Tugas Murid Junaid

April 2, 2007 at 6:06 am 4 komentar

Junaid Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.

Suatu saat, Junaid menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaid memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.

Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaid, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak boleh melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.

Junaid lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.

Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Aku tak boleh pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku.

Entry filed under: Kisah-Kisah Sufi. Tags: .

Tempat Tinggal Ruh Riwayat Hidup Imam Muslim

4 Komentar Add your own

  • 1. Yusuf  |  Oktober 2, 2007 pukul 4:00 am

    Assalamu’alaikum. Salam kenal. Trims atas kisahnya yang bermanfaat. Kebetulan memang saya lagi cari kisah ini di google. Koq bisa ya, merasakan kehadiran Allah begitu dekat. Sementara kita sangat berat untuk bisa seperti itu. Mungkin dia sudah sangat ikhlas dalam melaksanakan semua kewajibannya dan sangat cinta melakukannya. bukan sekedar menggugurkan kewajiban. Tapi saya sangat yakin kita juga bisa asalkan kita mau “mengorbankan” sebagian dari kebebasan duniawi kita. Wallahu’alam. Wassalam.

    Balas
  • 2. Fahmi  |  Oktober 26, 2007 pukul 1:01 pm

    Betul kita bisa seperti murid itu, asalkan kita mau, asalkan hati kita bersih tak ada kotoran,

    Balas
  • 3. sutisno  |  Januari 1, 2013 pukul 5:58 pm

    Ketika pemahaman yang diaplikasikan dengan ke Imanan yang sangat sadar dan Iklash maka tak akan terkecoh oleh muslihat

    Balas
  • 4. Kisah Sufi #1 “Junaid Al-Baghdadi” | Rebanion  |  Februari 8, 2016 pukul 3:51 pm

    […] Sumber: syafii.wordpress.com. […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 611,398 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: