahwa para pemeluk agama yang fanatik dan lainnya akan menyerang balik para sarjana Barat yang menggali berbagai ajaran Sufi sebagai dasar kerja yang telah dikagumi dan disambut hangat selama berabad-abad oleh semua pemeluk Kristen ortodoks. Oleh karena itu, Asin menjawab (Obras Escogidas, I, Madrid, 1946) dengan semua penekanan yang ada padanya:

“Sebuah tesis doktoral yang baru-baru ini diterbitkan –Character and Origins of the Ideas of the Blessed Raymond Lully, Toulouse, 1912– karya Mr. Probost, dengan keberanian yang kekanak-kanakan, menyebut Menedez y Pelayo, Ribera dan saya sebagai pendusta dan romantik karena mempertahankan adanya pertalian Arab dalam sistem pemikiran Lully. Anak muda amatiran ini tidak mengetahui studi saya, Psychology Accordimg to Mohiedin Abenarabi (Psikologi menurut Muhyiddin Ibnu Arabi), yang diterbitkan dalam Actes du XIV Congres des Orientalistes tujuh tahun yang lalu, dimana di dalamnya saya telah memperlihatkan secara dokumenter salinan kiasan ‘Cahaya-cahaya’.” Bahkan pada masa itu, sebelum berbagai kajiannya tentang Iluminisme para Sufi tuntas, Asin telah siap dan ingin menunjukkan berbagai dokumen untuk membuktikan pernyataannya itu.

Dalam karya orang-orang seperti Asin, pendulum itu berayun ke belakang dan pengaruh Sufi bisa dikenali. Tetapi adanya penemuan bahwa para pemikir Kristen menggunakan kitab-kitab dan cara-cara Sufi. Sementara terminologi Sufi itu telah menimbulkan berbagai akibat yang tidak bisa dihindari, yang dinyatakan dalam berbagai penjelasan dimana sekarang ini mengalir dari sel-sel skolastik modern. Sekarang dinyatakan bahwa Sufisme bisa menghasilkan pengalaman mistik yang sebenarnya, karena para Sufi mengagungkan Yesus. Lebih jauh lagi, Sufisme secara mendasar dipengaruhi oleh ajaran Kristen pada masa awalnya. Implikasinya adalah bahwa idea-idea Sufistik tidak perlu ditolak. Jika St. John of the Cross dan Lully bisa mempergunakannya, maka niscaya ada kebaikan tertentu padanya. Kalangan skolastik menelusuri kembali bagian dari keyakinan mereka dan menulis kembali sejarah mereka untuk mengungkapkan berbagai fakta yang tidak mengenakkan. Satu-satunya bahaya dalam kegiatan ini adalah bahwa, karena bahan-bahan baru diketahui, pembentukan sikap resmi kembali adalah suatu keharusan. Hal ini menjadi semacam latihan mental. Mereka yang tidak menganut keyakinan teologis yang kuat akan sibuk menelusuri kembali Sufisme dari “kebetulan-kebetulan” dalam doktrin-doktrin kuno.

Kontak dengan para Sufi, yang terbukti sama sekali tidak menyeramkan, mendorong perkembangan menarik lainnya dalam pemikiran Barat, sebagai suatu proses yang masih berlangsung. Perkembangan ini dengan tepat bisa diistilahkan sebagai pengakuan. Suatu kesadaran terhadap kesamaan pemikiran Sufistik dengan intuisi dari berbagai idea Barat telah membawa banyak orang kepada suatu titik dimana mereka memusatkan perhatiannya pada sistem tersebut. Melalui pemikiran Sufistik terungkap dua alasan –pertama karena dasar-dasar praktik Sufi inheren dengan pikiran manusia (“Hanya ada satu Jalan yang Benar”) dan karena semua jenis pelatihan Barat merupakan benih-benih gagasan yang disampaikan para Sufi dari Spanyol, Sicilia dan di mana saja. Berbagai sentimen Sufistik Khayyam dan lain-lainnya yang hampir ternaturalisasikan di Barat, merupakan sumber lain dari penggabungan aliran ini. Kita memiliki berbagai aspek penggabungan tersebut dalam buku ini dan dipilih untuk menggambarkan hal itu bukan sebagai suatu penjabaran yang lengkap.

Pengajaran dari satu akhir ajaran rahasia yang berkesinambungan itu, yang mana kitab-kitab filosuf hanyalah suatu bagian tanpa kunci, argumen-argumen tanpa aksi, disebarkan ke Barat melalui para Sufi Isyraqi Spanyol dan kemungkinan juga melalui Timur Dekat. Salah satu salurannya telah kita ketahui –dari Andalusia penyebaran idea ini telah ditelusuri oleh Asin dan para sahabatnya sampai kepada Roger Bacon dan Raymond Lully. Yang lainnya mengikuti jejak dalam karya Alexander Hales dan Duns Scotus. Ia telah melihat pengaruh yang menentukan terhadap kalangan skolastis Barat yang disebut sebagai Agustinian.

Catatan tradisional tentang bagaimana dan dari mana ajaran-ajaran itu disampaikan, secara parsial terkandung dalam Kitab Hikmah Isyraqi (Pencerahan), yang ditulis oleh Suhrawardi sang martir (asy-Syahid). Ia hidup mulai tahun 1154 sampai 1191, seorang Timur yang tinggal di Aleppo dan dibunuh oleh kalangan ortodoks karena tekanan keponakan Salahuddin, tidak mampu mempertahankannya. Oleh karena itu, ia dikenal dengan nama Suhrawardi al-Maqtun (Suhrawardi the Murdered). Ia adalah salah satu guru Sufi terbesar dan madzhabnya mengilhami Dante sebagaimana telah ditunjukkan oleh Asin. “Syekh yang Terbunuh” itu tidak menurunkan teori Isyraqi dalam Sufisme dan tidak menurunkan tradisi silsilah para guru dari masa lampau. Tetapi dalam pengantar kitabnya, kita memiliki sketsa berbagai ajarannya tentang masalah ini. Semua salinannya dibakar, tetapi sebagian berhasil diselamatkan terutama di Timur.

Sebagaimana hampir semua kitab Sufi, karya ini ditulis untuk memenuhi permintaan yang berulang-ulang, seperti yang ia nyatakan –ditulis untuk para teman dan sahabatnya. Filsafat selalu ada, dan selalu ada filosuf sejati di dunia ini. Berbagai perbedaan antara para filosuf kuno dan modern terletak pada bukti dan demonstrasi. Aristoteles adalah seorang guru besar, tetapi ia tetap bergantung kepada para pendahulunya. Diantaranya adalah Hermes, Aesculapius dan lain-lainnya dalam rentetan yang sangat panjang. Mereka mungkin terbagi ke dalam berbagai tingkatan, sebagian lebih tinggi dari yang lainnya, sesuai dengan tingkat penalaran, pemikiran, kepercayaan, dan seterusnya. Arti penting filosuf begitu besar, sehingga jika ditemukan seorang filosuf yang benar-benar sempurna, maka ia adalah wakil Tuhan di bumi ini. Tetapi filosuf batin selalu lebih unggul dibandingkan filosuf skolastik. Tidak pernah ada suatu masa dimana seorang dalam Teosof (Arif billah) yang agung tidak hadir di dalamnya. Filosuf spekulatif tidak memiliki hak atau mengklaim kekuasaan. Kekuasaan ini mungkin bukan kekuasaan politik, tetapi jika hikmah dan kekuasaan secara material digabung, maka masa itu akan tercerahkan. Akan tetapi filosuf mungkin akan tetap dikenal karena kebajikannya yang tulus meskipun ia memiliki kekuasaan di dunia ini.

Bagi filosuf, yang terbaik adalah memadukan pandangan batin dengan pengalaman, dibandingkan dengan hanya menguasai salah satunya. Tidak seorang pun bisa mengambil manfaat dalam mengkaji Sufisme, kecuali jika ia telah membebaskan dirinya dari berbagai kebiasaan mental dalam filsafat formal. Orang yang belum berkembang semacam ini seharusnya hanya mengunjungi filosuf yang dikenal secara umum. Dalam Sufisme, persepsi tertentu harus dikembangkan dan pengernbangan selanjutnya bergantung pada persepsinya. Hal ini sejalan dengan metode skolastik dimana berbagai pengalaman dibentuk dan berbagai idea membentuk idea lainnya. Jika cara Sufi ini tidak diikuti, maka seseorang tidak bisa dipandang sebagai filosuf sejati.

Ajaran-ajaran kuno Mesir dan Yunani berkaitan langsung dengan Sufisme, dan bersama ajaran-ajaran ini niscaya pengungkapannya harus mengambil tempat serta berhubungan dengan pengalaman, artinya pengembangan berbagai persepsi dalam Sufisme. Terminologi dari para penganut iluminisme menunjukkan bahwa teori itu mencakup hikmah kuno dari bangsa Semit maupun Persia. Oleh karena itu, ia menunjukkan tema kesatuan esensial dalam filsafat “Tunggal” pada tataran teori dan praktik.

Dalam skolastisisme formal, pembagian (atau tepatnya pembedaan) antara akal dan inspirasi niscaya begitu penting sehingga bagi pembaca yang belum tahu pada awalnya sulit untuk memahami bahwa kedua hal itu dipandang tidak bisa dipisahkan jika ingin mencapai kebenaran menurut madzhab iluminisme itu. Oleh karena itu, Sufi menekankan bahwa langkah kesadaran ini harus dilakukan.

Catatan:

1 Profesor Philip Hitti, History of the Arabs, hlm. 584.

2 A. J. Toynbee, A Study of History, Vol. III: Masa-masa kepahlawanan — Kontak-kontak Antar peradaban dalam Ruang, Oxford, 1956, hlm. 216 dan seterusnya, di bawah sub-bab “Pengepungan Dunia Islam oleh Barat, Persia dan Tibet”.

3 Berbagai korespondensi itu tercatat dalam karya otoritatif Ameer Ali, Short History of Saracens.

Entry filed under: Tasawuf. Tags: .

Rumah Segala Penyakit Kemuliaan Tanpa Akhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 611,397 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: