Ketika Maut Datang Ke Baghdad

April 2, 2007 at 6:29 am Tinggalkan komentar

Pada suatu hari, pengikut seorang Sufi di Bagdad sedang duduk di sudut sebuah kedai ketika didengarnya dua mahkluk sedang bercakap-cakap. Berdasarkan apa yang dipercakapkan itu, pengikut Sufi tersebut mengetahui bahwa salah satu diantara yang sedang berbicara itu adalah Malaikat Maut.

“Saya bertugas menemui sejumlah orang di kota ini selama tiga minggu mendatang.” kata Malaikat itu kepada temannya bicara.

Karena takut, pengikut Sufi itu menyembunyikan diri sampai yang berbicara itu berlalu. Kemudian, setelah memeras otak bagaimana caranya menghindarkan diri dari maut, ia memutuskan bahwa apabila ia menjauhkan diri dari Bagdad, tentunya Maut tak akan bisa mencapainya. Berdasarkan alasan itu, iapun segera menyewa kuda yang tercepat, dan memacunya siang malam menuju Samarkand.

Sementara itu Malaikat Maut menemui guru Sufi; mereka berdua membicarakan beberapa orang. “Dan di mana gerangan pengikutmu Si Anu?” tanya Maut.

“Tentunya ia ada di kota, sedang merenungkan sesuatu, mungkin di sebuah kedai minum,” jawab Sang Guru.

“Aneh,” kata Sang Malaikat. “Ia terdapat dalam daftarku. Ya, betul, ini dia; dan aku harus menjemputnya dalam waktu empat minggu ini di Samarkand, ya, Samarkand.”

Catatan:

Versi kisah ini diambil dari Hikayat -i- Naqshia ‘Kisah Nasib.’

Pencipta kisah ini, kisah yang sangat disukai di Timur Tengah, adalah Sufi Agung Fudail bin Ayad, bekas perampok yang meninggal pada awal abad kesembilan.

Menurut cerita Sufi, yang dikukuhkan oleh bahan-bahan sejarah, Harun Al-Rasyid Kalifah Bagdad mencoba memusatkan segala pengetahuan di istana dalam naungannya, tetapi tak ada seorangpun yang menghendaki Raja Segala Raja itu meminta bantuan dalam menjalankan tugasnya.

Ahli sejarah Sufi menceritakan bagaimana Harun dan Perdana Menterinya mengunjungi Mekah untuk bertemu dengan Fudail, yang mengatakan, “Sang Penguasa Kaum Setia: Tampaknya wajah Baginda yang cemerlang itu akan jatuh ke api neraka!”

Harun bertanya kepada Sang Bijak, “Pernahkah kau mengenal orang lebih mampu mengambil jarak daripada kau sendiri?”

Fudail menjawab, “Pernah. Baginda lebih mampu mengambil jarak dari lingkungan dunia biasa ini; tetapi baginda telah mampu mengambil jarak yang lebih besar yakni dari keabadian!”

Fudail mengatakan kepada Khalifah bahwa kekuasaan atas diri sendiri lebih berharga daripada kekuasaan selama seribu tahun atas orang-orang lain.

Entry filed under: Hikayat. Tags: .

Tiga Kebenaran Asal Api di Neraka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 611,398 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: