Archive for Agustus, 2010
Pengertian Ilmu Tasawuf
Menurut Etimologi
Ada beberapa sumber tentang pengertian Tasawuf menurut etimologi, diantaranya berkata bahwa tasawuf berasal dari kata “Sufi”. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf, bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa, yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.
Yang lain menyarankan bahwa etimologi dari Sufi berasal dari “Ashab al-Suffa” (“Sahabat Beranda”) atau “Ahl al-Suffa” (“Orang orang beranda”), yang mana adalah sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda Masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berzikir dan berdo’a.
Menurut Terminologi
Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlaq, membangun zhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagiaan yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi kesenangan duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam.
Tarekat (berbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syi’ah, Sunni
dan organisasi Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. pemikiran sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia. Artikel selanjutnya silahkan download
Pesikologi Islam
Islamisasi ilmu pengetahuan mendorong kejian Psikologi Agama dan Kesehatan Mental mengalami Shifting Paradigm. Ketika psikologi
agama dan kesehatan mental masuk dalam ruang islamisasi, keduanya semakin intensif berdialog dengan ajaran agama Islam secara menyeluruh yang mencakup aqidah, syariat, dan akhlak (hakikat, tasawuf).
Dampaknya, Psikologi agama tidak hanya menggunakan paradigma
epistimologi humanistik yang cenderung materialistik-ateis, melainkan juga menggunakan paradigma epistimologi meta-empirik, epistimologi spiritual. Kesehatan mental bersama Psikologi Agama secara bersinergi mulai mendiskusikan dan melibatkan ’pengaruh ajaran Islam’, termasuk ajaran sufistik, terhadap orang yang meyakininya dalam pengembangan
studinya. artikelnya and sumbernya silahkan download





