SI LUMPUH DAN SI BUTA

Maret 30, 2007 at 9:50 am 1 komentar

Pada suatu hari seorang lumpuh pergi ke  sebuah  warung  dan duduk  disamping  seseorang  yang  sudah  sejak tadi disana.
"Saya tidak bisa datang ke pesta Sultan,"  keluhnya,  karena kakiku yang lumpuh sebelah ini aku tak bisa berjalan cepat."
 
Orang  disebelahnya  itu  mengangkat kepalanya. "Saya pun di undang,"  katanya,  "tetapi  keadaanku  lebih   buruk   dari Saudara.  Saya  buta,  dan  tak bisa melihat jalan, meskipun saya juga diundang."
 
Orang ketiga, yang mendengar  percakapan  kedua  orang  itu, berkata,  "Tetapi,  kalau  saja  kalian menyadarinya, kalian berdua mempunyai sarana untuk  mencapai  tujuan.  Yang  buta bisa  berjalan, yang lumpuh didukung di pungung. Kalian bisa menggunakan kaki si Buta, dan Si  Lumpuh  untuk  menunjukkan
jalan."
 
Dengan  cara itulah keduanya bisa mencapai tujuan, dan pesta sudah menanti.
 
Dalam perjalanan, keduanya sempat berhenti di sebuah  warung lain.  Mereka  menjelaskan  keadaannya kepada dua orang lain yang duduk bersedih disana. Kedua orang  itu,  yang  seorang tuli,  yang lain bisu. Keduanya juga diundang ke pesta. Yang bisu mendengar,  tetapi  tidak  bisa  menjelaskannya  kepada
temannya  yang tuli itu. Yang tuli bisa bicara, tetapi tidak ada yang bisa dikatakannya.
 
Kedua orang itu tak ada yang bisa  datang  ke  pesta;  sebab kali  ini  tak ada orang ketiga yang bisa menjelaskan kepada mereka bahwa ada  masalah,  apalagi  bagaimana  cara  mereka memecahkan masalah itu.
 
Catatan
 
Dikisahkan  bahwa Abdul Kadir yang Agung meninggalkan sebuah jubah Sufi  yang  bertambal-tambal  untuk  diberikan  kepada calon  pemakainya  yang  baru  akan  lahir  enam ratus tahun setelah kematian Sufi Agung itu.
 
Pada  tahun  1563,  Sayid  Iskandar  Syah,  Qadiri,  setelah mendapat  kepercayaan  ini,  menunjuk  Syeh Ahmad Faruk dari Sirhind sebagai pewaris mantel itu.
 
Guru Naqshibandi ini telah ditahbiskan menjadi anggota  enam belas  Kaum  Sufi  oleh  ayahnya,  yang  telah  mencari  dan membangkitkan kembali adat dan pengetahuan Sufisme sepanjang pengembaraannya yang jauh dan berbahaya.
 
Orang percaya bahwa Sirhind merupakan tempat yang ditentukan munculnya Guru Agung,  dan  turun-temurun  orang-orang  suci telah menanti perwujudan itu.
 
Sebagai  akibat dari munculnya Faruqi dan penerimaannya oleh semua Kaum pada masanya, Kaum  Naqshibandi  kini  meresmikan pengikut-pengikutnya   menjadi   empat   jalur  utama  dalam Sufisme: Chishti, Qadiri, Suhrawardi, dan Naqshibandi.
 
"Si Lumpuh dan Si Buta" dianggap sebagai ciptaan Syeh  Ahmad Faruk,  yang  meninggal  tahun  1615.  Kisah  ini baru boleh dibaca setelah menerima perintah untuk membacanya: atau oleh mereka   yang   telah   mempelajari   Karya   Hakim   Sanai, "Orang-orang Buta dan Gajah."

 

Entry filed under: Kisah-Kisah Sufi. Tags: .

ISA DAN ORANG-ORANG BIMBANG Kisah-Kisah Sufi :: Orang yang Berjalan di Atas Air

1 Komentar Add your own

  • 1. hely  |  Agustus 15, 2007 pukul 6:04 am

    Very nice work, admin 🙂 Good luck!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Maret 2007
S S R K J S M
« Agu   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 612,899 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: