Tawakkal

Maret 30, 2007 at 9:19 am Tinggalkan komentar

Oleh H. Fachrurrozy Pulungan ” Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” Q.S.65.A.33.

Kata tawakkal terbentuk dari akar kata ‘ al wakalah’. Jika dikatakan, ‘ wakkala fulana amrohu ila fulana’, berarti, si polan A menyerahkan urusannya kepada si polan B serta si polan A bersandar kepada sipolan B dalam urusan itu.Tawakkal merupakan ungkapan tentang penyandaran diri (hati dan pikiran) kepada sesuatu yang diwakilkannya yang dianggapnya mampu mendatangkan sesuatu sesuai dengan keinginannya.

Seseorang belum bisa disebut tawakkal kecuali setelah ia bersandar kepadanya dalam beberapa hal; yaitu dalam masalah simpati, kekuatan dan petunjuk. Dalam Islam tawakkal adalah sikap mental seseorang karena cahaya iman dan keyakinan dalam dadanya, dan tawakkal itu sendiri harus disandarkan kepada tauhid.

Nabi Sulaiman as adalah satu-satunya nabi yang memperoleh keistimewaan dari Allah Swt. Sebagai nabi yang kaya raya serta dapat memahami bahasa binatang dan berkomunikasi dengan mereka seperti layaknya dengan manusia.

Dalam al Qur’an surah an Naml ayat 15–26 adalah sebagian dari kisah nabi Sulaiman yang menceritakan keistimewaannya, yang ia warisi dari ayahnya Nabi Daud as. ” Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan ia berkata, ‘ Hai manusia kami telah diberi pengertian (ilmu) tentang ucapan burung dan kami diberi sesuatu. Sesungguhnya semua ini benar-benar satu karunia yang nyata.

Dan Allah menghimpun untuk Sulaiman tentaranya dari golongan jin, manusia dan burung, lalu mereka diatur (dalam barisan) secara tertib dan teratur, sehingga apabila mereka sampai ke sebuah lembah semut, maka berkatalah seekor semut (ratu semut), wahai sekalian semut masuklah kedalam sarang-sarang kalian agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedang mereka tidak menyadarinya.

Nabi Sulaiman tersenyum sambil tertawa mendengar ucapan semut itu dan Sualiman pun berdo’a. Ya Rob, berilah aku ilmu untuk senantiasa mensyukuri nikmat yang Engkau berikan kepada ku dan kepada kedua orangtua ku, dan karuniakanlah kepadaku hingga aku bisa melakukan karya produktif/ amal-amal soleh yang engkau ridhoi, dan masukkanlah aku kedalam rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hambaMu yang soleh.”

Semut adalah salah satu makhluk Allah yang diciptakan dengan populasi terpadat di dunia, dan merupakan salah satu kelompok yang paling sosial dalam spesis serangga dan hidup sebagai masyarakat yang disebut ‘koloni’, terorganisir luar biasa baik.

Menurut penelitian Dr. Harun Yahya dalam bukunya The Miracle of Ant, menyebutkan bahwa kehidupan semut adalah sebuah tatanan organisasi yang begitu maju sehingga dapat dikatakan dalam segi ini, mereka memiliki peradaban yang mirip dengan peradaban manusia.

Lebih lanjut Harun Yahya mengatakan bahwa semut memiliki semua alat produksi dan makanan dipertukarkan secara tertib dalam koloni yang wilayah nya mencapai dua koma tujuh kilometer persegi. Sungguh sulit menjelaskan bagaimana semut-semut ini mempertahankan ketertiban tanpa masalah, mengingat luasnya tempat tinggal mereka.

Perlu kita ingat, untuk menegakkan hukum dan menjaga ketertiban sosial, bahkan di negara beradab sekalipun dan dengan sedikit penduduk diperlukan berbagai kekuatan keamanan . Diperlukan pula staf administrasi yang memimpin dan mengelola setiap unitnya, Akan tetapi terkadang ketertiban tidak dapat dijaga tanpa timbulnya masalah, meski telah diupayakan sedemikian rupa.

Namun semut tidak memerlukan semua itu, mereka begitu tunduk dan patuh kepada sang ratu sebagai pemimpin. Itulah sebabnya dalam al Qur’an ada sebuah surat yang bernama an Naml atau semut, sebagai salah satu keMaha Karyaan Allah agar menjadi contoh bagi manusia yang berakal.

Menurut beberapa riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman as bertanya kepada seekor semut, ” Wahai semut! berapa banyak kau peroleh rezeki dari Allah dalam setahun ?”

“Sebesar biji gandum,” jawab semut.

Kemudian Nabi Sulaiman as memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Nabi Sulaiman membuka botol tersebut untuk melihat nasib sang semut. Namun didapatinya semut tersebut hanya memakan sebagian dari biji gandum itu. Lalu Nabi Sulaiman bertanya,

“Mengapa kau hanya memakan sebagian dan tidak menghabiskannya ?”

” Dahulu aku bertawakkal dan pasrah diri kepada Allah,” jawab semut.

” Dengan bertawakkal dan pasrah diri kepada Nya, aku yakin bahwa Allah tidak akan melupakan aku. Dan ketika aku pasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah kau akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya, sehingga bisa memperoleh sebiji gandum lagi, atau kau akan lupa kepadaku. Karena itu aku harus sisakan makanan ini sebagian sebagai bekal bagiku di tahun berikutnya.”

Nabi Sulaiman, biarpun ia sangat kaya, namun kekayaannya adalah relatif, karena yang Maha Kaya secara mutlak adalah Allah Swt. Nabi Sulaiman meskipun sangat baik dan penuh kasih, namun yang Maha Baik dan Maha Kasih itu hanyalah Allah Swt.

Dalam diri Nabi Sulaiman tersimpan sifat relatifitas dan kenisbian yang tidak bisa ditolaknya, seperti sifat manusia lainnya, sementara sifat Allah inheren pada sifat kemutlakan dan ke absolutanNya.

Demikianlah, betapapun kayanya Nabi Sulaiman, namun ia hanyalah manusia biasa yang tidak bisa sepenuhnya dijadikan tempat bergantung. Bagaimanapun kasihnya Nabi Sulaiman ia adalah manusia biasa yang memiliki kedhoifan/kelemahan.

Dan hal itu diketahui oleh semut. Karenanya ia masih tidak percaya seratus persen kepada janji Sulaiman, bukan karena khawatir Nabi Sulaiman tidak memmenuhi janjinya, namun kekhawatiran sang semut karena sifat kemanusiaan yang ada pada Sulaiman. Beserah diri bulat-bulat/pasrah atau tawakkal hanyalah kepada Allah, bukan kepada manusia-siapaun dia. Firman Allah ” Karena itu hendaklah orang-orang yang beriman berserah diri hanya kepada Allah saja .” (Q.S.2.A.160).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi Saw. Bersabda, ” Telah diperlihatkan kepadaku semua umat di tempat berkumpul haji. Kulihat umatku memenuhi lembah dan gunung-gunung. Jumlah dan penampilan mereka mengagumkan hatiku . Aku ditanya, ‘Apakah engkau ridho?’ Aku menjawab, ‘ya’. Bersama dengan mereka akan ada tujuhpuluh ribu orang yang masuk surga tanpa dihisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah berobat dengan besi panas, tidak pernah mencari ramalan dengan burung (ramalan nasib), dan tidak pernah pula mencuri, dan mereka hanya bertawakkal kepada Allah.” Hadits riwayat Tabrani. Hadis semakna juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan juga dikeluarkan imam Ahmad.

Apa yang diajarkan oleh semut kepada Nabi Sulaiman intinya adalah bagaimana seseorang dalam menyikapi segala sesuatu baik yang berupa ikhtiar/usaha maupun do’a, semuanya harus dikembalikan kepada pemiliknya yaitu, Allah Swt.

Inilah sikap mental orang yang benar-benar beriman yang dengan lisan mengakui ke Mahakuasaan dan keMaha Besaran Allah yang dengannya setiap orang harus melepaskan diri dari ikatan-ikatan kepada manusia, jabatan atau status apapun itu.

Karena manusia tidak memiliki kekuasaan untuk menjamin keberlangsungan sesuatu. Sebagaimana firman Allah yang selalu diwiridkan setiap selesai shalat, ” Kulillahumma malikal mulki tuktil mulka mantasya’, watanzi’ul mulka mimman tasya’, watu’izzu mantasya’ , watudzillu mantasya’u biyadikal khoir, innaka ‘ala kulli syaiing qodiir “/Katakanlah, wahai Tuhan yang memiliki kerajaan/pemerintahan, Engkau beri kerjaan/pemerintahan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut/tarik kerajaan/pemerintahan dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau muliyakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Ditangan Engkaulah wahai Tuhan segala kebajikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Q.S.3.A.26.

Ibnu Atha’ berkata, ” Tawakkal ialah, jika engkau tidak mempunyai kecenderungan kepada sebab-sebab tertentu, sekalipun engkau sangat membutuhkannya. Hakikat kedamaian tidak akan beralih kepada kebenaran selagi engkau mengandalkan sebab-sebab itu “.

Abu Ali ad Daqqaq berkata, ” Ada tiga tingkatan bagi orang yang bertawakkal, 1. Tawakkal itu sendiri, yaitu merasa tenteram dengan Janji Allah, 2) taslim yaitu merasa cukup dengan pengetahuan Allah, 3) tafwidh yaitu merasa puas dengan kebijaksanaan Allah “.

Wallohu a’lam. Innal hamdulillahi robbil álamin subhanakallohumma wabihamdika asyhadu an la ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaih.

(am)

Entry filed under: Tasawuf. Tags: .

Tuhan Menciptakan Kejahatan? Nabi Yusuf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Maret 2007
S S R K J S M
« Agu   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 611,397 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: