Syeikh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi dan Keramatnya

Juli 5, 2008 at 6:11 am 18 komentar

Syeikh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi adalah seorang wali qutub yang masyhur hidup pada tahun 717-791 H di desa Qoshrul ‘Arifan, Bukhara, Rusia. Beliau adalah pendiri Tariqah Naqsyabandiyah sebuah tariqah yang sangat terkenal dengan pengikut sampai jutaan jama’ah dan tersebar sampai ke Indonesia hingga saat ini.

Syekh Muhammmad Baba as Samasiy adalah guru pertama kali dari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. yang telah mengetahui sebelumnya tentang akan lahirnya seseorang yang akan menjadi orang besar, yang mulia dan agung baik disisi Allah Swt. maupun dihadapan sesama manusia di desa Qoshrul Arifan yang tidak lain adalah Syekh Bahauddin.

Di dalam asuhan, didikan dan gemblengan dari Syekh Muhammad Baba inilah Syekh Muhammad Bahauddin mencapai keberhasilan di dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. sampai Syekh Muhammad Baba menganugerahinya sebuah “kopiah wasiat al Azizan” yang membuat cita-citanya untuk lebih dekat dan wusul kepada Allah Swt. semakin meningkat dan bertambah kuat. Hingga pada suatu saat, Syekh Muhammad Bahauddin Ra. melaksanakan sholat lail di Masjid. Dalam salah satu sujudnya hati beliau bergetar dengan getaran yang sangat menyejukkan sampai terasa hadir dihadapan Allah (tadhoru’). Saat itu beliau berdo’a, “Ya Allah berilah aku kekuatan untuk menerima bala’ dan cobaanya mahabbbah (cinta kepada Allah)”.
Setelah subuh, Syekh Muhammad Baba yang memang seorang waliyullah yang kasyaf (mengetahui yang ghoib dan yang akan terjadi) berkata kepada Syekh Bahauddin, “Sebaiknya kamu dalam berdo’a begini, “Ya Allah berilah aku apa saja yang Engkau ridloi”. Karena Allah tidak ridlo jika hamba-Nya terkena bala’ dan kalau memberi cobaan, maka juga memberi kekuatan dan memberikan kepahaman terhadap hikmahnya”. Sejak saat itu Syekh Bahauddin seringkali berdo’a sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Syekh Muhammad baba.

Untuk lebih berhasil dalam pendekatan diri kepada Sang Kholiq, Syekh Bahauddin seringkali berkholwat menyepikan hatinya dari keramaian dan kesibukan dunia. Ketika beliau berkholwat dengan beberapa sahabatnya, waktu itu ada keinginan yang cukup kuat dalam diri Syekh Bahauddin untuk bercakap-cakap. Saat itulah secara tiba-tiba ada suara yang tertuju pada beliau, “He, sekarang kamu sudah waktunya untuk berpaling dari sesuatu selain Aku (Allah)”. Setelah mendengar suara tersebut, hati Syekh Bahauddin langsung bergetar dengan kencangnya, tubuhnya menggigil, perasaannya tidak menentu hingga beliau berjalan kesana kemari seperti orang bingung. Setelah merasa cukup tenang, Syekh Bahauddin menyiram tubuhnya lalu wudlu dan mengerjakan sholat sunah dua rokaat. Dalam sholat inilah beliau merasakan kekhusukan yang luar biasa, seolah-olah beliau berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.

Saat Syekh Bahauddin mengalami jadzab1 yang pertama kali beliau mendengar suara, “Mengapa kamu menjalankan thoriq yang seperti itu ? “Biar tercapai tujuanku’, jawab Syekh Muhammad Bahauddin. Terdengar lagi suara, “Jika demikian maka semua perintah-Ku harus dijalankan. Syekh Muhammad Bahauddin berkata “Ya Allah, aku akan melaksanakan semampuku dan ternyata sampai 15 hari lamanya beliau masih merasa keberatan. Terus terdengar lagi suara, “Ya sudah, sekarang apa yang ingin kamu tuju ? Syekh Bahauddin menjawab, “Aku ingin thoriqoh yang setiap orang bisa menjalankan dan bisa mudah wushul ilallah”.

Hingga pada suatu malam saat berziarah di makam Syekh Muhammad Wasi’, beliau melihat lampunya kurang terang padahal minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang. Tak lama kemudian ada isyarat untuk pindah berziarah ke makam Syekh Ahmad al Ahfar Buli, tetapi disini lampunya juga seperti tadi. Terus Syekh Bahauddin diajak oleh dua orang ke makam Syekh Muzdakhin, disini lampunya juga sama seperti tadi, sampai tak terasa hati Syekh Bahauddin berkata, “Isyarat apakah ini ?”

Kemudian Syekh Bahauddin, duduk menghadap kiblat sambil bertawajuh dan tanpa sadar beliau melihat pagar tembok terkuak secara perlahan-lahan, mulailah terlihat sebuah kursi yang cukup tinggi sedang diduduki oleh seseorang yang sangat berwibawa dimana wajahnya terpancar nur yang berkilau. Disamping kanan dan kirinya terdapat beberapa jamaah termasuk guru beliau yang telah wafat, Syekh Muhammad Baba.

Salah satu dari mereka berkata, “Orang mulia ini adalah Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy dan yang lain adalah kholifahnya. Lalu ada yang menunjuk, ini Syekh Ahmad Shodiq, Syekh Auliya’ Kabir, ini Syekh Mahmud al Anjir dan ini Syekh Muhammad Baba yang ketika kamu hidup telah menjadi gurumu. Kemudian Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang dialami Syekh Muhammad Bahauddin, “Sesunguhnya lampu yang kamu lihat tadi merupakan perlambang bahwa keadaanmu itu sebetulnya terlihat kuat untuk menerima thoriqoh ini, akan tetapi masih membutuhkan dan harus menambah kesungguhan sehingga betul-betul siap. Untuk itu kamu harus betul-betul menjalankan 3 perkara :

1. Istiqomah mengukuhkan syariat.
2. Beramar Ma’ruf Nahi mungkar.
3. Menetapi azimah (kesungguhan) dengan arti menjalankan agama dengan mantap tanpa memilih yang ringan-ringan apalagi yang bid’ah dan berpedoman pada perilaku Rasulullah Saw. dan para sahabat Ra.

Kemudian untuk membuktikan kebenaran pertemuan kasyaf ini, besok pagi berangkatlah kamu untuk sowan ke Syekh Maulana Syamsudin al An-Yakutiy, di sana nanti haturkanlah kejadian pertemuan ini. Kemudian besoknya lagi, berangkatlah lagi ke Sayyid Amir Kilal di desa Nasaf dan bawalah kopiah wasiat al Azizan dan letakkanlah dihadapan beliau dan kamu tidak perlu berkata apa-apa, nanti beliau sudah tahu sendiri”.

Syekh Bahauddin setelah bertemu dengan Sayyid Amir Kilal segera meletakkan “kopiah wasiat al Azizan” pemberian dari gurunya. Saat melihat kopiah wasiat al Azizan, Sayyid Amir Kilal mengetahui bahwa orang yang ada didepannya adalah syekh Bahauddin yang telah diwasiatkan oleh Syekh Muhammad Baba sebelum wafat untuk meneruskan mendidiknya.

Syekh Bahauddiin di didik pertama kali oleh Sayyid Amir Kilal dengan kholwat selama sepuluh hari, selanjutnya dzikir nafi itsbat dengan sirri. Setelah semua dijalankan dengan kesungguhan dan berhasil, kemudian beliau disuruh memantapkannnya lagi dengan tambahan pelajaran beberapa ilmu seperti, ilmu syariat, hadist-hadist dan akhlaqnya Rasulullah Saw. dan para sahabat. Setelah semua perintah dari Syekh Abdul Kholiq di dalam alam kasyaf itu benar–benar dijalankan dengan kesungguhan oleh Syekh Bahauddin mulai jelas itu adalah hal yang nyata dan semua sukses bahkan beliau mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Jadi toriqoh An Naqsyabandiy itu jalur ke atas dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al Ghojdawaniy ke atasnya lagi dari Syekh Yusuf al Hamadaniy seorang Wali Qutub masyhur sebelum Syekh Abdul Qodir al Jailaniy. Syekh Yusuf al Hamadaniy ini kalau berkata mati kepada seseorang maka mati seketika, berkata hidup ya langsung hidup kembali, lalu naiknya lagi melalui Syekh Abu Yazid al Busthomi naik sampai sahabat Abu Bakar Shiddiq Ra. Adapun dzikir sirri itu asalnya dari Syekh Muhammad Abdul Kholiq al ghojdawaniy yang mengaji tafsir di hadapan Syekh Sodruddin. Pada saat sampai ayat, “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan cara tadhorru’ dan menyamarkan diri”…

Lalu beliau berkata bagaimana haqiqatnya dzikir khofiy /dzikir sirri dan kaifiyahnya itu ? jawab sang guru : o, itu ilmu laduni dan insya Allah kamu akan diajari dzikir khofiy. Akhirnya yang memberi pelajaran langsung adalah nabi Khidhir as.

Pada suatu hari Syekh Muhammad Bahauddin Ra. bersama salah seorang sahabat karib yang bernama Muhammad Zahid pergi ke Padang pasir dengan membawa cangkul. Kemudian ada hal yang mengharuskannya untuk membuang cangkul tersebut. Lalu berbicara tentang ma’rifat sampai datang dalam pembicaraan tentang ubudiyah “Lha kalau sekarang pembicaraan kita sampai begini kan berarti sudah sampai derajat yang kalau mengatakan kepada teman, matilah, maka akan mati seketika”. Lalu tanpa sengaja Syekh Muhammad Bahauddin berkata kepada Muhammad Zahid, “matilah kamu!, Seketika itu Muhammad Zahid mati dari pagi sampai waktu dhuhur.

Melihat hal tersebut Syekh Muhammad Bahauddin Ra. menjadi kebingungan, apalagi melihat mayat temannya yang telah berubah terkena panasnya matahari. Tiba-tiba ada ilham “He, Muhammad, berkatalah ahyi (hiduplah kamu). Kemudian Syekh Muhammad Bahauddin Ra. berkata ahyi sebanyak 3 kali, saat itulah terlihat mayat Muhammad Zahid mulai bergerak sedikit demi sedikit hingga kembali seperti semula. Ini adalah pengalaman pertama kali Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang Wali yang sangat mustajab do’anya.

Syekh Tajuddin salah satu santri Syekh Muhammad Bahauddin Ra berkata, “Ketika aku disuruh guruku, dari Qoshrul ‘Arifan menuju Bukhara yang jaraknya hanya satu pos aku jalankan dengan sangat cepat, karena aku berjalan sambil terbang di udara. Suatu ketika saat aku terbang ke Bukhara, dalam perjalanan terbang tersebut aku bertemu dengan guruku. Semenjak itu kekuatanku untuk terbang di cabut oleh Syekh Muhammad Bahauddin Ra, dan seketika itu aku tidak bisa terbang sampai saat ini”.

Berkata Afif ad Dikaroniy, “Pada suatu hari aku berziarah ke Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Lalu ada orang yang menjelek-jelekkan beliau. Aku peringatkan, kamu jangan berkata jelek terhadap Syekh Muhammad Bahauddin Ra. dan jangan kurang tata kramanya kepada kekasih Allah. Dia tidak mau tunduk dengan peringatanku, lalu seketika itu ada serangga datang dan menyengat dia terus menerus. Dia meratap kesakitan lalu bertaubat, kemudian sembuh dengan seketika. Demikian kisah keramatnya Syekh Muhammad Bahauddin Ra. Rodiyallah ‘anhu wa a’aada a‘lainaa min barokaatihi wa anwaarihi wa asroorihii wa ‘uluumihii wa akhlaaqihi allahuma amiin.

sumber : http://tamanulama.blogspot.com

About these ads

Entry filed under: Ulama Besar. Tags: .

3 AMALAN YANG BERKAT Junaid Al-Baghdadi

18 Komentar Add your own

  • 1. respandri  |  Agustus 2, 2008 pukul 8:26 am

    trimakasih atas ilmu yang anda berikan….tolomg kirimkan ke e-mail saya nama-nama tokoh sufi yang terkenal didunia. thanks

    Balas
  • 2. ….i L h a M…. » Blog Archive » tipu daya….  |  September 7, 2008 pukul 10:02 pm

    [...] Syeikh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi dan Keramatnya [...]

    Balas
  • 3. salamminden  |  April 3, 2009 pukul 2:34 pm

    assalamualikum…minta izin nak copy entry ni.ada tak maklumat khusus berkenaan dengan tarekat naqsyabandy al-khalidy? ana sertakan sekali email ana,mohon dihantar ke email jika tidak keberatan.trmakasih

    Balas
  • 4. Andi Muhammad Ali  |  September 6, 2009 pukul 9:21 pm

    Terima kasih atas informasinya, tolong kirimkan tulisan ini ke alamat blog saya.

    Balas
  • 5. abumaksum  |  Oktober 5, 2010 pukul 1:09 am

    mohon infomasi kitab kitab yang merangkan dalil dalil toriqoh
    tks

    Balas
  • 6. Noviar Modjo  |  Januari 27, 2011 pukul 2:22 pm

    terimakasih tulisannya. Tolong kirim ke email saya. Karena saya sedang mengumpulkan sejarah/riwayat para tokoh sufi…
    Terimakasih

    Balas
  • 7. suja'i  |  Maret 2, 2011 pukul 10:40 am

    Saya meragukan kebenaran cerita ini dan meragukan keislaman para tokoh-tokoh yang disebutkan. karena sepanjang pengetahuan saya, sejak Rasulullah wafat, tidak pernah saya dengar upaya para sahabat untuk berziarah ke makam Rasul. semntara tingkatan Rasul jauh di atas tokoh-tokoh yang anda sebut. Dan ajaran sufi baru berkembang setelah zaman Ali. Terima kasih

    Balas
  • 8. Kuswandi fridàyanto  |  Maret 15, 2011 pukul 3:13 pm

    Subhanallah…
    Klo ngliat iman seorang ulama’ mashur bulu kuduk lgsg merinding.dan mrasa imanku blm ada apa2’a dari setitik kyakinan mreka…
    ya Allah tunjukilah aku sperti apa yg telah kau berikan kpd mereka…

    Balas
  • 9. adbel  |  Mei 8, 2011 pukul 4:41 am

    ass
    sahabtku, saya sedang mencari mursyid sejati yang dapat membimbing saya menuju Alloh. bisakah sahabat membantus saya. trims. adbel 0878 7748 1078

    Balas
    • 10. baghdad  |  Juni 10, 2011 pukul 1:26 pm

      awan al lomboky ( AWAN BAGHDAD ) DI BILANG TIDAK PASTI ADA TIAP TIAP DAERAH DI NUSANTARA INI ‘JIKALAU BELIAU TIDAK ADA PASTI BUMI INI HANCUR BELIAU ITU KEKASIH ALLAH ‘SEANDAINYA BUKAN CAMPUR TANGAN PARA AULIA INDONESIA INI UDAH ANCUR DARI JAMAN BELANDA ‘SUNGGUH KITA BERSUKUR KEPADA TOKOH TOKOH SUFI DARI TIMUR TENGAH DATANG KE INDONESIA DENGAN CARA BERNIAGA TUJUAN BELIAU AGAR KITA BERIMAN KEPADA ALLAH SWT

      Balas
  • 11. Asep Hikayat  |  Juni 14, 2011 pukul 2:56 am

    sebaiknya cerita penuh takjub ini dilengkapi dengan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. terima kasih

    Balas
  • 12. Agus Prianto { ARMET }  |  September 17, 2011 pukul 9:58 am

    Berkekalanlah senantiasa dengan cahayaNya semoga kita sukses dunia dan akherat dengan memperbanyak dzikirulloh didalam qolbu rokhani..

    Balas
  • 13. taqiyyuddin  |  Oktober 4, 2011 pukul 3:20 am

    ya alloh teteskanlah barokahnya kanjeng syekh bahauddin

    Balas
  • 14. asli  |  Oktober 28, 2011 pukul 12:45 pm

    ???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????………..

    Balas
  • 15. iyan arrasyid  |  Januari 8, 2012 pukul 2:41 pm

    Suatu Kebenaran tidak didasari cerita, tapi dari dalil-dalil yang terkait dan sumber yg jelas… Sebagian benar dan sebagian lagi meragukan. “KEBENARAN membawa KETENANGAN, sedangkan DUSTA membawa KERAGU-RAGUAN”

    Balas
  • 16. Ahmad Baidhowy  |  Maret 11, 2012 pukul 3:07 pm

    minta izin copas tadz.smga mendapat barokahnya syeh bahauddin annaqsabandiy

    Balas
  • 17. supriyadi wb  |  Mei 21, 2012 pukul 7:24 pm

    Sufi adalah ruhnya Islam. Dan ini didasari dengan Iman dan Islam juga, lalu di sertai Ihsan. Mengkaji Ihsan itu dalam ruang lingkup Tasawuf. Islam ada 5 perkara, Iman ada 6 perkara, Ihsan itulah perilaku yang sempurna atau akhlakul karimah. Dan untuk yakin sampai Ihsan, hanya dalam lingkungan Ahlussunnah wal Jama’ah. Yang belum yakin tasawuf sebagai Ruhnya Islam, maka selama ini belum mendapat hidayah dan inayah-Nya. Mudahan selamat semuanya, amien.

    Balas
  • 18. Mbah Suro  |  Agustus 5, 2012 pukul 3:58 pm

    Subhanalloh … Sungguh dongeng / cerita yang menghanyutkan hati dan perasaan. Ya Alloh teguhkanlah aku, jangan Engkau sesatkan aku setelah Engkau beri aku petunjuk-Mu.Ya Alloh tunjukkanlah aku jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhoi … Aamin.

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Juli 2008
S S R K J S M
« Des   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 575,107 hits

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

This website is worth
What is your website worth?
Add to Google

Syafii Photos

Wisuda nana

ahmad23

ahmad22

More Photos

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: